Jangan Bersandar pada Bahu Pemuda Rapuh!

Yang mendirikan Negara Indonesia adalah Pemuda. Yang mempertahankan tegak kokohnya juga Pemuda. Yang mengamankan Negara pada 1965 dalam peristiwa Revolusi juga Pemuda. Demikian pula yang memperbaiki sistem politik dan pemerintahan pada 1998, juga Pemuda.

Terasa masih hangat dalam ingatan kita, karena bulan ini masih bulan Oktober. Bangsa Indonesia memiliki peristiwa sejarah fundamental yang berguna bagi berdirinya, kini tegak dan kokoh NKRI, seperti yang kita rasakan sekarang ini. Tanpa ada penanaman rasa nasionalisme kepada khalayak luas, bangsa Indonesia tidak akan bisa hidup seperti sekarang ini.

Itulah sepintas lintasan catatan indah atas pemuda dan kebangsaan Indonesia. Begitu bangga hati ini dan senang mengenang semua perjuangan pemuda kala itu. Timbul dalam benak pikiran, kita dapat menaruh harapan bagi kehidupan yang damai dan sejahtera.

Kenangan perjuangan gigih para pemuda di masa sebelum kemerdekaan, kini sepertinya telah pudar, didominasi perdebatan politik yang disebabkan oleh sikap mementingkan kepentingan diri dan kelompok. Tentunya, kita akan bangga melihat perdebatan itu terjadi untuk meningkatkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Perdebatan itu hanya untuk menentukan tindakan apa yang pantas dan proses hukum apa yang pantas diberlakukan bagi anggota politik dan pejabat partai yang melanggar hukum.

Kenangan itu betul-betul pudar, karena penyelenggara pemerintahan dan komponen bangsa tidak lagi berbicara prestasi atau perbuatan baik yang berlandaskan pada kepentingan bangsa. Lihatlah, para politikus berbicara penyelesaian hukum, tetapi masalah hukum tidak pernah terselesaikan. Pemerintahan berbicara peningkatan anggaran, namun prioritas sasaran justru kesulitan.

Kebutuhan hidup masyarakat bertambah menghimpit. Pemuka agama malah terlibat pula dalam perdebatan, bahkan berbicara atas nama kebohongan. Bahkan, sebagian pihak menjawab, tindakan itu ditujukan untuk kritik yang tidak membangun.

Kenangan atas perjuangan para pemuda saat itu, semakin terhalang oleh pemandangan pemuda saat ini yang kehilangan idealisme. Pemuda-pemudi kita saat ini malah bingung memikirkan hasil UNAS. Pemuda yang kuliah di perguruan tinggi, masih bingung memenuhi biaya pendidikan yang semakin hari semakin meningkat. Aksi dan tantangan hanya sebatas penurunan biaya pendidikan dan kepentingan dirinya.

Kenangan harum perjuangan pemuda itu juga semakin pudar, tatkala bangsa Indonesia berbicara santun dan berpolitik santun, namun hasilnya tidak mencerminkan kesantunan. Justru sebaliknya, yang terjadi hanyalah sebuah konspirasi dari perilaku yang tidak santun. Sehingga, menambah keprihatinan kita semua.

Generasi muda saat ini sudah tidak lagi menjadi tonggak dan pilar kebangsaan yang berpikir dalam kerangka idealitas dan realitas. Perilaku pemuda itu justru memperdalam permasalahan bangsa, serta menambah jumlah masalah.

Beberapa kasus hukum yang terjadi belum lama ini, banyak menjerat generasi muda dalam konteks politik praktis, baik di tingkat nasional maupun daerah. Padahal, mereka adalah pemuda harapan bangsa yang memiliki alih peran sebagai generasi politik dan birokrasi.

Barangkali, kita berpikir, generasi penerus bangsa, banyak yang berperilaku tidak baik. Namun, kepada siapa lagi masa depan dan harapan luhur itu kita sandarkan, kalau bukan di pundak para pemuda? Bercermin dari perjalanan bangsa yang penuh perjuangan para pahlawan, maka kita menjadi sangat prihatin dengan generasi muda penerus bangsa di era reformasi ini.

Demikian pula, perilaku generasi muda di sekolah yang rebutan kursi untuk belajar, tapi ketika di luar sekolah malah berkelahi. Bahkan, dalam kehidupan beragama pun, banyak pemuda yang tidak taat dan rukun. Apakah situasi ini dapat diubah? Apakah bisa diperbaiki? Bagaimana caranya?

Saya pikir, salah satu yang harus dilakukan adalah menumbuhkan rasa optimisme. Dengan sikap yang optimis, maka harapan bagi kita masih ada. Optimisme merupakan kekuatan untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan ini. Menjadi suatu keharusan, karena ketika optimisme hilang, yang tersisa hanyalah penderitaan.

Kita perlu menyampaikan beberapa upaya yang harus dipahami dan dilakukan, sebagai alternatif untuk melepaskan diri dari situasi yang dihadapi pemuda di masa seperti sekarang ini. Alangkah indah, ketika seorang pemuda memiliki niat yang baik, sadar sebagai insan ciptaan Tuhan, memiliki tekad dan semangat, memiliki simbol pemersatu, memiliki cara pandang berbangsa dan bernegara, memiliki suri tauladan, serta memiliki tanggung jawab.

Apabila berbagai konsep dan saran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, para pemuda-pemudi tentu dapat menciptakan ketahanan dalam bingkai nasionalisme bangsa Indonesia. Karena, di dalam diri bangsa Indonesia akan tumbuh rasa tanggung jawab, kepedulian, dan saling pengertian. Ketiga kondisi kejiwaan tersebut yang akan mampu membentuk dan membangun kondisi kepribadian yang tangguh sebagai bagian dari unsur ketahanan.

Sebenarnya, kondisi semacam itulah yang menjadi sasaran pokok serangan musuh atau negara luar untuk menghancurkan bangsa Indonesia. Selama ini, orang hanya berpikir bertahan melalui senjata dan ketahanan, tetapi tidak pernah berpikir senjata dan perlengkapan, serta keimanan yang selalu diperbaiki dan dijaga.

Sebaliknya, bila alternatif itu tidak mendapat hasil yang baik, maka bangsa Indonesia akan kecewa dengan dirinya sendiri. Generasi tua kecewa dengan generasi muda, demikian pula generasi muda kecewa dengan generasi tua. Rakyat kecewa dengan pemerintah, pemerintah pun kecewa dengan rakyat.

Pemerintah bisa saja beralasan, saat ini negara tidak ada duit. Rakyat pun mengatakan, menghadapi keadaan ini, apa yang dapat diperbuat oleh rakyat. Bila situasi saling menyalahkan ini terus terjadi, maka perselisihan atau pertikaian tinggal tunggu waktu saja. Keadaan inilah yang sangat diharapkan negara luar. Dengan demikian, negara asing akan mudah menguasai dan mengendalikan pemerintahan Indonesia, bagi kepentingannya.

Berbagai persoalan bangsa Indonesia dan pemuda tidak akan selesai hanya dengan mengkritik dan menghujat. Kita harus mampu bangkit untuk membangun kemandirian dan saling mencintai. Dengan demikian, kita akan bertahan ketika menghadapi situasi sesulit apa pun. Pemerintah harus memperjuangkan harkat dan martabat bangsa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Narasi lirih ini, saya susun sebagai partisipasi dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Karena hanya ini yang dapat saya lakukan sebagai warga Negara Indonesia. Semoga, tulisan ini bermanfaat bagi generasi muda sekarang dalam mempersiapkan diri, berperan bagi pengabdian kepada Nusa dan Bangsa Indonesia yang tercinta dalam Wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta Kebhinekaan Tunggal Ika, di negeri Indonesia yang semoga akan senantiasa merdeka hingga kapan pun.

Jangan sampai negara ini hancur! Untuk kelangsungan Indonesia, jangan sekali-kali bersandar pada bahu dan jiwa para pemuda yang rapuh!

Lihat juga...