Sumbar Targetkan Penambahan 15.000 Haktare Lahan Kedelai di 2017
PADANG — Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengatakan saat ini produksi hasil kedelai Sumbar masih rendah yakni berkisar 1,15 hingga 1,32 ton per haktare (ha) dengan luas tananam berflutuasi sangat signifikan, sekitar 296 ha.
Ia menyebutkan, produksi kedelai di Sumbar tidak mencukupi kebutuhan sebesar 241,05 ton per bulan atau 2.892,6 ton per tahunnya dan harus memasok dari luar seperti Jambi, Riau, dan Medan.
“Jadi untuk memenuhi kebutuhan, kita menargetkan penambahan lahan kedelai pada tahun ini seluas 15.000 ha,” katanya pada kesempatan melakukan Pencanangan Gerakkan Tanam Perdana Serempak Kedelai Tahun 2017, di Kabupaten Solok Selatan, Jumat (6/10/2017).

Menurutnya, target 15.000 ha itu dapat dicapai dengan menyebarkan lahan tanaman kedelai kepada 10 kabupaten di Sumbar. Artinya, jika di Sumbar telah memiliki 15.000 ha lahan kedelai, maka diperkirakan produksi kedelai bisa mencapai 18.000 ton.
Nasrul menyebutkan tingginya kebutuhan kedelai di Sumbar bukanlah tanpa alasan, karena di Sumbar sendiri ada belasan perusahaan tahu dan tempe yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
“Jadi kabupaten dan kota di Sumbar yang turut bertanam kedelai itu ada di Kabupaten Pasaman, Padang Pariaman, Pasaman Barat, Limapuluh Kota, Agam, Tanah Datar, Sijunjung, Dharmasraya, Solok Selatan dan Kabupaten Pesisir Selatan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar, Candra juga mengatakan, ada kendala yang dihadapi petani kedelai di Sumbar, seperti ada yang menilai tanaman kedelai kurang menarik.
Hal ini dikarenakan kondisi lahan, sebab tanaman kedelai memerlukan air yang cukup selama pertumbuhan. Padahal tidak semua kondisi lahan perkebunan di Sumbar yang bisa menghasilkan air yang cukup.
“Jadi menetapkan target 15.000 ha untuk luas lahan tanaman itu, merupakan upaya pemerintah untuk mengajak petani untuk turut menanam kedelai,” ungkapnya.
Menurutnya, saat ini langkah cepat yang perlu dilakukan ialah mempersiapkan sarana dan prasarana yang memadai untuk petani kedelai. Tidak hanya itu, alasan kuat untuk menambah luas lahan kedelai di Sumbar, adanya instruksi dari Kementrian Pertanian untuk mewujudkan swasembada kedelai sehingga dibutuhkan kerjasama dengan TNI-AD.
Dengan adanya komitmen untuk swasembada kedelai itu tentunya bisa membuat Sumbar ataupun Indonesia tidak lagi bergantung pada kedelai impor.
Sementara di Kabupaten Solok Selatan sendiri, tepatnya di Jorong Sungai Sundra merupakan yang terbesar lahan kedelei nya luas 600 ha. Dengan kondisi lahan yang demikian, dari target 2.500 ha di Solok Selatan sudah dapat terealisasi 1.540 ha.