Danpusdikzi Ingatkan Teknologi Komunikasi Bisa Menggerus Nasionalisme

BOGOR – Penggunaan teknologi komunikasi dengan tidak bijak, merupakan satu faktor yang menggerus nilai-nilai nasionalisme dan persatuan generasi penerus bangsa.

Demikian diungkapkan Komandan Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI-AD, Kolonel (Czi) Jamallulael, S.Sos, M.Si., saat ditemui usai upacara peringatan hari Sumpah Pemuda, di Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI-AD, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10/2017).

Menurutnya, ada dua poin penting yang bisa diambil dari pidato Menteri Pemuda dan Olahraga yang dibacakan pada saat upacara. Pertama, mengapresiasi para pendahulu yang dengan segala keterbatasannya, bisa bersatu dan mengadakan kongres pada 1928.

“Tapi, saat ini dengan kemudahan komunikasi, malah berlawanan dengan apa yang terjadi pada 1928”, tandasnya.

Kedua, ada imbauan untuk kembali dan menyemangati pemuda saat ini agar menghidupi nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, juga ada upaya dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 66 tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan. “Merupakan upaya untuk menghidupi nilai-nilai persatuan, serta mengilhami peristiwa 1928”, jelasnya.

Lebih jauh,  Jamal mengatakan, jika ia melihat saat ini ada degradasi nilai-nilai nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia. Pria yang pernah menjabat sebagai Aslog Kasdam V/ Brawijaya itu, memaparkan, bahwa rasa nasionalisme merupakan satu hal terpenting yang harus ditanamkan dalam diri anak muda penerus bangsa.

Jamal menjelaskan lagi, dengan keterbatasan pada 1928, namun dengan semangat untuk NKRI, mereka bisa bersatu. Karenanya, Jamal menyayangkan, dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang terjadi belakangan ini malah mendegradasi nilai-nilai tersebut. “Jiwa nasionalisme kita sudah berkurang”, tandasnya.

Jamal juga mengatakan, penggunaan teknologi komunikasi memiliki efek negatif pada penggunanya. Ada pengaruh-pengaruh negatif dari luar. Pola komunikasi yang terjadi di global society atau kampung global. Arus komunikasi dari luar lebih kuat masuk ke dalam, sehingga hal-hal itu membuat pemuda-pemudi Indonesia lebih menyukai produk-produk dan konten-konten dari luar.

“Selain itu, juga saat ini jarang yang membicarakan ke-Indoesia-an”, ujarnya, seraya menjelaskan, bahwa ego-sektoral dan ketidak-inginan untuk bersatu yang sering terjadi belakangan ini akan membuat Sumpah Pemuda menjadi slogan-slogan kosong belaka. “Semoga tidak menjadi kenangan”, tandas Jamal.

Jamal mengakui jika penggunaan teknologi komunikasi merupakan satu keniscayaan yang pasti terjadi. “Kita tidak bisa mencegah anak-anak kita, adik-adik kita, bahkan saya tidak bisa mencegah prajurit saya untuk tidak menggunakan teknologi komunikasi saat ini”, paparnya.

Menurutnya pula, penggunaan teknologi komunikasi sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia saat ini. Dirinya selalu mengingatkan prajuritnya untuk selalu bijak menggunakan media sosial. “Bahkan, Panglima juga sudah memberikan penekanan pada setiap prajuritnya untuk bijak dalam menggunakan media sosial”, pungkasnya.

Lihat juga...