Warga Gotong-royong Bangun Tempat Ibadah Terimbas Tol Sumatera
LAMPUNG — Proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket I Bakauheni-Sidomulyo, berimbas pada lahan pertanian, perkebunan, infrastruktur jalan desa, perumahan warga, termasuk fasilitas rumah ibadah berupa masjid, mushola yang berada di wilayah Kecamatan Bakauheni, Penengahan, terpaksa dipindah akibat tergusur proyek jalan bebas hambatan tersebut.

Masjid At-Taqwa Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, menjadi salah satu masjid yang terimbas JTTS dan mulai melakukan proses pemindahan bangunan semenjak beberapa bulan lalu. Proses pembangunan masjid yang dikerjakan secara gotong-royong tersebut masih terus dikerjakan hingga kini dengan sistem gotong-royong setiap akhir pekan bersama masyarakat sejak April.
Pembangunan rumah ibadah terimbas proyek JTTS juga terjadi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, dengan pembangunan mushola setempat yang semula berada tepat di poros tengah JTTS STA 18, sehingga terpaksa harus dipindahkan ke lokasi yang baru.
Kepala Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, Nasruloh, menyebut imbas proyek JTTS yang melintasi wilayah Desa Pasuruan dan Klaten di STA 18 dan 19 rumah ibadah yang ada harus dipindah dengan gotong-royong. “Proses pembangunan diawali dengan penggalian lubang pondasi dikerjakan pada awal Oktober ini dengan sistem gotong-royong oleh masyarakat di Dusun Sumbersari, yang harus sementara beribadah di tempat lain yang terdekat,” terang Nasruloh, Minggu (8/10/2017).
Selain mushola Al Muhajirin, pada rencana awal proses pembangunan JTTS bahkan berimbas pada bangunan Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Sumbersari yang terlebih dahulu telah melakukan proses pembangunan secara swadaya. Hal tersebut dibenarkan oleh Bintara Pembina Desa Pasuruan Sersan Dua Sudarwanto, yang menyebut dampak JTTS selain mengakibatkan lahan, bangunan milik perseorangan sekaligus berimbas pada sarana ibadah.

Anggota Koramil 421-03/Penengahan sebagai Babinsa di wilayah tersebut, ikut membantu proses gotong-royong pembuatan tempat ibadah yang ada di desa tersebut, agar masyarakat bisa segera memiliki sarana ibadah yang bisa dipergunakan oleh masyarakat.
Ia mengapresiasi kebersamaan warga masyarakat di wilayah tersebut yang masih melakukan gotong-royong, termasuk penyiapan konsumsi bagi para pekerja yang dilakukan secara bergilir oleh para ibu rumah tangga di wilayah tersebut. Selain itu, proses pengerjaan juga sebagian saling dibantu oleh umat agama lain, di mana saat membangun gereja umat Islam membantu dan saat membangun musola umat Katolik membantu.
“Sebagai Babinsa, saya berusaha membina masyarakat di tempat saya tinggal dan bertugas agar mengedepankan toleransi dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat termasuk dalam pembuatan rumah ibadah”, terang Serda Sudarwanto.
Beberapa bangunan rumah ibadah yang kini belum selesai di antaranya Masjid At-Tagwa di Desa Klaten, Mushola Al Muhajirin dan Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus, menurut Sudarwanto menjadi bukti keberagaman di wilayah tersebut yang secara bersamaan ikut terdampak proyek nasional JTTS.