Bogor Berupaya Menekan Angka Kematian Ibu Bayi

BOGOR – Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat berupaya menekan angka kasus kematian ibu dan bayi melalui pencanangan Forum Masyarakat Peduli KIA Nga”Emas” dan SMS Bunda.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Rubaeah menyebut, program yang dicanangkan mengacu pada expanding maternal and neonatal survival atau emas. Program Emas di Kota Bogor dilaksanakan dengan kegiatan forum masyarakat peduli KIA Nga”emas dan SMS Bunda. Program tersebut dilaksanakan melalui tiga pilar yakni transparansi dan akuntabilitas untuk mendukung kebijakan program.

“Pilar pertama dilaksanakan dengan pembentukan Pokja penyelamatan ibu dan bayi baru lahir. Melibatkan peran aktif masyarakat melalui forum masyarakat madani,” kata Rubaeah, Senin (6/11/2017).

Pilar kedua yakni penguatan kualitas pelayanan klinis gawat darurat kebidanan dan bayi baru lahir, pendampingan rumah sakit dan puskesmas Poned. Dan Pilar ketiga penguatan sistem rujukan yann efisien dan efektif melalui E-SIR Bogor Sehat.

Pokja penyelamatan ibu dan bayi di Kota Bogor disebutnya, telah dibentuk melalui SK Wali Kota Bogor tahun 2016. Program tersebut  bertujuan untuk mengoptimalkan peran serta dan koordinasi berbagai elemen yang berperan dalam penyelamatan ibu melahirkan dan bayi.

“Tugas pokja ini menjalankan fungsi koordinasi, mediasi, fasilitasi, membangun dan mengembangkan koalisi yang kolaboratif dan produktif dalam berbagai kegiatan penyelamatan ibu dan bayi baru lahir,” katanya.

Pokja melibatkan peran aktif masyarakat, membuka akses dan informasi serta memberikan arahan dalam penyusunan kebijakan. Dipimpin langsung oleh Sekda Kota Bogor, dengan anggota terdiri atas Bappeda, Dinas Kesehatan, RSUD, UTD PMI, Diskominfo, POGI, IDAI, IBI, PPNI, Ketua Tim Penggerak PKK, Perwakilan SKPD terkait dan masyarakat pedulia KIA.

Terkait Forum masyarakat peduli KIA Kota Bogor telah dibentuk sejak 2016 dinamai NgaEmas Kota Bogor, bertugas sebagai pengamat atau pengawas pelayanan kesehatan ibu dan bayi. “Forum NgaEmas Kota Bogor bertugas memberikan masukan dan advokasi kepada pemerintah Kota Bogor untuk membuat kebijakan terkait penyelamatan ibu dan bayi,” katanya.

Rubaeah menambahkan, dalam RPJMN 2015-2019 menyebutkan bahwa sasaran yang ditetapkan adalah menurunya angka kematian ibu menjadi 306 per 100 ribu kelahiran baru dan menurunkan angka kematian bayi menjadi 24 per 1.000 kelahiran baru (KH).

Data Kota Bogor tahun 2016 tercatat sejumlah 22 kasus (110 per 100 ribu KH) dan kematian bayi tercatat 53 kasus (2,7 per 1.000 KH). Hingga Oktober 2017 tercatat ada enam kematian ibu dan 43 kematian bayi. “Memang angka ini jauh di bawah angka nasional, tapi ini merupakan masalah kesehatan di Kota Bogor yang harus menjadi perhatian bersama untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi,” pungkas Rubaeah. (Ant)

Lihat juga...