Pemda Sikka Diminta Siapkan Pasar Khusus Tenun Ikat
MAUMERE – Pemerintah Kabupaten Sikka diminta untuk menyiapkan pasar khusus bagi para kelompok tenun dan pedagang untuk menjual hasil karya tenun ikat Kabupaten Sikka sebab selama ini penjualan kain tenun masih dilakukan terpencar-pencar sehingga menyulitkan pembeli mengetahui apalagi pemesan dalam jumlah banyak.
Demikian disampaikan pedagang tenun ikat asal Mapitara yang selama ini berjualan di Pasar Alok Maumere, Tadeus Tara, saat ditemui Cendana News, Selasa (24/10/2017) terkait mulai menurunnya pembelian kain tenun ikat akibat kurangnya perhatian pemerintah.
Dikatakan Tadeus, dengan adanya pasar khusus atau los khusus dengan jumlah yang banyak maka semua penjualan tenun ikat akan terpusat di satu tempat dan memudahkan pembeli untuk berbelanja khususnya pembeli dari luar daerah seperti wisatawan maupun pedagang besar.
“Selama ini ada yang jual di pasar Tingkat Maumere, ada di Pusat Jajanan dan Cinderamata, di pasar Alok bahkan di rumah-rumah serta sanggar-sanggar yang ada di beberapa tempat di desa sehingga belum terpusat di suatu tempat,” ujarnya.
Tadeus menyesalkan minimnya perhatian pemerintah sebab pusat jajanan dan cinderamata yang dibangun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka los untuk berjualan pun hanya belasan saja dan itu diisi oleh penjual makanan dan minuman juga.
“Tenun Sikka sudah terkenal berkat pemecahan rekok MURI jumlah penenun terbanyak. Tetapi setelah itu kegiatan tersebut tidak ada. Apalagi tindak lanjut terkait promosi dan penyediaan los khusus,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Theresia Nona Ice Muda dari kelompok tenun Kembang Sutra di kelurahan Nangalimang yang sudah terkenal berkat karya tenun ikatnya yang memiliki kualitas bagus dan sering disambangi pembeli yang selalu membeli di rumah ketua kelompok.
Dikatakan Theresia, saat ini banyak motif kain tenun ikat Sikka yang dipalsukan dan diprinting seperti batik oleh para perajin di Jepara sehingga membuat penjualan kain tenun ikat pun ikut terpengaruh karena motif printing harganya lebih murah dan kainnya juga lebih tipis. Tetapi pemerintah Kabupaten Sikka tidak melakukan protes atas perilaku ini.
“Kasihan para penenun di desa-desa yang sudah capek menenun tetapi harga tenun ikat Sikka kalah bersaing dengan kain tenun printing yang membanjiri pasar dan sangat merugikan para perajin di Sikka sebab harganya jauh lebih murah,” sesalnya.
Theresia meminta pemerintah serius menangani permasalahan ini bila masih ingin melihat kain tenun Sikka tetap lestari. Apalagi kain tenun printing juga memasuki pasar di kota-kota besar di Jawa dan pulau-pulau lainnya. Bahkan di NTT sendiri tenun printing juga dijual.
