Gas Mahal, Warga Rimau Balak Pertahankan Tungku

LAMPUNG – Berada di wilayah terpencil dengan akses terbatas menjadi keseharian warga yang bertahun-tahun tinggal di Dusun Peritaan, Gusungberak, Sukamaju, Kampung Buah yang masuk wilayah Desa Sumur Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan.

Zubaedah, warga Dusun Gusungberak Desa Sumur salah satunya menyebut tinggal di Pulau Rimau Balak sejak belasan tahun silam setelah menikah dengan nelayan yang memutuskan menetap di pulau yang berada di Selat Sunda tersebut. Akses listrik, air, transportasi serta kebutuhan bahan bakar tidak lantas membuat dirinya dan warga lain berputus asa bahkan masih tetap melakukan aktivitas seperti masyarakat yang tinggal di daratan Sumatera.

Zubaedah mengungkapkan sebagai ibu rumah tangga yang umumnya sudah memasak menggunakan kompor gas ia juga sudah mempergunakan alat memasak tersebut sesuai program konversi dari minyak bumi ke gas bersubsidi ukuran 3 kilogram. Meski sudah digulirkan sejak beberapa tahun silam ia mengaku penggunaan tabung gas elpiji jarang dipergunakan dengan alasan penghematan dan sulitnya mendapatkan gas elpiji.

“Di pulau memang ada warung yang menyediakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram namun harganya berbeda dengan warung yang ada di daratan Sumatera sehingga saya harus berhemat menggunakan gas,” beber Zubaedah warga Dusun Gusungberak Desa Sumur Kecamatan Ketapang yang berada di Pulau Rimau Balak saat dihubungi Cendana News, Selasa (3/10/2017).

Arkim mengangkut pasir serta bahan bangunan lain menggunakan perahu ke Pulau Rimau Balak yang dibeli dari Pulau Sumatera. [Foto: Henk Widi]
Sebelum ada tungku tanah yang dibelinya dari daratan Pulau Sumatera Zubaedah bahkan masih mempergunakan tungku dibuat dari susunan batu untuk memasak air kebutuhan minum, memasak nasi dan juga memasak berbagai keperluan sehari hari akibat tidak adanya pasokan listrik yang bisa dipergunakan untuk menanak nasi. Bagi pemilik listrik tenaga surya dengan daya yang besar warga lain bisa mempergunakan listrik tenaga surya untuk berbagai keperluan termasuk menanak nasi namun Zubaedah menyebut listrik tenaga surya di rumahnya hanya dimanfaatkan untuk penerangan.

Berbeda dengan harga gas elpiji ukuran 3 kilogram di wilayah Desa Sumur yang ada di darat dan wilayah Bakauheni yang dijual seharga Rp23 ribu per tabung saat ini diakui Zubaedah harga elpiji ukuran tabung 3 kilogram dijual dengan harga Rp28 ribu. Harga tersebut diakuinya cukup wajar akibat biaya distribusi yang diangkut oleh pemilik warung dari pangkalan menggunakan perahu tradisional yang bersandar di dermaga Muara Piluk.

Kondisi serupa diakui oleh Mistiana, ibu rumah tangga lain di dusun yang sama menyebut, tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram saat ini dibeli oleh warga dengan cara membeli langsung ke daratan saat suaminya akan melakukan aktifitas di darat. Dalam kondisi terpaksa terutama saat cuaca buruk dirinya membeli tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram di warung yang bisa ditempuh dalam waktu setengah jam tersebut.

“Kalau sedang ke darat sekaligus kami membeli tabung gas elpiji sehingga kami harus memiliki tabung gas cadangan saat satu habis bisa membeli ke darat dengan harga lebih murah dibandingkan di pulau,” cetus Mistiana.

Tungku berbahan kayu akhirnya menjadi alternatif bahkan sarana utama memasak yang dipertahankan hingga kini oleh masyarakat Pulau Rimau Balak dengan penggunaan kayu bakar sementara tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram kerap dipergunakan untuk memasak dan menghangatkan makanan yang membutuhkan waktu cepat untuk proses pemasakannya.

Selain gas elpiji ukuran 3 kilogram yang cukup mahal di Pulau Rimau Balak, kebutuhan bahan bangunan yang didatangkan dari daratan Sumatera diantaranya batu bata, semen, besi serta material bangunan lain kerap harus didatangkan dengan perahu berbahan bakar solar sehingga harga bisa lebih mahal. Hal tersebut dibenarkan Arkim warga setempat yang akan membangun pondasi rumah menggunakan semen dan pasir yang didatangkan dari Pulau Sumatera.

“Di pulau memang tidak ada toko bangunan namun berdasarkan hitungan kami nilai bahan bangunan menjadi mahal karena ongkos angkut yang lebih dikeluarkan agar bahan bangunan bisa sampai di pulau,” terang Arkim.

Nilai satu sak semen yang dibeli di darat dengan harga Rp45 ribu diakuinya saat di Pulau Rimau Balak bisa seharga Rp60 ribu dengan per hitungan ongkos pengangkutan menggunakan mobil ke dermaga, ongkos kapal dan bongkar muat sesampainya di pulau. Belum adanya kapal ukuran besar membuat warga masih mempergunakan kapal ukuran 9 meter dengan kapasitas mesin 8 PK sebagai sarana transportasi. Sebagai warga pulau ia menyebut sudah terbiasa menikmati harga yang mahal dibandingkan harga di daratan Sumatera. Bahkan dalam penggunaan gas elpiji ukuran 3 kilogram harus selalu dihemat belum lagi barang-barang lain yang didatangkan dari Pulau Sumatera melalui dermaga Keramat dan dermaga Muara Piluk.

“Jika warga di daratan mengeluhkan kelangkaan gas elpiji, kenaikan harga, bahkan saat masih stabil kami sudah merasakan harga yang mahal. Jadi sudah terbiasa dampak dari biaya transportasi yang tinggi,” tutup Arkim.

Perahu tradisional masih jadi sarana transportasi, distribusi barang warga Pulau Rimau Balak. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...