Kemeriahan Hari Suci Galungan di Lampung

LAMPUNG — Pan Widi (60) dan Nyoman Suwita (58) merupakan warga Dusun Buana Nirwana Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan yang tengah berkumpul bersama seluruh anggota keluarganya seusai melakukan persembahyangan bertepatan dengan Hari Raya Galungan.

Menurut Pan Widi Hari Raya Galungan menjadi sebuah hari raya terbesar umat Hindu di antara hari raya seperti Nyepi dan Kuningan. Tak terkecuali yang menetap di wilayah Lampung.

Sebelum berkumpul dengan keluarga umat Hindu pada hari suci Galungan Pan Widi mengenakan busana adar didominasi warna putih dan menjunjung banten (sesajen) untuk pergi ke Pura Desa Kayangan Tri Tunggal bersama ratusan umat Hindu lain.

Mereka menyesuaikan jadwal setiap pura, ada yang pagi sebagian sore hingga malam setelah itu melakukan doa di merajan/sanggah (pura keluarga). Semarak di perkampungan warga Hindu Bali terlihat di Desa Sripendowo, Bangunrejo, Sumbernadi, Ketapang, Sumur, Ruguk terlihat semarak dan meriah dengan hiasan penjor sebagai lambang kemakmuran yang dipasang di setiap depan rumah warga.

“Khusus untuk desa kami Bangunrejo persembahyangan di Kayangan Tri Tunggal atau pura desa dilakukan pagi hari namun beberapa tempat persembahyangan dilakukan sore hari menyesuaikan kondisi masyarakat,” ungkap Pan Widi saat ditemui Cendana News, Rabu (1/11/2017)

Dusun Buana Nirwana yang saat ini berjumlah sekitar 80 kepala keluarga pemeluk agama Hindu diakui Pan Widi merupakan salah satu wilayah dari wilayah lain yang didominasi pemeluk agama Hindu sebagian merupakan transmigran gelombang ketiga dari Provinsi Bali.

Pan Widi bahkan sudah sejak bujang telah tinggal di Lampung sejak tahun 1963 yang menjadi transmigran dari dampak letusan Gunung Agung dan menetap pertama kali di Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Tengah lalu tinggal di Lampung Selatan.

Perayaan hari suci Galungan sebagai “lebaran” umat Hindu diakui Pan Widi sangat kental di perkampungan warga dengan dominasi suku Bali sehingga silaturahmi dan kebersamaan seusai doa bersama sangat kental.

Bersama keluarga laki laki yang sudah menjadi kakek dan memiliki sebanyak 4 anak dan sebanyak 9 cucu tersebut bahkan berkumpul dengan saling sungkem,memaafkan dilanjutkan makan bersama yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya berupa nasi putih dan opor ayam serta lawaran.

Sehari sebelum Galungan persiapan pembersihan pura keluarga, penyiapan penjor bahkan telah dilakukan selanjutnya paska berdoa bersama dan berkumpul dengan keluarga tradisi saling berkunjung dilakukan.

Beberapa rumah bahkan menyiapkan kue kue, minuman serta sajian lain untuk tamu yang berkunjung selama hari suci Galungan yang bahkan bisa berlangsung hingga dua hari ke depan.

“Hari suci Galungan menjadi saat yang ditunggu terutama bagi anak anak sekaligus ajang silaturahmi keluarga bahkan di kecamatan Ketapang sebagian sekolah libur terutama wilayah yang mayoritas beragama Hindu khususnya di wilayah Sumbernadi,” terang Pan Widi.

Secara khusus pada hari suci Galungan ia mengaku umat Hindu wajib melakukan intropeksi diri agar bisa mengetahui kebenaran yang hakiki sebagai umat Hindu serta menciptakan toleransi sebagai perwujudan melawan adharma (keburukan) atas kemenangan dharma (kebaikan) serta ikut bersyukur atas kemakmuran yang diberikan Sang Hyang Widhi Wasa,Tuhan Yang Maha Esa.

Pan Widi (baju putih) berkumpul bersama keluarga besarnya merayakan Hari Suci Galungan /Foto: Henk Widi.

Niluh salah satu anak kelas 7 SMP di Kecamatan Ketapang yang ikut merayakan Galungan dan sudah bersilaturahmi ke beberapa rumah mengaku senang dengan adanya tradisi orangtua atau orang yang sudah bekerja memberikan Dana Punia.

Dana Punia atau semacam salam tempel bagi anak anak. Makna dana punia yang diterima merupakan wujud syukur dan memberikan kelebihan rejeki atas pekerjaan yang dilakukan dan kerap diberikan kepada anak anak.

“Setelah mendapat uang saya bersama kawan kawan bisa membeli makanan kesukaan sebagian ditabung untuk sekolah,” ungkap Niluh.

Niluh menyebut dengan adanya hari raya Galungan sekolahnya bahkan diliburkan karena menjadi hari raya sekaligus libur fluktuatif di sekolah yang didominasi pemeluk agama Hindu di wilayah tersebut.

Kemeriahan dari pantauan Cendana News terlihat di beberapa desa dan keceriaan anak anak yang berkunjung ke rumah rumah warga untuk silaturahmi pada hari suci Galungan tersebut.

Kemeriahan suasana hari suci Galungan dihiasi penjor di sejumlah desa di Kecamatan Ketapang Lampung Selatan /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...