Teknologi Prediksi Musim Bantu Petani Cegah Gagal Panen
KUPANG —- Penggunaan teknologi untuk membantu petani dalam menentukan musim tanam serta prediksi iklim dan hama memang sangat dibutuhkan. Apalagi saat ini adanya perubahan iklim sehingga para petani bisa terhindar dari gagal tanam dan gagal panen.
Demikian disampaikan Dr.Polce Nikodemus Nainiti dosen di Universitas Kristen Arta Wacana saat ditanyai Cendana News, Senin (30/10/2017) terkait penggunaan alat telemetri dan aplikasi RiTX dalam membantu petani.
Data yang dicatat alat Telemtri kata Niko sapaannya seminggu sekali diambil oleh para ahli dan dianalisa dan hasilnya disampaikan kepada para petani melalui diskusi dalam kelompok tani untuk menentukan langkah yang diambil.
“Alat ini kami sudah coba di areal persawahan kelurahan Tarus kabupaten Kupang dan bisa membaca data pada hamparan sawah maksimal 100 hektare untuk lahan datar dan 10 hektar untuk lahan sawah dan kebun yang berbukit,” terangnya.
Lebih dari itu, sambung Niko,melalui implementasi program pengembangan padi menggunakan metode SRI (System Of Rice Intensification) yang didanai Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) sebuah lembaga yang dibentuk Bappenas RI,masyarakat juga dilibatkan dalam menganalisis ekologi dan perubahan iklim.
“Melalui penerapan teknologi telemetri, diharapkan masyarakat menjadi lebih memahami manajemen pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim,” sebutnya.
Selain itu,lanjut Niko, juga ada aplikasi RiTX dimana didalamnya terdapat fitur-fitur seperti Topik Tanya Jawab berisi hal praktis dan teknis pertanian, artikel, memuat informasi pertanian seperti hama,jenis komoditi,harga dan lainnya, e-Commerce yang memudahkan petani memantau harga pasar dan melakukan jual beli.
Juga terdapat fitur Laporan Panen berisi sistem pelaporan yang jelas dan terpercaya yang dapat dilihat petani dan calon pembeli,Rekomendasi Proudk,berisi produk-produk terbaik untuk membantu petani mendapatkan hasil pertanian yang maksimal serta Pinjaman KUR berisi pengajuan kredit dengan basic data dan ketersedian pemilik modal.
“Nantinya data dari alat Telemetri dan aplikasi RiTX ini akan dimasukan ke dalam sistem di telepon genggam Android sehingga para petani bisa melakukan segala aktivitas berdasarkan informasi yang disediakan sehingga memudahkan para petani memperoleh informasi,” terangnya.
Dr. Murtiningrum, Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada Cendana News Sabtu (20/10/2017) di Kelurahan Tarus, Kabupaten Kupang menjelaskan,dalam program dengan metode SRI pihaknya bekerjasama dengan Universitas Kristen Artha Wacana di Kupang.
“Di dua daerah percontohan yakni di kelurahan Tarus dan desa Baumata kabupaten Kupang ditempatkan dua orang dosen dari universitas di kota Kupang ini yang bertugas menjadi pendamping bagi kelompok tani,” ungkapnya.

Adanya pendamping yang merupakan warga asli daerah tersebut yang juga berdomisili di sana lanjut Murti, diharapkan membuat petani mudah dalam menjalin komunikasi dan mempermudah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi nantinya di mana setelah dua tahun program selesai petani sudah bisa menerapkan teknologi SRI tersebut.
Lebih dari itu, melalui implementasi program ini ucapnya, masyarakat juga dilibatkan dalam menganalisis ekologi dan perubahan iklim melalui penerapan teknologi telemetri, sehingga masyarakat menjadi lebih memahami manajemen pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim.
“Dengan demikian, program yang dilakukan dapat mendorong kemandirian kelompok tani dalam menentukan metode pertaniannya mulai dari proses pembibitan, penyimpanan, hingga pendistribusian hasil pertanian yang menguntungkan masyarakat itu sendiri,” pungkasnya.
