80 Persen Petani Bantul di Atas 55 Tahun

YOGYAKARTA –  Sebagaimana daerah lainnya, persoalan regenerasi petani masih menjadi kendala besar dalam pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Bantul. Hal itu dikarenakan mayoritas petani di Bantul, Yogyakarta, diketahui telah berusia tua dan mendekati usia tidak produktif.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Pulung Haryadi, menyebut 70-80 persen petani Bantul berusia rata-rata di atas 55 tahun. Sementara hanya sekitar 20-30 persen petani berusia d ibawah 55 tahun atau dalam usia produktif.

“Rata-rata petani di Bantul berusia di atas 50 tahun. Paling banyak usia 55 ke atas. Artinya regenerasi petani sangat kecil,” katanya kepada Cendana News.

Sejumlah petani yang telah berusia tua sedang menanam bibit padi di lahan sawah. Foto: Jatmika H Kusmargana

Menurut pulung, minimnya regenerasi petani tersebut disebabkan karena masih adanya gengsi atau image yang menilai rendah pekerjaan sebagai petani. Hal itulah yang membuat sebagian besar generasi muda enggan menjadi seorang petani dan lebih memilih bekerja sebagai buruh atau pekerjaan lainnya.

“Image di masyarakat, petani itu masih dianggap pekerjaan yang kurang bergengsi. Karena harus di sawah, berkotor-kotor dengan lunpur dan sebagainya. Sehingga banyak masyarakat yang enggan jadi petani,” katanya.

Padahal, menurut Pulung, jika dikelola secara profesional, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menjanjikan. Hal itu dibuktikan dengan cukup tingginya nilai tukar petani di kabupaten Bantul yang mencapai angka 102,67 pada tahun 2016 lalu. Angka nilai tukar petani itu dikatakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 97.

“Untuk meningkatkan minat generasi muda menggeluti sektor pertanian, kita telah membentuk Taruna Tani. Kita targetkan setiap tahun ada 5 taruna tani mulai tahun 2017 ini. Untuk awal sudah ada di Bambanglipuro, Bantul, Sewon, Pundong, dan Banguntapan,” katanya.

Melalui Taruna Tani itulah, diharapkan akan banyak generasi muda yang tertarik menjadi petani. Pasalnya di dalam kelembagaan Taruna Tani, terdapat sekumpulan pemuda yang dilatih dan dibina dengan pemanfaatan teknologi dalam mengelola usaha pertanian maupun budidaya.

“Jadi di sana petani-petani muda kita beri pelatihan, pendampingan agar memiliki ilmu, termasuk penerapan teknologi terbaru. Dengan begitu usaha mereka bisa berkembang dan menarik generasi muda lainnya. Saya yakin ini akan berhasil karena pemuda lebih memiliki semangat dan keberanian,” katanya.

Lihat juga...