Asyiknya Belajar Jenis Ikan di Danau Air Tawar TMII

JAKARTA — Indonesia boleh bangga, karena Dunia Air Tawar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan aqurium terbesar di Asia. Dimana menyimpan 6.000 ekor lebih ikan dan 150 spesies dari berbagai perairan di Indonesia maupun belahan dunia.

Selain menjadi tempat rekreasi keluarga pengunjung juga dapat menambah ilmu dengan mengenal kekayaan biota air tawar.

Contohnya Rahmat, warga Cililitan, Jakarta Timur. Dia mengaku kalau Dunia Air Tawar TMII ini menjadi kunjungan rekreasi favorit keluarganya.

“Hauri dan Karima, anak saya kalau ke TMII selalu yang pertama itu ngajaknya ke Dunia Air Tawar. Ini jadi tempat favorit mereka, juga saya,” kata Rahmat kepada Cendana News ditemui di area Aquarium Air Tawar TMII, Jakarta, Sabtu (25/11/2017).

Menurutnya, dengan berkunjung ke aquarium ini, kedua putrinya bisa mendapatkan informasi tentang dunia perikanan lengkap jenis-jenisnya. Padalah, kata Rahmat, dulu mereka hanya tahu ikan cupang, emas, dan lele.

“Begitu berkunjung ke sini, terbuka wawasannya ternyata banyak ikan ciptaan Allah SWT. Ada yang badannya besar melebihi tubuh Hauri. Contohnya, ikan Arapah ini yang badannya besar,” ucap Rahmat sambil jemari tangannya menunjuk ikan tersebut.

Danau Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (25/11/2017).foto: Sri Sugiarti.

Hauri juga mengaku senang berkunjung ke Dunia Air Tawar TMII. Dia jadi lebih tahu banyak jenis ikan dari perairan Indonesia dan dunia.

“Saya jadi tahu banyak jenis ikan, seperti ikan Arapah ini. Juga ikan pari, salamander, super red, bawal, dan lainnya. Pokoknya asyik tambah ilum,” kata Hauri.

Apalagi, sebut dia, saat masuk saja sudah disambut ikan besar di area lobby utama. Lalu ada ragam aquarium dengan ikan-ikan cantik dan lucu.

“Ada ikan yang serem, ikan yang berenangnya terbalik. Lucu-lucu senang liatnya terhibur. Bisa belajar banyak di sini,” sebut murid kelas 2 SDI Istiqlal ini.

Pengunjung sedang melihat ragam jenis ikan di aquarium nusantara Danau Air Tawar TMII, Jakarta Timur, Sabtu (25/11/2017). Foto: Sri Sugiarti.

Staf Karantina dan Budidaya Aquarium Air Tawar TMII, Muchamad Chatim Magfur mengatakan, Dunia Air Tawar ini merupakan taman biota air tawar terbesar dan terlengkap ke dua di dunia dan terbesar di Asia, menyimpan 6.000 ekor 150 spesies, terdiri atas berbagai jenis, ukuran, asalnya baik dari berbagai perairan di Indonesia maupun belahan dunia lain. Juga meliputi tanaman air, reptilian, crustacean, dan ikan.

Dunia Air Tawar dilengkapi museum, perpustakaan, auditorium, akuarium nusantara, pojok reptilia, dan lorong gurame. Terdapat juga ruang karantina yang dibangun di bagian belakang untuk pengembangbiakan koleksi dan menampung hasil dari petani yang dapat diperjualbelikan kepada pengunjung atau penampung ikan, dan eksportir.

Disampaikan dia, tidak hanya memamerkan beragam jenis ikan air tawar perairan dalam negeri, tapi juga mancanegara untuk menjadi koleksi di Dunia Air Tawar TMII.

“Kami juga memberi edukasi dan konservasi kepada pengunjung tentang ragam jenis ikan khas Indonesia. Kalau pengunjung bertanya tentang ikan endemik dan lainnya, kami siap jawab,” kata Chatim demikian sapaannya.

Kenda Adhitja, dokter hewan Danau Air Tawar TMII. Foto: Sri Sugiarti.

Dengan edukasi dan konservasi, jelas dia, pengunjung akan mendapatkan pemahaman tentang ikan-ikan khas Indonesia yang harus dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan secara berlebihan. Tapi ikan-ikan tersebut harus disayang dan dibudidayakan dengan aturan.

Jadi, fungsi Dunia Air Tawar ini tidak hanya wahana rekreasi tapi juga sebagai lembaga konservasi dan juga untuk budidaya. Begitu ikan-ikan itu sudah jarang kita temukan akan kita dibudidayakan.

“Untuk program sekolah di sini ini ada program Trapit (Trampil Budidaya Ikan Tawar). Program untuk mengajari anak mencintai ikan, memelihara ikan, dan mengetahui ikan langka yang harus dilindungi,” ungkapnya.

Namun demikian, tambah dia, program Trapit ini tergantung permintaan pihak sekolah kapan mau berkunjung ke Dunia Air Tawar dan mengikuti program tersebut.

Kembali dijelaskan, untuk koleksi ikan-ikan di Dania Air Tawar ini berbeda dengan aneka koleksi yang dijumpai di Seaworld Ancol, Jakarta Utara terutama dalam hal ukurannya. Gedungnya sendiri terdiri dari dua lantai yang mana didalamnya dilakukan penataan yang sangat apik dan menarik.

Ketika pengunjung memasuki ke dalamnya akan langsung disambut dengan sejumlah ikan raksasa seperti salamander, pari air tawar, labi-labi albino, lobster air tawar, belut listrik dan yang lainnya.

Pengunjung sedang melihat ikan Koi di kolam Danau Air Tawar TMII, Jakarta Timur, Sabtu (25/11/2017). Foto: Sri Sugiarti.

Di dalam Dunia Air Tawar ini juga terdapat Theater 4 Dimensi yang menampilkan beragam film seru dan menegangkan.Tempatnya yang nyaman karena ruangannya sangat bersih dan rapi. Yang membedakan teater ini dengan bioskop pada umumnya ialah disini setiap penontonnya akan diberikan kacamata 4 dimensi yang berukuran cukup besar.

Bagi penghobi ikan atau sekedar ingin melihat ragam jenis ikan, pengunjung TMII bisa ke Dunia Air Tawar yang lokasinya dekat sebuah danau buatan dan juga berada disebelah Museum Serangga dan Taman Kupu. Dan cukup meroggoh uang Rp25 ribu saja.

Kenda Adhtija, dokter hewan Danau Air Tawar TMII menambahkan, wahana rekreasi ini bukan sekedar penghibur pengunjung tapi juga memberikan edukasi tentang dunia perikanan. “Wahana ini tempat rekreasi keluarga yang menambah ilmu mengenal kekayaan biota air tawar,” kata Kenda.

Contohnya, sebut dia, aquarium nusantara menampilkan ragam jenis ikan dari seluruh provinsi Indonesia. Seperti ikan Seluang dari Sumatera Selatan, ikan Kaca dari Jawa Barat, dan ikan Puitus dari Bali.

Kendi berharap masyarakat yang datang ke Danau Air Tawar jadi paham bahwa Indonesia itu punya banyak keragaman ikan.

“Jadi dengan kita tahu, kita semakin cinta. Nah, dari sanalah kita bisa mencintai Indonesia biarpun hanya dari ikan,” jelasnya.

Dia juga menegaskan, bahwa TMII ini mewakili semua provinsi di Indonesia. Ragam seni dan budaya dilestarikan di miniatur ini.

“TMII ini potret budaya bangsa. Budaya itu tidak hanya tari tapi juga edukasi ragam jenis ikan. InshaAllah lengkap kalau mau belajar Indonesia datang saja ke TMII, mewakili semuanya,” pungkas Kenda.

Lihat juga...