Bukit Mintorogo, Legenda Sang Begawan Ciptoning
YOGYAKARTA – Suasana hening dan asri benar-benar terasa di atas puncak Bukit Mintorogo. Udara sejuk perbukitan, berhembus pelan menerobos rindang pepohonan. Pemandangan dengan lanscape utama gunung Merapi, dipadu jajaran perbukitan, serta hamparan persawahan dan pedesaan, membentang di depan mata.
Konon, di puncak bukit Mintorogo yang sangat indah dan hening inilah, dahulu tokoh pewayangan Arjuna, ditemani para punokawan yakni Semar, Petruk, Gareng dan Bagong, pernah menyepi dan bersemedi, hingga menjadi seorang begawan, dengan gelar Begawan Ciptoning.
Potensi puncak Bukit Mintorogo, baik berupa keindahan alam, suasana perbukitan maupun mitos/legenda masyarakat itulah yang coba digali warga desa setempat sebagai tempat wisata.
Terletak di Desa Mintorogo, Kelurahan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, puncak Bukit Mintorogo memang sedang menggeliat.

Meski belum setenar tempat wisata lainnya di kawasan Prambanan, objek wisata yang berada di sisi timur Candi Ijo ini mulai banyak menerima wisatawan. Setiap akhir pekan, sejumlah anak-anak muda nampak bersantai menikmati keindahan panorama dari atas bukit ini.
Cukup dengan berjalan kaki melintasi jalan setapak yang teduh dan rindang, selama sekitar 10 menit, wisatawan akan sampai di atas puncak bukit. Puncak pertama biasa disebut Puncak Mintorogo. Konon, di tempat inilah para punokawan menunggu sang begawan Arjuna bertapa.
Sementara sekitar 100 meter dari Puncak Mintorogo, terdapat Puncak Indrakila. Di puncak dengan petilasan berupa batu dua undakan inilah konon Sang Arjuna, melakukan ritual semedi selama berbulan-bulan hingga mendapatkan gelar atau julukan Begawan Ciptoning.
“Selama ini Bukit Mintorogo lebih dikenal sebagai tempat wisata religi. Sedangkan untuk tempat wisata alam, baru beberapa bulan terakhir ini. Saat ini memang sedang kita kembangkan dengan memadukan sejumlah potensi tersebut,” ujar Kepala Desa Gayamharjo, Parwoko.

Untuk memaksimalkan potensi yang ada, pemerintah bersama pemuda karang taruna desa setempat, telah berupaya melengkapi puncak Bukit Mintorogo dengan berbagai fasilitas dan prasarana secara swadaya. Mulai dari pembuatan jalan setapak, lampu penerang hingga ke puncak bukit, maupun spot-spot untuk berfoto.
“Kita juga sudah membangun tempat parkir. Selain juga menyelesaikan pembuatan kamar mandi, serta akan menambah sejumlah gazebo untuk tempat beristirahat. Bahkan kita juga berencana membuat jembatan gantung, serta tempat outbond. Termasuk membuat kebun nanas di sepanjang jalan setapak,” katanya.
Salah satu kendala utama yang menjadi penghambat pengembangan tempat wisata Bukit Mintorogo ini, kata Parwoko, adalah akses jalan menuju lokasi yang terbilang sulit. Ruas jalan utama sepanjang 5 kilometer menuju tempat ini cukup sempit dan mengalami kerusakan, sehingga sulit dilewati.
“Kemampuan pemerintah desa terbatas. Sehingga kita tidak mampu untuk memperbaiki jalan. Karena itu, kita berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat turun tangan. Termasuk juga membuat jalan tembus baik dari arah Gunungkidul atau Klaten, sehingga semakin banyak wisatawan datang ke sini,” katanya.
Menurut Parwoko, dengan adanya jalan tembus sepanjang kurang lebih 8-10 kilometer dari arah bukit wisata Nglanggeran maupun Jalan Solo, potensi wisata Desa Gayamharjo akan dapat dimaksimalkan. Terlebih tak jauh dari situ juga telah banyak terdapat lokasi wisata lain, seperti Tebing Breksi dan Candi Ijo.
“Jika ada jalan tembus, maka wisatawan yang dari arah Gunungkidul maupun Klaten bisa mampir dulu ke Gayamharjo. Baru ke Breksi. Dengan begitu, ekonomi warga Dusun Gayamharjo juga bisa ikut terangkat. Selama ini, warga belum bisa memaksimalkan potensi wisata yang ada karena terkendala akses jalan,” katanya.