Perajin Rotan Mengeluh, Daya Beli Masyarakat Turun

MALANG – Geliat usaha kerajinan rotan alami di kota Malang dalam beberapa tahun belakangan ini semakin lesu. Hal tersebut tidak terlepas dari terus menurunnya daya beli masyarakat. Ditambah lagi maraknya hasil kerajinan rotan sintetis yang banyak beredar di pasaran sehingga menyebabkan nasib perajin rotan alami semakin terpuruk.

Hal inilah yang dikeluhkan salah satu perajin rotan alami, Yanne Pribowo, owner Ryo Handicraft. Meneruskan usaha kerajinan rotan dari orang tuanya yang sudah dirintis sejak tahun 1998, Yanne saat ini terus berinovasi agar produk kerajinannya tetap diterima pasar. Meskipun saat ini sudah banyak kerajinan rotan sintetis yang beredar, namun Yanne tidak tertarik untuk menggunakan rotan sintetis dan lebih memilih tetap menggunakan bahan natural dari rotan asli.

Aneka produk kerajinan rotan yang dikembangkan Yanne. Foto: Agus Nurchaliq

“Saya tetap menggunakan rotan asli karena biasanya orang luar negeri terutama orang Amerika lebih suka yang alami daripada yang sintetis,” ujarnya.

Yanne mengaku, sebenarnya dulu produknya sudah rutin dikirim ke Amerika, sebelum tragedi World Trade Center (WTC). Saat itu orang Amerika suka dengan tas berbahan rotan buatannya. Tapi setelah tragedi WTC, permintaan anjlok. Jadi saat ini pemenuhan kebutuhan kerajinan rotan hanya untuk lokal, tidak seperti dulu. Apalagi sekarang juga kebanyakan kerajinan anyaman beralih ke sintetis.

“Sekarang kirimnya kebanyakan ke Bali dan Medan, meskipun pesanan mereka juga tidak sebanyak dulu,” ujarnya.

Untuk harga kerajinan rotannya sendiri, Yanne mematok harga mulai Rp10 ribu hingga jutaan rupiah. Harga Rp10 ribu untuk vas bunga dan keranjang buah dari rotan, sedangkan untuk satu set meja dan kursi dengan harga kisaran Rp2 juta.

Menurut Yanne, ketersediaan bahan baku sangat melimpah. Selain menggunakan rotan alami, Yanne juga mempercantik dengan anyaman dari tanaman mendong, enceng gondok, dan pelepah pisang.

“Usaha saya ini minim alat, tapi banyak di tenaga kerja, padat karya. Jadi semua dikerjakan handmade,” tuturnya.

Lebih lanjut, diakui Yanne, dalam dua tahun belakangan ini, daya beli masyarakat sangat kurang terutama di tahun 2017 sehingga otomatis menyebabkan berkurangnya permintaan kerajinan rotan oleh konsumen.

Untuk itu ia berharap ke depan pemerintah bisa segera memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia sehingga daya beli masyarakat bisa meningkat lagi.

Selain itu Yanne meminta agar pemerintah turut berperan aktif dalam membantu pemasaran. Dalam hal ini pemasaran melalui pameran.

“Pameran-pameran yang biasanya diadakan pemerintah saat ini menurut saya masih belum memenuhi sasaran, karena mereka yang diberangkatkan untuk ikut pameran kebanyakan bukan perajin asli. Mereka hanya mengambil barang dari orang lain atau istilahnya kulakan,” ungkapnya.

Sementara itu, disebutkan Yanne, selain terus melanjutkan usaha kerajinan rotan, saat ini ia juga mengembangkan usaha lain berupa kerajinan limbah bulu shuttlekock.

Kursi anyaman rotan. Foto: Agus Nurchaliq
Lihat juga...