Umat Hindu Ketapang, Lampung Lakukan Persiapan Jelang Galungan

LAMPUNG — Ratusan warga di beberapa desa di Kecamatan ketapang diantaranya di Desa Bangunrejo, Pendowo, Legundi, Ruguk, Sidoluhur, Sumbernadi serta beberapa desa lain yang didominasi pemeluk agama Hindu Bali mulai melakukan persiapan menjelang Hari Raya Galungan yang akan jatuh pada 1 November 2017.

Di antaranya terdapat Putu Wastian (23), ketika ditemui Cendana News sedang menyiapkan bambu sepanjang 15 meter. Bmabu ini dipergunakan sebagai bahan pembuatan penjor dan akan dipasang di depan rumahnya. Dia akan melakukan pembersihan pura merajan atau pura sanggah dengan penyiapan sesaji dan pemberian hiasan pada pura dengan kain kain khusus.

Warga Dusun Siring Dalem Desa Sripendowo ini mengungkapkan persiapan telah dilakukan oleh masyarakat sebelum sore hari. Kata Wastian pada sore nanti seluruh persiapan harus sudah beres dan kegiatan persembahyangan di pura keluarga sudah harus dilakukan.

Selanjutnya digelar persembahyangan di pura bersama Pura Tri Tunggal Buana Nirwana. Persiapan pembuatan penjor oleh kaum laki laki juga dilakukan oleh kaum perempuan yang mempersiapkan berbagai perlengkapan sembahyang menyambut galungan.

“Kami menyiapkan pembuatan penjor biasanya gotong royong namun karena sebagian masih sibuk bekerja di kebun sehingga harus berbagi tugas untuk persiapan Galungan dengan target sore ini semua penjor sudah didirikan dan pura sanggah harus sudah siap,” terang Putu Wastian, Selasa (31/10/2017)

Wastian menyebut sesuai dengan kalender Bali perayaan Galungan pada Tahun Caka 1939 Hari Raya Galungan yang merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma sebagai hari raya besar umat Hindu selain Kuningan dan Nyepi. Persiapan bahkan telah dilakukan beberapa hari sebelumnya agar persembahyangan pada hari raya Galungan berjalan dengan baik dan bisa berjalan khidmat.

Persiapan Hari Raya Galungan juga dilakukan oleh Nyoman Subamio (51) dan Ketut Wiryaningsih (47) di Dusun Buana Nirwana Desa Bangungrejo Kecamatan Ketapang yang tengah menyelesaikan pembuatan penjor, penyiapan pura keluarga serta penyiapan alat persembahyangan.

Dibantu sang anak dan isteri dirinya mengaku mempersiapkan pembuatan penjor sejak sehari sebelumnya sehingga bisa selesai siang hari agar tengah hari penjor bisa didirikan di depan rumah yang ada di Jalan Lintas Timur Sumatera tersebut.

Nyoman Subamio menyebut pada Hari Raya Galungan dirinya sebagai umat Hindu melakukan persembahan ke hadapan Sang Hyang Widi dan Dewa/Bhatara dengan segala manisfestasinya sebagai tanda puji syukur atas segala rahmat dan keselamatan selanjutnya. Persembahan kepada Sang Hyang Widi tersebut diakuinya disimbolkan dengan pembuatan sajen dan penjor di setiap rumah.

Putu Wastian , warga Sri Pendowo Ketapang Lampung Selatan menyiapkan penjor jelang Hari Raya Galungan /Foto: Henk Widi.

Ia menuturkan proses pembuatan sajen atau dikenal banten yang dibuat dari janur kuning selanjutnya diisi dengan beberapa bunga,porosan janur berisi sirih, kapur, jajanan pasar, buah, pisang sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur kepada sang Pencipta.

“Kita siapkan penjor sehari sebelum Galungan sebagai sebuah sarana yang mengandung filosofi meski penjor dibuat dari bambu dan janur pohon aren atau kelapa namun syarat makna,“terang Nyoman Subamio.

Penjor ungkapnya merupakan simbol yang mengandung filosofi kerendahan hati dengan semakin berisi semakin merunduk sekaligus sebagai simbol kemakmuran sehingga disebut Naga Wasuki yang berisi ambu atau janur aren dilengkapi dengan berbagai tambahan sesaji lain diantaranya digantungkan kelapa, padi, jajanan, serta hasil karya usaha manusia.

Perayaan Galungan yang berdasarkan penanggalan Bali atau Pawukon jatuhnya 210 hari atau 6 bulan sekali tersebut sekaligus menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan memaknai hari kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan). Dilanjutkan Manis Galungan dengan melakukan upacara nganyarin atau penyucian merajan/sanggah kemulan yang ditujukan kehadapan Hyang Kawitan dan Leluhur.

Menurut Nyoman Subamio yang pernah menjabat sebagai pengurus Parisadha Hindu Dharma Indonesia Ketapang tersebut saat ini ada sebanyak 700 lebih kepala keluarga pemeluk agama Hindu yang tinggal di wilayah Ketapang dan tersebar di sebanyak 10 desa.

Salah satu di antaranya Desa Tridharmayoga merupakan salah satu desa yang merupakan warga pengungsian Gunung Agung di Bali pada 1963 dan menjadi transmigran yang menetap di Lampung Selatan hingga kini.

Ketut Wiryaningsih menyiapkan Banten atau Sajen untuk sembahyang Hari Raya Galungan /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...