Agar Bijak di Medsos, Kembalilah ke Sastra dan Seni
YOGYAKARTA — Kehadiran sastra dan seni pada masa lalu pernah menjadi garda depan pengasah budi, tiba-tiba tergantikan oleh kehadiran media massa dalam bentuk sosial media (sosmed). Namun, kemunculannya menjadi persoalan tersendiri, jika dalam penyampaian pendapat di sosmed meninggalkan kesantunan dan kecendikiaan.
Kuasa media massa menjadi semakin tidak terkendali ketika ruang virtual terbuka lebar. Kata-kata yang tidak santun seperti hinaan, cacian, hingga sumpah serapah banyak dijumpai dalam berbagai ‘kicauan’ yang disampaikan. Bahkan berita-berita palsu yang seolah benar (hoax) telah menjadi bagian dari konsumsi informasi sehari-hari.
Ketua Panitia Anugerah Sastra dan Seni UGM IV, Aprinus Salam, mengatakan di berbagai penjuru dunia, sastra dan seni merupakan salah salah satu ekspresi yang dipergunakan untuk menggambarkan kesemrawutan tatanan sosial dalam kehidupan.
“Jika dikaitkan dengan konteks kekinian, kesemrawutan tatanan kehidupan sosial terlihat secara nyata dengan hadirnya media dengan kemampuannya mengerahkan opini massa,” ujarnya, kepada Cendana News, Minggu (12/11/2017) siang.
Kehadiran media memberikan peran penting dalam menyampaikan pendapat. Pada satu sisi, pendapat-pendapat tersebut memberi kesempatan kepada orang untuk menulis. Namun pada sisi lain, terkadang pendapat yang disampaikan tersebut menjadi suatu persoalan tersendiri di sosmed.
Maka, untuk menghindari dari kata-kata yang tidak santun seperti hinaan, cacian, sumpah serapah dalam berkicau, dan memfilter dari berita-berita palsu yang seolah benar (hoax) untuk tidak tersebar, selayaknya perlu kembali pada sastra dan seni. Dengan begitu akal dan budi kembali terasah dan tajam.
“Sastra dan seni merupakan aktivitas manusia yang secara historis ditujukan untuk mengasah akal dan budi manusia,” ujar Aprinus Salam.
Dalam usaha menjelaskan kembali pentingnya sastra dan seni sebagai pengasah budi dan kecendikiaan, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Keluarga Alumni UGM (Kagama) menyelenggarakan acara ‘Anugerah Sastra dan Seni UGM IV’ dan Lomba Sastra Sastra dan Seni UGM 2017.
Menurut Humas dan Kerja Sama FIB, Popi Irawan, acara anugerah dan lomba tersebut diselenggarakan dengan maksud sebagai salah satu langkah nyata dalam usaha memberi ruang ekspresi kepada para pelaku sastra dan seni, untuk terus berkarya. Selain itu, untuk memicu kembali gairah bersastra-seni sebagai salah satu alternatif sarana mengasah budi dan kecendikiaan.
“Ini merupakan bentuk kontribusi dari komitmen UGM terhadap perkembangan sastra dan budaya di Indonesia,” ujarnya.
Ditambahkan Popi, Lomba Sastra dan Seni UGM tahun 2017 ini mengangkat tema ‘Revitalisasi Penghargaan Terhadap Perbedaan’. Tema tersebut diangkat untuk mengingatkan kembali realitas, bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural.
Bangsa yang dalam sejarahnya memiliki sejarah panjang dalam menghargai keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam aspek tersebut, toleransi terhadap perbedaan sangat kental dalam berkehidupan.
Popi menyebutkan, pada Lomba Sastra dan Seni dalam rangka Anugerah Satra dan Seni UGM IV ini, panitia telah berhasil menjaring 2.149 karya sastra dan seni, yang terkategori ke dalam lomba puisi, cerpen, fotografi, film pendek, penulisan meme, dan kritik sastra.
Malam Puncak Anugerah Sastra dan Seni UGM IV dilaksanakan pada Jumat (10/11/) di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, kampus UGM Bulaksumur, juga diisi dengan orasi budaya oleh sastrawan Budi Darma, pembacaan puisi oleh Christine Hakim dan Kedung Darma Romansha, serta pentas “Goro-goro Diponegoro” oleh kelompok seni Mantradisi, Voice of Citizen, dan Rampoe UGM.