Buah Pinang Melimpah Bawa Berkah Bagi Kaum Wanita di Bakauheni

LAMPUNG — Budidaya tanaman pinang, jambe atau oleh warga asli suku Lampung dikenal dengan buah jebuk masih memiliki nilai ekonomis tinggi meski hanya sebagai sela, pagar di lahan perkebunan.

Salah seorang warga, Jumariah menyebutkan, buah pinang kering yang memiliki ragam manfaat, seperti campuran bahan batik, kesehatan serta berbagai keperluan lain membuat buah tersebut masih dibudidayakan warga.

Jumariah bersama suaminya yang beraktifitas sebagai pengepul menyebutkan, hampir setiap warga di wilayah Kecamatan Bakauheni, Penengahan, Rajabasa memanfaatkan pinang sebagai tanaman investasi.

Sementara itu, sistem pembelian dari petani dilakukan oleh Jumariah dan Astono yang dilakukan dengan mendatangi pemilik buah pinang melalui sistem “tebas” atau sebagian menjual langsung kepadanya.

“Sistem tebas dilakukan sejak buah pinang muda sudah kami beli lalu saat tua kami panen untuk dikupas dan dijual dalam bentuk biji pinang kering sementara sebagian sengaja dipanen setelah dipastikan sudah tua,” terang Jumariah saat ditemui Cendana News, Kamis sore (12/10/2017).

Satu pohon diakuinya ditebas dengan harga Rp40.000,- hingga Rp50.000,- atau perhitungan satu kilogram buah pinang dihargai Rp5.000 per kilogram. Hasil pinang yang sudah dikupas tersebut selanjutnya dijemur dan dijual ke pengepul besar yang selanjutnya mengirimkan ke pabrik pengolahan pinang di Jakarta dan Jambi.

Membaiknya harga buah pinang kering yang semula hanya mencapai Rp6.000 per kilogram dan kini naik menjadi Rp8.000 per kilogram ikut memberi dampak positif bagi kaum wanita di wilayah tersebut, di antaranya yang mengisi waktu sebagai pengupas pinang.

Santi, satu wanita ibu rumah tangga di Dusun Kelawi Dalam Desa Kelawi menyebut meningkatnya harga pinang ikut berimbas naiknya upah mengupas menjadi Rp1.500 per kilogram sehingga untuk hasil sebanyak 10 kilogram dirinya bisa memperoleh Rp15.000,-

“Meski upahnya kecil namun lumayan untuk menambah uang bumbu dapur dan uang jajan anak sekolah selain itu pekerjaan ini bisa dikerjakan sembari menunggu anak sekolah,” terang Santi.

Jumariah (celana merah) mengupas pinang dengan golok bersama wanita lain di Desa Kelawi dengan sistem upahan [Foto: Henk Widi]
Pada saat hasil panen cukup banyak hingga ratusan kilogram bahkan satu ton, setidaknya ada puluhan wanita yang bekerja membelah, mengupas pinang dengan alat berupa golok dan pisau.

Selain dikerjakan di lokasi pengepulan, sebagian wanita di wilayah tersebut kerap membawa pulang untuk dikupas di rumah sebagai pekerjaan sambilan.

Proses pengupasan buah pinang tersebut diakui oleh Santi sekaligus sarana interaksi dan saling bertemu antar kaum wanita di desa tersebut yang terjadi saat puncak panen buah pinang.

Lihat juga...