Kemensos: Mayoritas Pengungsi Tembagapura Alami Kecemasan
TIMIKA — Mayoritas para pengungsi asal Kampung Banti, Kimbeli dan Opitawak, Distrik Tembagapura yang kini dievakuasi ke Timika, Papua mengalami cemas dan rasa takut berlebihan, demikian hasil penilaian cepat Kementerian Sosial Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial Milly Mildawati di Timika, Sabtu, mengatakan anak-anak pengungsi dari Tembagapura itu mengalami ketakutan mendengar suara keras seperti suara teriakan.
“Kalau dengar suara teriakan, mereka akan segera berlari,” kata Milly.
Ia mengatakan kondisi itu terjadi lantaran anak-anak pengungsi mendengar suara tembakan senjata api selama kelompok kriminal bersenjata/KKB menguasai wilayah sekitar Tembagapura selama lebih dari tiga pekan sebelum dibebaskan oleh aparat pada Senin (20/11).
Selama masa isolasi itu, mereka kekurangan pasokan bahan makanan lantaran akses keluar masuk kampung dijaga oleh KKB.
Kemensos menerjunkan tiga orang pendamping layanan dukungan sosial ke Timika untuk membantu memulihkan kondisi psikologis para pengungsi terutama anak-anak.
Tim LDP Kemensos dibantu oleh Satuan Bakti Pekerja Sosial Kabupaten Mimika, para guru dan relawan pekerja sosial, Pramuka, Palang Merah Indonesia Mimika, Tagana dan lainnya.
Beberapa anak pengungsi mengaku ingin segera kembali ke kampungnya di Tembagapura.
“Saya ingin pulang ke rumah di kampung agar bisa bermain bola dengan teman-teman,” kata Warlex, bocah sembilan tahun yang ikut mengungsi ke Timika bersama orang tuanya.
Setelah lima hari menempati posko pengungsian sementara di Gedung Eme Neme Yauware Timika, pada Jumat petang sebanyak 806 pengungsi asal Tembagapura itu dipindahkan ke Kampung Damai, Distrik Kwamki Narama.
Koordinator pengungsi Kemaniel Waker mengatakan pemindahan warga pengungsi ke Kwamki Narama lantaran suhu udara di Gedung Eme Neme Yauware sangat panas dan tidak cocok dengan para pengungsi yang terbiasa tinggal di wilayah pegunungan yang bersuhu dingin.
Kamaniel juga khawatir banyak anak-anak dan orang dewasa terjangkit penyakit menular jika berlama-lama bertahan di gedung tersebut.
Di lokasi yang baru, warga pengungsi menempati gedung lama Gereja Kemah Injil Indonesia Wilayah II Pegunungan Tengah Papua, Jemaat Anugerah.
Rencananya pada Sabtu pagi ini para pengungsi sudah bisa pergi dan tinggal sementara di rumah keluarganya masing-masing.[Ant]