After School Horror 2, Kisah Seram Anak Sekolah

JAKARTA – Masa-masa sekolah adalah masa-masa yang paling indah. Tapi bagaimana kalau di sekolah mengalami hal-hal yang menyeramkan? Tentu seru. Demikian yang mengemuka dalam film horor ‘After School Horror 2‘. Sebuah film horor karya Nayato Fio Nuala, sutradara spesial film horor, yang turut meramaikan genre horor dalam film Indonesia yang sedang booming akhir-akhir ini.

Kisahnya tentang Putra (Dheyvin Putra) yang terobsesi ingin menjadi pacar Eva (Yoriko Angeline), gadis cantik dan populer di SMA Kharisma. Eva sangat anti pada Putra yang penampilannya jauh dari kesan menarik. Rangga (Randy Martin) dan pacarnya Sandra (Cassandra Lee) menasehati Putra bahwa keinginannya itu sia-sia belaka karena Eva adalah wanita materialistis yang hanya ingin melihat putra celaka.

Eva menantang Putra untuk melukis wajah Sumarni (Citra Hikmah) yang pernah hidup di tahun 1950-an. Putra harus menggambarnya pada tengah malam di dalam gudang sekolah. Jika Putra berani, maka Eva bersedia menjadi pacarnya. Sandra dan Rangga tidak setuju karena itu berarti mengundang murka arwah Sumarni. Mitosnya: arwah Sumarni akan merenggut nyawa siapapun yang menggambar wajahnya.

Putra nekad melaksanakan tantangan Eva. Arwah Sumarni muncul tidak sendirian. Putra dan Eva menjadi sasaran kemarahan Sumarni dan kawannya. Sejak itu Eva dan teman-temannya diteror oleh arwah Sumarni. Bahkan arwah Sumarni bergentayangan ke ruang sekolah dan mengejar murid-murid yang lain.

Nayato Fio Nuala, sutradara spesial film horor, cukup berhasil membuat ketegangan dalam film ini dari awal hingga akhir. Hanya penggarapannya terkesan tergesa-gesa. Beberapa adegan dihadirkan sekelebatan, sekilas saja, tanpa ingin memberi kesan. Juga seperti tak memberi jeda ruang bagi penonton untuk “mencerna” adegan-adegannya.

Erry Sofid, penulis skenario film, cukup jeli mengangkat mitos arwah Sumarni, meski belum sepenuhnya, mengolah modal mitos tersebut untuk menjadi kekayaan skenarionya. Karakter orangtua alpa dalam film ini, semestinya turut hadir memberi solusi permasalahan anak-anaknya yang galau. Anak-anak yang digambarkan gejolak jiwa mudanya masih tak terkendali maunya menyelesaikan masalah secepatnya.

Kemudian, para pemain yang rata-rata masih muda tampak masih belum cukup penghayatan. Mereka tampak masih sebatas melafalkan dialog-dialog sesuai naskah skenario. Memang mereka baru termasuk hapal di luar kepala, tapi masih belum masuk benar pada penghayatan yang mendalam. Akting ketakutannya masih di permukaan. Karir mereka masih panjang, masih harus melalui berbagai pengalaman untuk mematangkan aktingnya. Tapi kita tentu memberi apresiasi pada anak muda yang berkarya, menjadi bekal kiprahnya dalam dunia perfilman.

Adegan dalam film After School Horror 2. (Foto: Istimewa/PH BIC Pictures)
Lihat juga...