Fasilitas Terbatas, SDN 1 Kuripan Torehkan Prestasi Olahraga

LAMPUNG — Puluhan piala berjajar rapi di lemari pajang yang berada di ruang kepala sekolah.  Beberapa di antaranya tidak muat dalam lemari sehingga harus dipajang di meja ruang guru. Piala-piala tersebut  merupakan hasil prestasi siswa siswa SDN 1 Kuripan didominasi kegiatan olahraga tingkat kecamatan, rayon, kabupaten bahkan provinsi.

Menurut Kepala Sekolah SDN 1 Kuripan, Muslimah  prestasi dalam bidang olahraga tersebut berbanding terbalik dengan fasilitas olahraga yang dimiliki sekolah yang berada di Jalan Keratuan Darah Putih Penengahan tersebut.

Muslimah menerangkan dengan luas lahan hanya 2205 meter persegi dan berada di lingkungan padat penduduk, sekolah hanya memiliki halaman sekolah yang akhirnya difungsikan sebagai tempat upacara bendera, tempat olahraga, serta beberapa kegiatan lain. Bangunan sekolah bahkan dipergunakan sebagai rombongan belajar sebanyak 6 kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah minus ruang perpustakaan.

“Sebagai alternatif untuk kegiatan olahraga dengan keterbatasan lahan kita maksimalkan fasilitas yang ada termasuk menjadikan halaman sebagai lokasi kegiatan olahraga dan melatih siswa beberapa olahraga yang tidak memerlukan ruangan luas,” papar Muslimah saat ditemui Cendana News, Jumat (6/10/2017)

untuk aktivitas senam kesegaran jasmani  setiap hari Jumat bagi siswa dan guru mempergunakan halaman sekolah yang terbatas. Tetapi kekurangan lahan ini  justru mendorong guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan atau guru olahraga untuk lebih kreatif dalam mengajarkan olahraga.

Dorongan dari pihak sekolah kepada para wali murid dalam menyediakan fasilitas atau sarana olahraga untuk murid bahkan dilakukan Muslimah dengan meminta para orangtua membelikan peralatan olahraga dibandingkan membelikan gawai atau barang eletronik.

Selain memberikan banyak waktu bagi anak anak alat alat yang dibelikan orangtua berupa raket, bola, bet tenis meja dan alat olahraga lain ikut mendukung tumbuh kembang anak dengan aktivitas fisik yang lebih sering dilakukan.

“Sekarang orangtua banyak ikut andil dalam mendukung kegiatan olahraga anak karena fasilitas di sekolah juga terbatas sehingga pelajaran olahraga ikut terbantu,” beber Muslimah.

Sukoco, sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan menyebut terbatasnya halaman sekolah justru memicu murid murid sekolah tersebut mengukir prestasi dalam bidang olahraga yang ikut mengharumkan nama sekolah.

Beberapa kegiatan olahraga yang ditorehkan diantaranya olahraga catur putri merebut juara II, pencak silat juara III, tenis meja putri juara III, lompat tinggi puteri juara I, karate juara III,atletik juara I, bola voli putri juara I dan beberapa cabang olahraga lain.

Beberapa siswa yang menorehkan prestasi tersebut di antaranya Junita,Fitri dan beberapa siswa lain yang dalam satu pekan ini tengah menjalani ujian mid semester.

Areal terbatas dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan olahraga serta kegiatan sekolah SDN 1 Kuripan /Foto: Henk Widi.

“Kita tidak memiliki fasilitas olahraga yang memadai seperti sekolah lain yang memiliki lapangan luas namun sebagai guru olahraga saya harus berimprovisasi memanfaatkan fasilitas yang ada,”  kata Sukoco.

Berbagai materi pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan diakui Sukoco meliputi bola kecil berupa kasti, tenis meja dan bola besar berupa sepak takraw, sepak bola, basket, bola voli dilakukan dalam areal  halaman yang terbatas.

Caranya  dibuat menjadi aktivitas permainan bola mini tanpa harus mempergunakan halaman luas. Selain itu aktivitas olahraga atletik hanya dilakukan sebatas olahraga tolak peluru dan lempar bola.

Beberapa olahraga alternatif dalam keterbatasan lahan tersebut diakui Sukoco bahkan ikut menorehkan prestasi dalam beberapa gelaran Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (02SN) di tingkat kecamatan hingga kabupaten meski diakuinya didominasi olahraga yang berada di dalam ruangan termasuk karate, pencak silat, catur.

Prestasi dalam hal akademik juga ditorehkan dengan diraihnya piala lomba olimpiade matematika yang diraih oleh salah satu siswa SDN 1 Kuripan sebagai bentuk pengembangan siswa berpestasi dalam bidang akademik.

Minimnya lahan tersebut bahkan diakui Sukoco halaman sekolah kerap disulap menjadi lapangan futsal dan fasilitas lapangan bola voli dan bulu tangkis dibuat tiang net yang bisa dipindahkan pada saat dibutuhkan agar bisa dipergunakan untuk kegiatan lain termasuk senam dan upacara bendera. Fasilitas untuk olahraga tenis meja bahkan diakuinya kerap dititipkan di ruang guru bahkan gudang, akibat tidak adanya lokal khusus sebagai penunjang aktvitas olahraga

Keterbatasan dalam fasilitas olahraga di sekolah diakui oleh Sukoco sebagai guru lulusan Sekolah Tinggi Olahraga (STO) di Metro tersebut juga terlihat dalam hal ujian teori yang diujikan kepada para siswa. Pada jenis mata pelajaran lain soal soal kerap dibuat seragam dari tingkat kecamatan melalui Unit Pelaksana Tekhnis Dinas Pendidikan kecamatan.

“Setiap mid semester bahkan semester guru olahraga juga dituntut membuat soal sendiri sesuai dengan materi yang diajarkan,” terang Sukoco.

Soal ujian mid semester dan semester yang diajarkan kepada para murid diakuinya dibagi menjadi satu jam teori dan satu jam praktek kegiatan olahraga dan menjadi tanggungjawab dan kreativitas guru olahraga.

 

Lihat juga...