Kebijakan Industri Harus Mengarah ke Ekspor

JAKARTA – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini mengatakan, ekonomi tahun depan adalah ekonomi global. Relatif cukup baik di sektor domestik, sebab harga-harga dan ekspor akan meningkat. Tapi, masih ada kendala, dimana daya beli stagnan.

Jadi, tegas Didik, konsumsi di kuartal II dan III 2017 ini masih lemah. Belum menunjukkan perubahan signifikan sehingga pertumbuhan ekonomi itu masih 5 persen. Belum ada lompatan meskipun investasi dan ekspor naik. “Tapi investasi itu utang. Nah, itu yang menjadi kendala,” kata Didik pada seminar nasional “Political Economy Outlook 2018” yang digelar INDEF di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Ekonom senior INDEF, Didik J Rachbini (kiri) dalam seminar nasional “Political Economy Outlook 2018” di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (22/11/2017). Foto: Sri Sugiarti

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dirinya menyarankan adanya terobosan kebijakan. Sektor yang paling besar porsinya di ekonomi itu industri.

“Industri itu ada separuh ekspor masih mentah semua. Jadi bagaimana caranya, ya harus ada kebijakan industri,” kata Didik.

Kebijakan industri yang paling tepat itu, menurutnya, jalur Banten, Jakarta, Cikarang, Jawa Tengah, dan Surabaya. Jalur utara inilah yang harus dilakukan industrialisasi sehingga infrastruktur di sana yang dikembangkan.

Apalagi, kata Didik, pertumbuhan industri masih rendah 3,4 persen. Padahal dulu pertumbuhannya bisa mencapai 10-12 persen.

“Saran saya kepada pemerintah, kebijakan industri harus lebih kuat mengarah ke ekspor. Karena pertumbuhan ekonomi kita berantakan, turun dari 6,5 persen ke 5 persen. Ini karena ekspornya turun. Kalau ekspor turun banyak bahan mentah,” tukasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Oktober 2017 nilai ekspor mencapai USD15,09 miliar atau naik 3,62 persen dibandingkan dengan bulan September 2017 atau month to month (mtm). Sementara dibandingkan Oktober di tahun 2016 atau year on year (yoy) juga mengalami peningkatan 18,39 persen.

“Data BPS ekspor naik, tetapi itu masih jauh dari 2016. Sekarang ini ekspor naik karena harga-harga naik,” ujarnya.

Tapi, lanjut dia, kalau komoditi industri itu relatif akan lebih stabil. Kalau kemarin turun lantaran harga produknya turun seperti karet dan kelapa sawit. Namun sekarang ini mengalami kenaikan.

“Industrialisasi itu penting dijalankan dalam hitungan tahun. Syaratnya untuk efisiensi global value chan terkait dengan industri dan produksi,” jelas Didik.

Lihat juga...