Warga Penengahan Manfaatkan Pekarangan Budidayakan Tanaman Buah
LAMPUNG – Memiliki lahan terbatas tidak mengurangi niat salah satu warga di Dusun Jatisari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan untuk melakukan pola penanaman beragam khususnya tanaman produktif yang memiliki nilai jual tinggi dari beragam tanaman buah.
Sutiyono (50) yang memiliki lahan dengan ukuran 30 x 18 meter atau 234 meter yang sebagian dipergunakan untuk bangunan menyisakan sebagian besar pekarangan untuk budidaya tanaman buah.
Pada bagian belakang pekarangan rumah Sutiyono berbagai jenis tanaman buah-buahan produktif ditanam sejak belasan tahun silam di antaranya buah durian, jengkol, manggis, matoa, kelengkeng diamond, kelengkeng pingpong, sukun, nangka mini hingga tanaman jambu jamaica. Tanaman durian jenis bangkok yang ditanam sebanyak enam batang dipadukan dengan tanaman lain bahkan berbuah sekitar 300 buah dalam sekali buah atau rata-rata 500 buah dalam setahun.
“Pohon durian yang saya tanam jumlahnya enam batang jenis bangkok dari bibit unggul sehingga berumur lima tahun sudah belajar berbuah sebagian saya jual, dibagikan ke tetangga dan kerabat. Serta buah lain dijual ke pengepul buah yang datang membeli,” terang Sutiyono yang ditemui Cendana News berada di area pekarangan sekaligus kebun berbagai tanaman buah miliknya, Rabu (18/10/2017).
Salah satu fungsi tanaman buah durian yang ditanam berusia sepuluh tahun dan tepat berada di halaman depan rumah diakui oleh Sutiyono sengaja dipergunakan sebagai tanaman peneduh lengkap dengan tanaman jenis lain yang sebagian besar mulai berbuah. Pada masa pembuahan bulan September hingga Oktober pohon durian jenis bangkok miliknya berbuah sebanyak 200 buah sebagian sudah dipanen dan dijual. Sementara sebagian masih menunggu masak di pohon dengan sistem penggunaan tali sehingga buah durian tidak jatuh di tanah.
Harga buah durian yang mencapai Rp15.000 per buah atau Rp30.000 per gandeng atau dijual dengan sistem borongan dikenal dengan sistem tebas per pohon berkisar Rp1juta per pohon dan terkadang dibeli dengan sistem satuan oleh warga sekitar. Dari total enam pohon dirinya bisa memanen sebanyak lebih dari 700 buah per tahun. Meski sebagian berbuah lebat namun dampak dari cuaca sebagian buah yang sudah besar terjatuh sebelum mengalami pematangan bahkan membusuk di pohon.
Produktivitas buah durian yang cukup bagus dari bibit yang dibeli dari pusat penjualan bibit berkualitas di Pekalongan Lampung Timur tersebut, membuat dirinya terus mengembangkan budidaya buah durian serta buah lain di lahan kebun miliknya yang berada di desa lain. Penanaman pohon buah dengan sistem multy purpose tree system (MPTS) diterapkannya agar bisa dipanen dalam waktu berbeda. Jenis buah yang beragam sekaligus sebagai tanaman penahan erosi tanah di lahan miliknya yang miring.
Selain berfungsi sebagai peneduh saat musim panas, menghasilkan uang dari hasil penjualan buah, berbagai jenis tanaman yang sebagian sudah berusia puluhan tahun tersebut sekaligus menjadi tanaman konservasi di lahan pekarangan yang mengeluarkan mata air di depan pekarangan rumah yang mengalir sepanjang musim. Aliran air kolam miliknya bahkan masih mengalir ke siring kecil yang mengalir ke perumahan warga, kerap dipergunakan menyiram berbagai jenis sayuran.
“Mata air yang tak pernah kering saya pergunakan sebagai lahan kolam untuk budidaya ratusan ekor ikan gurame dan ikan nila. Semakin banyak saya menanam berbagai jenis tanaman mata air selalu terjaga sehingga kebutuhan air tercukupi tanpa mengambil air sumur,” beber Sutiyono.
Sebagai seorang guru pegawai negeri sipil laki-laki yang senang berkebun tersebut mengaku menerapkan pola tanam kehutanan di alam bebas. Dalam satu kawasan bisa tumbuh berbagai jenis tanaman yang bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Meski demikian ia memilih berbagai jenis tanaman buah dengan kriteria umur yang singkat sudah berbuah dan tidak terlalu tinggi sehingga mudah dipetik.
Sutiono bahkan menerapkan pola pemangkasan pada pohon yang sudah meninggi dengan tujuan tidak beresiko roboh saat angin kencang dan bisa mengganggu tetangga yang memiliki rumah di sekitar pekarangan miliknya. Sebagian besar tanaman buah yang berasal dari bibit unggul sistem cangkok bahkan memiliki tinggi maksimal 10 meter dan sebagian besar berjenis mini seperti nangka mini yang berbuah sangat lebat hingga puluhan buah per pohon.
“Masih banyak warga yang memiliki lahan luas namun belum memanfaatkannya dengan maksimal sehingga saya meniru sistem hidup tanaman di hutan saya aplikasikan di pekarangan,” beber Sutiyono.
Berbagai jenis tanaman yang sudah belasan tahun berbuah bahkan menjadi pemasok udara yang bersih di lingkungan miliknya yang sengaja dibangun sebuah gubuk untuk bersantai guna menikmati udara yang sejuk. Kepada warga lain ia bahkan kerap membagikan bibit pohon buah untuk ditanam di lahan terbatas namun menghasilkan buah produktif bernilai jual tinggi sekaligus menghijaukan pekarangan.
Sahrul, warga lain tetangga Sutiyono mengaku, terinspirasi dan diberikan bibit dari beberapa pohon buah yang dimiliki Sutiyono untuk ditanam di lahan pekarangan di antaranya jenis buah pohon sukun, nangka mini dan jeruk. Proses menanam sendiri di lahan miliknya yang sebagian sudah berbuah, terutama nangka mini, membuat pemenuhan kebutuhan buah nangka tak harus membeli. Namun bisa juga diberikan kepada tetangga lain sekaligus menjadi contoh agar bisa memanfaatkan lahan terbatas sebagai lokasi untuk budidaya beragam tanaman buah kaya manfaat.
