Komoditas PisangTumpuan Biaya Pendidikan Bagi Anak Petani Penengahan

LAMPUNG — Hasil pertanian di wilayah kecamatan Penengahan kabupaten Lampung Selatan masih dipergunakan oleh petani sebagai sumber pemenuhan kebutuhan sehari hari bahkan dominan untuk biaya pendidikan bagi anak anaknya.

Zulkifli (40) salah seorang warga desa Penengahan adalah di antara komoditas pisang sebagai sumber penghasilan. Ayah dari dua anak ini memiliki lahan tanaman pisang pada dua lokasi, yaitu di desa Tanjung Heran dan desa Penengahan dengan luas sekitar satu hektar. Zulkifli menyekolahkan anaknya sejak jenjang SD hingga kuliah dirinya penjualan hasil pertanian berupa kopi arabica dan tanaman pisang.

“Hasil panen pisang dari kebun perbulan sudah cukup untuk membiayai keperluan sehari hari dan bahkan pendidikan anak rata rata warga di wilayah ini. Turun temurun masyarkat di sini mengandalkan penjualan hasil pertanian,” beber Zulkifli saat ditemui Cendana News, Kamis (30/11/2017)

Pada Oktober ini ia berhasil memanen pisang dengan jumlah tandan mencapai ratusan tandan berbagai kelas dan varietas dengan bobot beberapa ratus kilogram, sehingga dirinya memperoleh uang hasil panen sekitar Rp1.000.000 dari 250 batang pisang jenis Ambon, Janten, Raja Serai, Kepok,Muli serta berbagai jenis pisang lain.

Saat November inihasil panen pisang di kebunnya cukup merosot dengan perolehan saat sekitar Rp560.000 atau ada penurunan hingga 50 persen. Faktor cuaca akibat hujan disertai angin berimbas beberapa pohon pisang miliknya menghasilkan buah yang minim dan beberapa di antaranya terkena serangan hama bajing sehingga tidak layak dijual.

Uang hasil penjualan pisang dipergunakan untuk pengeluaran keperluan anaknya sekolah sebesar Rp25.000 per hari termasuk biaya sekolah yang bisa menghabiskan jutaan rupiah, biaya keperluan sehari hari seperti membayar listrik bulanan, keperluan dapur membeli bumbu dapur, lauk pauk, bahan bakar elpiji serta keperluan lain.

Selain mengandalkan komoditas pisang, dia juga menjadikan hasil pertanian padi sawah sebagaiinvestasi jangka menengah yang bisa dipergunakan untuk keperluan yang lebih besar.

“Saat ini biaya pendidikan anak dengan berbagai keperluan yang dibutuhkan anak orangtua harus pintar pintar mencari sumber penghasilan dan kami petani bisa memperoleh uang dari menanam berbagai jenis komoditas pertanian bernilai jual,” tutur Zulkifli.

Babe,salah satu warga desa Tanjung Heran yang mengandalkan pisang sebagai sumber penghasilan menyebut tanaman pisang masih menjadi pilihan investasi untuk pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Pisang bisa dipanen setiap umur 25 hari sekali atau sebulan sekali panen jenis pisang Ambon, Kepok. Namun untuk jenis pisang Muli bisa dipanen setiap 15 hari sekali dengan resiko lebih cepat matang.

“Syaratnya panen pisang muli harus dipanen dengan kualitas jangan terlalu tua karena akan matang saat dalam perjalanan sehingga merugikan berbeda dengan jenis pisang lain namun dari petani semakin cepat menjual akan memperoleh uang,”terang Babe.

Bagi sebagian warga mengandalkan hasil pertanian pisang sebagai sumber penghasilan akan lebih cepat sehingga warga tidak harus tergantung dengan sistem pembiayaan dengan pinjaman dari rentenir atau bank untuk pemenuhan kebutuhan. Keberadaan para pengepul hasik bumi berupa pisang,kelapa dan sayuran bahkan ikut membantu warga memperoleh uang dengan cepat dengan jaminan nota atau semacam resi dari penjualan pisang dan hasil pertanian lainnya.

Iwan (35) salah satu pengepul hasil bumi pemilik Asyifa KPS (Kelapa,Pisang, Sayuran) menyebut dari beberapa pengepul pisang di Penengahan hanya ada dua pembeli yang secara khusus membeli pisang dengan sistem timbangan. Sistem timbangan diakuinya cukup menguntungkan petani karena akan menanam pisang dengan mempertahankan kualitas buah di tandan untuk memperoleh bobot yang maksimal.

“Banyak pembeli pisang masih membeli pisang dengan sistem tandan sehingga kualitas pisang muda dan belum layak untuk dijadikan pisang buah sudah dibeli sementara kita fokus untuk pisang buah segar sehingga memakai sistem timbangan,” ujar Iwan.

Sistem timbangan diakuinya tetap memperhatikan kualitas pisang dengan jenis pisang yang dibeli meliputi pisang Ambon, Janten, Raja Nangka, Kepok, Serai dengan berbagai kelas. Pada musim kali ini ia memastikan harga pisang cukup stabil di antaranya jenis pisang Ambon mencapai harga Rp2.400 per kilogram, pisang super Rp2.000 per kilogram.

Sementara untuk pisang Tanduk dibandroll seharga  Rp2.500 per kilogram, pisang Rames Rp1.200 per kilogram, pisang nangka Rp1.000 perkilogram. Jenis kelapa kelas A dan B dibelinya Rp5.500 per gandeng dan kelas C Rp3.200 per gandeng.

Harga komoditas pertanian tersebut bisa berubah sewaktu waktu menyesuaikan harga pasar dan kondisi pasokan barang di lapangan. Sebagian petani terkadang sengaja menjual komoditas pertanian kepadanya layaknya sebagai bank dengan sistem menyimpan nota penjualan. Nota itu akan dicairkan saat jumlah mencapai lebih dari Rp3 juta karena beberapa di antaranya ada yang menjual pisang, kelapa dengan nota rata rata Rp500.000 dan baru akan dicairkan setelah genap mencapai Rp3juta.

“Biasanya baru akan diambil saat petani membutuhkan biaya besar diantaranya keperluan kuliah anak sehingga pengepul sekaligus bisa menjadi tempat menabung,” tutup pemilik tempat jual beli hasil pertanian Asyifa KPS tersebut.

Iwan,pengepul hasil pertanian tengah menimbang pisang milik petani yang menjual hasil bumi ke tempat pengepulan miliknya /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...