PON 2020, Balap Sepeda untuk Atlet U-21

YOGYAKARTA –– Pekan Olahraga Nasional (PON) baru akan digelar tiga tahun lagi. Namun regulasi baru sudah ditetapkan untuk cabang olahraga balap sepeda. PB Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) memutuskan bahwa cabor balap sepeda hanya bisa diikuti atlet U-21.

Wakil Ketua Umum PB ISSI Muhammad Beny Subagya mengungkapkan, keputusan tersebut disepakati merespons usulan beberapa provinsi yang menginginkan agar cabor balap sepeda diikuti atlet U-21. Keputusaan ini dinilai sangat positif untuk mendorong proses pembinaan atlet.

“Jadi kalau ada yang sudah ikut PON sekali, pada PON berikutnya sudah tidak bisa lagi. Ini sudah disepakati, pada PON 2020 di Papua atlet balap sepeda hanya U-21,” tegas Beny, Senin (30/10/2017) pagi.

Ia menjelaskan, dengan aturan seperti ini, maka daerah yang telah melakukan pembinaan secara intensif dapat merasakan hasil dari pembinaan tersebut. tidak seperti saat ini, di mana atlet binaan justru dimanfaatkan daerah lain yang memiliki budget lebih besar.

“Sekarang kan ada transfer atlet. Nah daerah sudah capek-capek melakukan pembinaan, tiba-tiba diambil daerah lain yang punya duit banyak. Jadi besok tidak bisa begitu, agar ada jenjang prestasi dan pengkaderan,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Beny, pihaknya berasumsi apabila tidak dilakukan pembatasan usia maka prestasi yang diraih tidak akan merata dan mematikan proses kaderisasi. Karena satu atlet yang cukup menonjol, akan terus mendominasi di event berikutnya.

Beny mengakui, PON merupakan puncak prestasi atlet nasional, meski begitu atlet tetap bisaa berprestasi kendati tidak lagi membela daerahnya di ajang PON. Atlet bisa bergabung dengan klub dan bertanding atas nama klub. Terlebih saat ini banyak klub yang tumbuh dan bisa menjadi sandaran atlet.

Keberadaan klub didukung banyaknya event yang digelar termasuk event berskala nasional maupun internasional. Seperti Tour de’ Indonesia, Tour de Singkarak, Tour de Sulawesi, Ambon dan lainnya. “Tahun depan kita juga akan menggelar Tour de Indonesia,” pungkasnya.

Wawan Harmawan, Ketua Umum Pengda ISSI DIY mengaku siap menerima keputusan PBSI terkait pembatasan usia atlet pada PON 2020 di Papua. Wawan mengaku tidak khawatir karena DIY memiliki atlet muda potensial yang bisa diandalkan.

Hanya saja, pihaknya dituntut bekerja keras memaksimalkan kesiapan atlet mengingat DIY belum memiliki sekolah olahraga. Yang ada saat ini hanyalah kelas khusus olahraga.

“Itu baru menuju saja, karena kurikulumnya belum menunjang. Kami harus bisa menyiasati ini agar atlet kami bisa maksimal,” katanya.

Wawan Harmawan, Ketum Pengda ISSI DIY mendukung kebijakan PB/Foto: Sodik.
Lihat juga...