Bom Jalanan Tewaskan Tujuh Petani di Somalia

MOGADISHU – Sebuah bom jalanan yang meledak di luar Ibu Kota Somalia disebut-sebut telah menewaskan setidak-tidaknya tujuh orang, Minggu (22/10/2017). Lokasi ledakan bom adalah wilayah yang dikuasai kelompok garis keras yang menentang unjuk rasa untuk mengakhiri bertahun-tahun kekerasan di negara tersebut.

Ledakan bom tersebut menjadi rentetetan ledakan setelah sebelumnya, sebuah truk pembom di Mogadishu meledak akhir pekan lalu dan menewaskan setidak-tidaknya 358 orang, dengan 56 orang masih hilang. Hampir semua korban tewas adalah warga sipil dan serangan tersebut memicu unjuk rasa kemarahan di ibu kota Somalia.

Pengeboman pada Minggu menghantam sebuah minibus di desa Daniga, sekitar 40 kilometer barat laut Mogadishu. “Kami mendengar kecelakaan besar hari ini dan kami pergi ke tempat kejadian itu. Kami melihat sebuah minibus hancur dan setidak-tidaknya tujuh mayat,” ujar seorang saksi bernama Nur Abdullahi.

Petani tersebut mengatakan, seluruh korban sangat sulit untuk dikenali. Tubuh para korban hancur akibat ledakan tersebut. Daerah pengeboman tersebut dekat dengan wilayah al Shabaab kelompok garis keras yang terkait dengan al-Qaeda.

Al Shabaab selama ini dikenal sebagai kelompok yang ingin menggulingkan pemerintahan lemah yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memberlakukan hukum Islam yang ketat. “Kami takut, ratusan prajurit bertopeng ada di mana-mana dan kami mengantisipasi pemerintah akan menyerang di sini. Mereka juga menempatkan tambang di mana-mana dan hari ini kami mengemas baju kami untuk melarikan diri,” tambah Abdullahi,.

Perwira militer setempat Kapten Isa Osman mengatakan, jumlah korban tewas mungkin lebih tinggi. Minibus yang dibom diketahui membawa sekelompok petani yang sebagian besar adalah wanita. Dari penelusuran yang dilakukan, minibus tersebut membawa 10 orang penumpang.

“Kami tahu minibus meninggalkan kota Afgooye pagi ini dan membawa petani, kebanyakan wanita. Minibus membawa lebih dari 10 orang. Kami tidak bisa mendapatkan banyak rincian karena daerah tersebut tidak dikuasai oleh pemerintah,” kata kata Kapten Isa Osman dari Tentara Nasional Somalia.

Somalia terbelah oleh perang saudara sejak 1991, ketika kaum panglima perang menggulingkan penguasa dan kemudian saling serang. (Ant)

Lihat juga...