Kota Pancaroba

CERPEN KEN HANGGARA

KUNJUNGAN ke Kota Pancaroba hanya kulakukan sekali seumur hidupku. Kalau saja aku tidak bertemu gadis itu, barangkali hari ini aku sudah menjadi bagian dari kota itu. Maksudku, jika tidak ada kejadian buruk, aku sudah pindah ke sana dan membangun rumah untuk menghabiskan masa tuaku.

Namun, tentu saja, rencana itu tidak pernah ada. Padahal saat pertama menginjaki tanah Kota Pancaroba, yang pertama kupikirkan adalah Tuhan, lalu surga dan segala isi di dalamnya.

Nama kota ini sungguh tidak sesuai dengan kondisi kota yang hidup dan hijau. Di mana-mana orang seakan merawat pohon sebagai kekasih mereka. Bunga-bunga segala macam jenis, kecuali yang beracun barangkali, hampir pasti dapat ditemukan di sudut mana pun yang kau mau, di Kota Pancaroba ini.

Pada saat itu aku menyesal karena baru mengunjungi kota aneh ini setelah umurku tiga puluh tahun lebih dan belum pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Aku merasa bagai lelaki bodoh yang tidak tahu apa-apa, hanya karena belum mengerti bahwa kondisi Kota Pancaroba ternyata jauh dari apa yang selama ini kuduga. Aku juga merasa kesialanku dalam soal asmara karena aku tak tahu ada kota seindah ini, sehingga kurang mendalami peranku sebagai lelaki yang membutuhkan pasangan.

“Jika saja sejak dulu aku tahu ada tempat macam ini, mungkin cara berpikirku akan lain, dan mungkin dengan demikian aku tidak akan terlalu lama hidup sendiri!” batinku saat itu.

Untuk diketahui saja, pada masa itu internet belum ada, dan aku hanyalah seorang pegawai yang lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau kamar kosku. Hidup yang begitu-begitu saja terasa sangat datar, dan lama-lama membosankan, dan aku tidak jarang membayangkan suatu hari nanti diriku mungkin gila.

Dalam kondisi demikian, aku tidak mau menambah beban dengan berita-berita apa pun di koran, yang kebanyakan tidak berguna, karena topiknya selalu soal para selebritis atau kehebatan politikus meringkus uang rakyat. Aku yakin kondisi Kota Pancaroba bisa saja kuketahui dari koran-koran itu kalau sejak dulu aku terbiasa membaca berita.

Merasa tertinggal beberapa zaman dari orang kebanyakan, aku merasa rendah diri saat sopir taksi yang mengantarku dari bandara menurunkanku di depan sebuah gedung. Kunjunganku ke Kota Pancaroba ini terkait urusan kantor, yakni menangani negosiasi di sebuah perusahaan milik kenalan bos besarku. Aku cuma perlu membawa berkas-berkas di suatu koper dan meminta seseorang di perusahaan tersebut untuk mengisinya dengan tanda tangan. Namun, rasa rendah diri ini segera luntur setelah seorang sekretaris yang menyambutku bersikap hangat kepadaku.

Singkat cerita, setelah urusan pekerjaan selesai, aku masih bisa menginap di kamar hotelku sampai beberapa hari ke depan, karena bos menyanggupi, “Sekalian kamu ambil cutimu, Bun.”

Kupikir, mengisi waktu istirahat di kota yang ternyata indah, tidak merugikan. Aku menghabiskan hari keduaku di Kota Pancaroba dengan berkeliling ke pusat seni dan aku membeli begitu banyak souvenir titipan rekan-rekan kantorku. Agaknya, sebagian besar dari mereka pernah datang kemari. Hanya saja, karena satu dan lain hal, rekan-rekanku tidak sempat ke Pancaroba. Dan mereka takut itu akan terjadi sampai bertahun-tahun ke depan.

Salah satu yang ingin kubelikan souvenir adalah Janus, bawahan bos yang biasanya paling dipercaya untuk urusan berkas penting seperti yang kali ini kubawa. Inilah yang sejak awal tidak kucurigai. Kupikir Janus ada masalah dengan bos dan aku tidak perlu tahu apa. Aku hanya mengira kunjunganku ke Pancaroba jadi semacam batu lompatan untuk membuat karirku meningkat dan tidak mengira bahwa bos mengirimku ke kota ini, kemudian Janus yang harusnya anak emas merelakan itu, adalah karena sebab yang kemudian membuatku enggan kembali kemari. Jadi, ketika teman-temanku berharap dapat kubelikan souvenir Kota Pancaroba, tak ada yang kukatakan selain, “Beres.”

Begitu menemukan barang-barang yang dimaksud, aku tahu kenapa teman-temanku begitu menggilai produk seni kota ini, karena di berbagai tempat, souvenir ini tidak pernah dibuat.
Ada tiga jenis souvenir, dan salah satu yang paling memukauku adalah gantungan kunci yang terbuat dari gigi peri. Itulah yang dikatakan penjualnya. Peri itu benar-benar nyata dan hidup di dimensi lain sampai detik ini.

“Mereka hanya akan datang pada saat-saat tertentu, dan barangsiapa memiliki gigi ini, akan terhindar dari kejahatan para musuhnya,” tuturnya dengan amat meyakinkan.

Tentu orang akan tetap mencibir soal gigi peri itu cuma palsu, jika saja souvenir yang kumaksud tidak menunjukkan khasiatnya sesegera mungkin. Para penjual barang jenis ini biasanya ditemani oleh pengawal berbadan besar. Dan pengawal itu langsung diminta memukul pembeli souvenir yang tidak percaya fakta tentang gigi peri. Pukulan itu bukan melukai para pembeli, melainkan kembali pada si pemukul dengan cara yang cukup aneh.

Aku bersumpah benar-benar melihatnya ketika pembeli bertubuh ceking justru bisa segera berbalik memukul tukang pukul tadi hingga terhuyung-huyung ke pojokan toko. Aku sendiri bahkan mengalami hal serupa; seakan-akan tubuhku dikontrol oleh tenaga gaib para peri, sehingga tinjuku yang tak pernah terlatih dapat merontokkan dua buah gigi si tukang pukul.
Mulai kali itu aku berpikir bahwa Pancaroba adalah kota yang dihuni orang-orang berkekuatan sakti. Aku tidak tahu pasti apakah semua orang di kota ini sakti, atau malah ada yang tidak sama sekali.

Hari ketiga, aku habiskan waktu dengan berjalan-jalan di berbagai tempat wisata di kota, dan taman utama untuk melihat banyak anak kecil yang bahagia. Bukan cuma para bocah yang bahagia, bahkan orang-orang seumuran diriku dapat bermain dengan asyik dan tanpa malu bersama mereka.

Hari itu juga aku berkenalan dengan gadis yang kumaksud di awal cerita ini. Gadis ini bernama Maria. Sejak lahir hidup di kota ini. Menurutnya, nyaris tidak pernah dia jumpai lelaki sepertiku.

“Maksudmu?” tanyaku penasaran.

“Yah, lelaki yang kelihatannya tidak terlalu bahagia, dan tidak terlalu mengenal apa itu cinta.”

Aku hanya sedikit heran, dan tidak terlalu kaget, karena mungkin saja orang-orang sakti di sini memang dapat membaca isi hati seseorang. Tapi, Maria tidak cukup sampai di situ. Dia terus menelusuri jati diriku sampai ke akar-akarnya. Dia terus menebak apa pun yang kurahasiakan dari siapa pun, dan hasilnya selalu tepat sasaran.

Pada akhirnya aku menyerah dan memohon padanya agar berhenti melakukan itu. Ia meminta maaf dan kami lalu berjalan berdua menyusuri tepi taman hingga sore hari.

Malamnya, kami makan bersama di sebuah kafe dan Maria berbisik di telingaku, “Aku tahu seharusnya kamu ditakdirkan hidup di tempat ini. Dan bukannya menderita di kota yang berisi orang-orang rakus seperti Janus!”

“Aku tidak pernah bicara soal Janus. Apakah kamu kenal Janus?” tanyaku.

“Kamu tahu aku bisa membaca banyak hal di kepalamu.”

Malam itu, setelah mengobrol berjam-jam dan kelelahan, kami tidur di kamar hotel yang bos sewakan untukku. Tanpa kusadari Maria mengajakku berhubungan intim, seakan-akan aku ini lelaki yang tak pernah gugup di depan kaum hawa dan berpengalaman melakukan hubungan intim.

Semua ini di luar kendaliku. Aku curiga Maria bukanlah manusia, melainkan peri, tetapi aku tidak yakin. Apakah benar aku berhubungan intim dengan peri? Aku melakukannya tanpa merasa berdosa dan tidak lagi mencoba mencari tahu siapa jati diri Maria.

Besoknya aku bangun dalam keadaan kacau. Kepalaku sangat pusing dan tubuhku berasa habis dihajar belasan lelaki kekar. Aku tidak tahu harus ke mana lagi di hari yang terakhir cutiku ini, selain duduk di kamar hotel dan, untuk pertama kalinya, menonton TV yang menayangkan berita. Tidak ada yang menarik.

Aku sudah mengunjungi banyak tempat selama hari ketiga kemarin. Setelah Maria berhubungan intim denganku, rasanya ada sesuatu yang aneh. Aku cari-cari gadis itu di seluruh bagian kamar, sudah tidak ada. Dia juga tidak meninggalkan pesan apa pun untukku.
Sayang sekali, padahal aku sempat berharap dapat menjadikannya pacar. Akhirnya, hari itu juga aku pulang dengan perasaan yang aneh. Ada bagian yang kosong di dadaku. Seperti ada sesuatu yang tertinggal dan harus kubawa pulang, namun sesuatu itu enggan kubawa pulang, sehingga dengan kata lain: mustahil bagiku untuk pergi.

Tetapi, aku toh pergi juga. Aku memanggil taksi dan menghabiskan waktu di kursi belakang dengan melamunkan kondisi Kota Pancaroba beserta hal-hal yang kota ini beri untukku. Ia memberiku pemandangan dan pengalaman indah tentang bagaimana sebuah kota seharusnya dibangun, tapi juga menggariskan rajah di dadaku tentang wanita yang mendadak hilang, padahal aku amat menginginkannya.

Sampai di sini, kejadian buruk yang kumaksud belumlah kusadari. Aku bahkan tak mengira ada yang salah sampai kembali bekerja selama dua atau tiga hari di kantor. Bos dan rekan-rekanku bersikap aneh sejak kedatanganku. Seakan-akan aku ini barang ajaib dan langka. Seakan-akan mereka punya pemikiran, “Harusnya anak ini mati.” Benarkah? Harusnya anak ini mati.

Entah bagaimana aku menduga itulah yang memang mereka katakan. Aku tak tahu bagaimana kemudian aku dapat membaca pikiran beberapa orang, dan itu benar-benar akurat. Tujuh hari usai berhubungan intim dengan Maria, aku demam karena heran akan kondisiku. Jimat gigi peri milikku kubuang, tetapi aku masih saja bisa membaca pikiran orang.

Dua minggu sekembaliku dari Kota Pancaroba, perutku berasa bagai ditiup dari dalam.
Aku ke dokter dan menyadari bahwa ternyata inilah puncaknya. Dokter bilang, “Anda hamil.”
Aku kira dia cuma bercanda, tetapi dokter bersumpah memang itulah yang terjadi. Dia bahkan hampir menduga bahwa diriku ini perempuan. Sampai dengan gusar kulepas celanaku. Kubuktikan padanya bahwa aku adalah lelaki. ***

Gempol, 8 Oktober 2017

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, Jawa Timur 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, review film, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Buku karyanya Museum Anomali (Unsa Press, 2016) dan Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Penerbit Basabasi, 2017).

Redaksi menerima kiriman cerpen dari pembaca. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Lengkapi naskah dengan fotokopi identitas diri dan nomor ponsel. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com