Citra Rasa Buat Kopi Rumahan Rajabasa Eksis
LAMPUNG — Provinsi Lampung dikenal sebagai salah satu penghasil tanaman kopi sekaligus produsen minuman yang banyak digandrungi penikmat kopi. Apalagi saat ini menikmati kopi menjadi gaya hidup.
Beberapa produsen kopi bubuk yang ada di Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan tetap eksis meski berproduksi dengan peralatan sederhana dan cara pemasarannya hanya berkeliling. Namun produk mereka dikenal masyarakat dengan cita rasa khas meski bersaing dengan kopi kopi instan atau dikenal sebagai kopi sachet produksi pabrik besar yang sudah merambah hingga ke pelosok kampung.
Menurut Tuniah (50) salah satu perajin kopi rumahan di Desa Way Muli yang cukup banyak berada di pesisir Rajabasa, sebagian produknya dikonsumsi dalam keluarga dan sebagian baru dijual lingkup wilayah desa.
Beberapa perajin pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi sudah berhenti akibat faktor usia. Tuniah menyebut sebelum 1990 an orangtuanya adalah pembuat kopi bubuk dengan sistem tumbuk jauh sebelum mesin penggiling ada.
“Sejak orangtua saya tinggal di sini dan merantau dari Cirebon Jawa Barat pembuat kopi cukup banyak di sini dengan sistem tumbuk menggunakan lumpang batu dan proses awalnya menggunakan sangrai,” terang Tuniah salah satu pembuat kopi bubuk khas Lampung di Desa Way Muli Kecamatan Rajabasa saat ditemui Cendana News, Selasa (3/10/2017).

Seiring perkembangan zaman, Tuniah menyebut sebagian pembuat kopi bubuk mulai berhenti produksi. Hanya beberapa pembuat kopi skala industri rumahan yang masih bertahan. Dia juga pedagang makanan dan minuman di terminal Way Muli pada kurun 1990 an. Dirinya menjual kopi bubuk buatannya di kedai makanan dan minuman termasuk kopi yang banyak disukai oleh para pengemudi angkutan pedesaan.
Semenjak terminal Way Muli berubah fungsi menjadi perkampungan dan kini dirinya tak memiliki lokasi berjualan untuk menghidupi keempat anaknya dan biaya sekolah hingga kuliah. Tuniah memutuskan memproduksi kopi bubuk dan dijual keliling.
Biji kopi dibeli dari petani yang berada di kaki Gunung Rajabasa dan menghadap ke Selat Sunda selanjutnya biji kopi disangrai hingga matang dan ditumbuk halus menjadi bubuk kopi dan dijual dengan jumlah sekitar 5 kilogram per hari.
“Pembuatan kopi bubuk mulai bergeser menggunakan alat gilingan mesin tenaga disel sehingga produksi bisa ditingkatkan sekali giling bisa mencapai 70 hingga 100 kilogram,” kata Tuniah.
Meski digiling menggunakan mesin biji kopi tetap disangrainya menggunakan wajan baja dan digiling tanpa campuran untuk menjaga kualitas rasa. Kualitas rasa tersebutlah yang membuat kopi bubuknya banyak dipesan hingga ke Cirebon, Semarang, Jakarta.
Kopi buatannya dipesan hingga ke Riyadh Arab Saudi oleh anaknya yang kini menetap di Arab Saudi. Menggunakan merk dagang “Ibu Atun” ia menyebut kopi buatannya dijual dengan harga mulai Rp2 ribu, Rp4 ribu, Rp10 ribu dalam plastik berbagai ukuran.
Kopi bubuk ukuran sekitar 1 kilogram dijual Rp65 ribu menyesuaikan harga kopi robusta yang banyak ditanam petani di wilayah tersebut. Harga kopi mencapai Rp15ribu per kilogram maka kopi bubuk buatannya dijual seharga Rp45 ribu hingga Rp50 ribu. Ketika harga kopi robusta mencapai Rp20 ribu sehingga harga jual kopi bubuk mencapai Rp65 ribu.
Sebagai usaha rumahan skala kecil yang tetap eksis ia menyebut berproduksi sekali giling sebanyak 70 hingga 100 kilogram dijual dengan cara dijajakan keliling sebagian dipesan oleh konsumen.
Kopi bubuk yang diletakan dalam wadah kedap udara sehingga aromanya terasa tersebut bahkan selalu habis dalam kurun waktu dua pekan dengan omzet rata rata diakuinya mencapai Rp3 juta atau mencapai omzet sekitar Rp7 juta lebih perbulan menyesuaikan banyaknya permintaan.
“Saat pesanan banyak kopi habis semakin cepat terutama saat menjelang hari raya atau banyak hajatan bisa memesan puluhan kilogram kopi dan sisanya dijajakan dengan cara keliling ”ungkap Tuniah yang akrab dipanggil ibu Atun tersebut.

Pengrajin kopi lain di kecamatan yang sama adala ibu Enjun sebagai nama kopi yang dikenal dengan Kopi Enjun dan memiliki nama asli Junaenah (75) berada di Desa Sukaraja. Produsen kopi rumahan yang sudah memproduksi kopi sejak 1984 tersebut bahkan kini masih bertahan meski memiliki 4 anak dan 4 cucu. Usaha kopi miliknya diwariskan ke sang anak bernama Masun (29) dan sang isteri bernama Fitri (27).
Kopi Enjun buatan Junaenah diakuinya dibuat dengan cara sederhana dengan proses penyangraian tradisional selanjutnya digiling menggunakan mesin giling setelah proses penumbukan sudah ditinggalkan. Setelah digiling menjadi bubuk halus Ibu Enjun yang dibantu sang anak memasukan kopi dalam plastik sesuai pesanan dengan produksi sekali pembuatan berkisar 10 hingga 10 kilogram.
“Saya dulu banyak memproduksi kopi karena untuk kebutuhan sekolah anak tapi sekarang sudah mulai berkurang dan diteruskan oleh anak,” beber Enjun.
Rasa khas kopi tanpa campuran Enjun bahkan dipesan hingga ke Pati Jawa Tengah sementara penjualan secara keliling dilakukan oleh Enjun dari rumah ke rumah sementara oleh sang anak Masun dijajakan ke sejumlah warung dengan harga kopi sesuai ukuran dijual mulai harga seribu rupiah ukuran setengah gelas, Rp2 ribu ukuran satu gelas, Rp5 ribu ukuran 5 gelas dan Rp10 ribu ukuran 1 kobokan.

Oleh Masun sang anak kopi tersebut dijual ke warung warung kecil hingga ke kecamatan laon diantaranya Palas, Sragi, Penengahan, Kalianda dan Bakauheni dengan sistem pesanan via telepon atau minta dikirim sesuai kebutuhan. Tanpa mau menyebut omzet pasti produksi kopinya Enjun menyebut masih bisa memperoleh penghasilan ratusan ribu sekali produksi yang dilakukan beberapa hari sekali.
Ainun Najib sebagai salah satu konsumen pecinta kopi Enjun asal Pati Jawa Tengah mengaku sebagai pekerja tambak dirinya kerap membawa oleh oleh kopi saat pulang ke Jawa Tengah. Sebanyak dua kilogram kopi yang dibelinya bahkan akan dibawakan kepada keluarganya dengan harga Rp60 ribu per kilogram setelah banyak anggota keluarga menyukai kopi Enjun di kaki Gunung Rajabasa tersebut.