Ritual Blatan Tana Suku Soge di Tana Ai untuk Pemurnian Alam
MAUMERE – Masyarakat adat atau komunitas adat Tana Ai yang mendiami wilayah timur kabupaten Sikka, meliputi kecamatan Talibura, Waiblama dan Waigete merupakan komunitas adat yang selalu mempertahankan ritual adat dalam kesehariannya.
Kepada Cendana News, Minggu (1/10/2017), Rafael Raga, SP., salah seorang warga asli Tana Ai yang juga menjabat ketua DPRD Sikka menyebutkan, ritual adat masih tetap dipertahankan dan dijalankan komunitas adat termasuk suku-suku di wilayah Tana Ai.
Ritual adat terbesar dinamakan Gren Mahe yang merupakan sebuah upacara yang diselenggarakan satu kali dalam 5 atau 7 tahun tergantung kesepakatan suku-suku, di mana semua suku berkumpul untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta atas apa yang telah diberikannya selama ini serta mengharapkan kebaikan di masa yang akan datang.
“Upacara Gren Mahe juga dimaksudkan untuk mempererat dan memulihkan kembali hubungan antara manusia dengan Pencipta, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia,” ungkapnya.

Selain itu kata Rafael, terdapat ritual Blatan Tana yang selalu dilaksanakan masyarakat Tana Ai untuk mendinginkan tanah dan alam dimana selama ini terjadi kesalahan sehingga perlu disucikan.
Ignasius Nasi, tetua adat suku Soge yang ditemui Senin (11/9/2017) dan Selasa (12/9/2017) saat menyelenggarakan ritual Balatan Tana di lokasi tanah Hak Guna Usaha (HGU) Nangahale, mengatakan, ritual ini merupakan ritual pendinginan atau pemurnian dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa yang lampau.
“Dengan adanya ritual pendinginan ini, diharapkan alam bisa menjadi tempat hidup yang baik dan memberikan kesejahteraan bagi para pemilik ulayatnya,” sebutnya.
Dahulu kala, kata Ignasius, bila ada pembunuhan atau kesalahan apapun sukunya selalu melakukan pendinginan atau pembersihan, guna menjauhkan segala musibah dari wilayah ulayat dan masyarakat adatnya.
Ritual Blatan Tana terdiri atas beberapa tahap. Pertama, Ea Wua, yakni makan sirih pinang bersama yang dilanjutkan dengan ritual pembersihan atau Roni Hok. “Dalam ritual Roni Hok, sesajen dan simbol hal-hal buruk ke Nuba yang terletak di pinggir pantai yang dipercaya sebagai tanah pertama yang diinjak oleh leluhur kami”, ujarnya.
Tahap kedua, lanjut Ignasius, dilakukan ritual Likong Daha atau mengumpulkan bahan makanan yang akan diolah atau dimasak untuk disantap bersama seluruh anggota suku dan semua yang hadir. Setelah makanan masak dan akan dihidangkan, dilanjutkan dengan ritual ketiga yang dinamakan Pla’a atau santap bersama, yang biasanya diikuti dengan menyanyikan lagu daerah dan menari bersama dalam suasana kegembiraan.
“Setelah itu dilanjutkan dengan ritual keempat, Pele, guna meminta leluhur, Sang Pencipta dan alam memberikan berkah dan perlindungan,” terangnya.
Tahap kelima, atau ritual terakhir, sambung Ignasius, dinamakan Pati Blatan Tana atau pendinginan tanah, dengan menyembelih seekor babi dengan memenggal kepalanya, lalu darahnya disiramkan ke tanah sebagai simbol mendinginkan.
“Ritual ini juga turut memperbaiki hubungan antara anak-anak korban dan pelaku dalam persitiwa pembantaian PKI pada 1965 dan 1966 silam, juga beberapa anggota suku yang merasa telah melakukan kesalahan tertentu”, pungkas Ignasius, yang ikut menyumbangkan seekor babi dan membuat kurban khusus dalam ritual tersebut untuk memohon pengampunan pada alam, leluhur dan Sang Pencipta.