Tiga Ditangkap Karena Rencanakan Ledakan Bom Di Festival Bir Malaysia
KUALA LUMPUR – Polisi Malaysia menahan tiga orang yang diduga akan meledakan bom di festival bir tahunan di ibu kota Negara tersebut, Selasa (17/10/2017). Salah satu dari tiga yang diamankan disebut-sebut remaja berusia 19 tahun dan masih berstatus pelajar.
Sementara dua lain yang ditangkap adalah seoran kontraktor konstruksi dan seorang mantan tentara. Ketiganya ditangkap di wilayah Utara Kelantan karena memiliki hubungan dengan kelompok militant IS dan merencanakan serangan bom tersebut.
“Para tersangka memiliki rencana untuk menyerang festival bir, rumah ibadah dan hiburan di Kuala Lumpur dan sekitarnya,” ungkap Inspektur Jenderal Polisi Mohamad Fuzi Harun.
Seorang mantan tentara yang disebut berusia 34 tahun, telah memberikan dana kepada pelajar yang digunakan untuk memproduksi dan menguji perangkat peledak terimprovisasi (IED). Peledak tersebutlah yang disebut-sebut akan digunakan dalam serangan tersebut.
Polisi telah menyita bahan yang digunakan untuk membuat tiga IED yang diperkirakan memiliki radius ledakan sampai 30 meter. “Jangkauannya sangat luas. Alat itu akan menyebabkan banyak kematian jika diledakkan festival bir,” tambah Fauzi Harun.
Kontraktor yang diidentifikasi adalah seorang pria berusia 25 tahun, diduga terkait dengan sel militan yang melakukan serangan granat di sebuah bar Movida yang berada di pinggiran ibu kota tahun lalu. Serangan tersebut telah melukai delapan orang.
Penyerangan tersebut diperintahkan oleh seorang militan Malaysia yang berbasis di Suriah dan dianggap sebagai serangan pertama yang berhasil dilakukan oleh ISIS di negara tersebut. Polisi masih menyelidiki apakah ketiga tersangka tersebut telah menerima perintah dari pihak lain.
Sekitar 6.000 orang telah diperkirakan menghadiri Better Beer Festival, yang menampilkan kerajinan bir dari setidaknya diikuti 11 negara, menurut penyelenggara acara tersebut. Serangan terhadap kegiatan tahunan tersebut telah membuat festival menjadi diundur penyelenggaraanya di bulan lalu.
Protes terhadap peristiwa yang dianggap kebarat-baratan dan tidak Islami biasa terjadi di Malaysia yang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Malaysia. Biasanya protes dipimpin oleh partai oposisi Partai Islam Pan-Malaysia (PAS) dan lembaga swadaya masyarakat Islam konservatif.
“Sejak Januari, Malaysia telah menahan 78 orang yang diduga memiliki hubungan dengan IS dalam tindakan keras terhadap militansi,” sebut Mohamad Fuzi. (Ant)