Cak Ilham, Sang Dalang Kentrung Djos Berlatar Dosen
JEMBER — Masyarakat Jember merupakan masyarakat Pendalungan, yakni campuran beberapa etnis dan kebudayaan, seperti Jawa, Madura, Using, Arab, Cina, dan lain-lain. Kebudayaan Pendalungan yang berbasis multikulturalisme inilah yang dijadikan platform pembangunan kebudayaan oleh Pemkab Jember.
Tak pelak, ketika Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur hendak menyosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) dan memeringati Hari Jadi ke-72 Provinsi Jawa Timur, melirik Kabupaten Jember. Acara tersebut disentuh dengan kebudayaan Pendalungan sebagai kearifan lokal Jember.
Rumah Budaya Pandhalungan (RBP) pun diundang untuk memeriahkan acara yang diberi tajuk ‘Pagelaran Seni dan Budaya’, yang digelar pada Sabtu (4/11) lalu di Alun-alun Jember. RBP lalu mengirimkan sejumlah seniman terbaiknya untuk mementaskan produk-produk kesenian khas ciptaan mereka.
“RBP kali ini didukung oleh beberapa sanggar seni, seperti Sanggar Tari Cemara Biru, Kartika Budaya, Kentrung Djos, dan Campursari Gunjing Miring,” ujar Dr. Ilham Zoebazarry, yang akrab disapa Cak Ilham, kepada Cendana News, Minggu (12/11/2017) sore.
Punggawa Kentrung Djoss yang sehari-hari mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Unej ini, menambahkan, RBP merupakan organisasi kesenian yang didirikan oleh sejumlah seniman dan budayawan Jember, dalam rangka mengembangkan seni-budaya Pendalungan.
Kentrung Djos, sebagai bagian RBP pun turut tampil pada malam Pagelaran Seni dan Budaya. Pagelaran Kentrung Djos ini cukup istimewa, karena sekaligus dalam rangka ulang tahunnya yang ke-35.
Kentrung Djoss merupakan kelompok kesenian tradisional yang memadukan seni drama, menyanyi, tari, dan musik tradisional dalam penampilannya. Kentrung Djoss dibentuk oleh mahasiswa Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) di 1982. Kelompok Kentrung Djoss ini terkenal di zamannya. Sering tampil di TVRI dan diundang ke sejumlah daerah, termasuk Jakarta.
Cak Ilham mengatakan, Grup Kentrung Djos dibentuk pada 1982, hingga saat ini telah naik panggung lebih dari 300 kali. Pada acara Pagelaran Seni dan Budaya beberapa waktu lalu, lakon yang dipentaskan adalah ‘Minak Jinggo Nagih Janji’, berkisah tentang pemberontakan Adipati Minak Jinggo dari Blambangan terhadap Kerajaan Majapahit.
Hal itu dilakukan, karena Kencana Wungu, Ratu yang berkuasa di Majapahit, ingkar janji. Dahulu, ketika Majapahit diganggu seorang pengacau bernama Kebo Marcuet, Sang Ratu mengadakan sayembara. Yakni, siapa saja yang bisa mengalahkan Kebo Marcuet akan diberi ganjaran separuh tanah kerajaan serta akan menikah dengannya. Minak Jinggo berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, tapi Sang Ratu menolak menikah dengannya.
Kembali soal kentrung, Cak Ilham menyebutkan, kentrung yang ada di daerah Kediri, Blitar, dan sekitarnya, biasanya beranggotakan 2 hingga 4 orang, yang terdiri atas seorang dalang (sambil memukul kendang atau ketipung) dan seorang hingga tiga orang pemusik. Pementasan biasanya berlangsung semalam suntuk (5-7 jam).
“Ketika dalang bertutur, pemain musik akan nyenggaki (menyahuti, menimpali) dengan celetukan, pantun, atau lagu-lagu pendek,” jelas Cak Ilham.
Sementara itu, lanjut Cak Ilham, Kentrung Djos selain mempertahankan keberadaan dalang dan pemusik, juga menghadirkan ’wayang’, yakni para aktor/aktris yang memperagakan tokoh yang diceritakan oleh dalang. Artinya, Kentrung Djos tidak hanya mementingkan unsur audio, namun juga unsur visual.
Dalang bertugas mengucapkan dialog, sedangkan para aktor/aktris bertindak sebagai ‘wayang’, berakting sesuai dialog yang diucapkan dalang.
Untuk durasi pementasan Kentrung Djos, Cak Ilham menyebutkan lebih singkat, berkisar antara satu hingga dua jam, dengan menggunakan naskah tertulis sebagai basis pertunjukkan. “Musik pengiring dalam pertunjukkan Kentrung Djos merupakan pengembangan dari kentrung yang sudah ada,” imbuhnya.
Dikatakan Cak Ilham, Kentrung di Kediri hanya menggunakan peralatan musik yang terbuat dari kulit (kendang, ketipung, terbang, jidor), maka Kentrung Djos melengkapinya dengan peralatan musik gamelan, seperti gong, saron, demung, kenong, dan siter. Bahkan jika perlu, dalam situasi tertentu, peralatan musik lain juga dipakai, sepert cukulele, tamborin, snar-drum, keyboard, bas guitar, dan lain-lain.
Adapun lagu-lagu yang dimainkan dalam pertunjukkan Kentrung Djos, menurut Cak Ilham, tidak hanya terbatas pada parikan dan tembang saja, tetapi juga lagu-lagu kreasi baru (langgam, keroncong, dan sejenisnya).
“Gending-gending yang dimainkan sebagai pengiring keluar dan masuknya para tokoh cerita berasal dari berbagai genre seni pertunjukkan, mulai dari ludruk, janger, wayang kulit, ketoprak, gending-gending Sunda, Bali, Banyuwangen, dan sebagainya,” paparnya.
Kentrung Djos biasa memainkan aneka cerita rakyat yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, seperti Sarip Tambak Oso, Sakerah, Minak Jinggo, Sampek Eng Thay, Roro Mendut, Joko Tarup.
Yang menarik dari Kentrung Djos, anggotanya bukan hanya aktivis kesenian. Beberapa anggotanya ada juga para mahasiswa dan dosen dari sejumlah daerah. Secara berkala mereka berlatih di RBP yang bermarkas di Warung Kembang, Ajung.
“Anggota Kentrung Djos hampir 100 orang yang berasal dari berbagai daerah. Mereka adalah para mahasiswa, dosen, serta sejumlah aktivis kesenian,” pungkasnya.