Bernilai Tinggi, Petani di Lamsel Kembangkan Okra
LAMPUNG – Memiliki kekayaan alam yang melimpah dengan dukungan saluran irigasi dari bendungan Ham Kawokan yang bersumber dari Gunung Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, ikut memberi dampak positif bagi warga di beberapa desa di aliran irigasi Ham Kawokan, di antaranya Desa Sukajaya, Sukabaru, Gayam, Banjarmasin, Gedungharta dan beberapa desa lain.
Keberadaan saluran irigasi tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh ribuan warga, salah satunya Jumadi (40) yang memiliki lahan perkebunan, persawahan, kolam ikan, sehingga pasokan air bagi lahan pertanian miliknya, lancar.
Tanaman perkebunan yang dibudidayakan oleh Jumadi bersumber dari aliran irigasi Ham Kawokan, di antaranya kakao, pisang, kelapa, cengkih, sementara padi varietas ciherang ditanam sebagai kebutuhan akan beras sebagian dijual untuk kebutuhan keluarganya.
Berkat hasil komoditas pertanian yang melimpah ia menyebut membantu ekonomi keluarganya dari hasil panen berbagai komoditas pertanian yang harganya mulai membaik tersebut.
“Kerja keras ditambah dengan infrasruktur saluran irigasi memadai sejak era Presiden Soeharto memang telah membantu warga secara ekonomi”, terang Jumadi, salah satu warga Desa Sukajaya, Kecamatan Penengahan, saat ditemui tengah mengumpulkan kayu bakar untuk kebutuhan bahan bakar memasak, Sabtu (14/10/2017).
Harga kakao atau kopi cokelat berkisar Rp20.000,- per kilogram, kelapa Rp3.000,- per gandeng, cengkih Rp100.000,- per kilogram serta gabah yang sudah mencapai Rp500.000,- per kuintal, diakui Jumadi menjadi masa kejayaan petani pekebun yang merasakan hasil dari perkebunan dan sawah di wilayah tersebut.
Kelancaran irigasi ikut menyumbang pasokan air yang dipergunakan warga sebagai sumber pengairan budidaya termasuk memelihara ikan air tawar jenis gurame dan patin.
Jumadi yang menyukai dunia pertanian, bahkan mulai menanam berbagai jenis tanaman tak hanya sebatas di kebun dan sawah, namun juga pada lahan pekarangan miliknya berbagai jenis tanaman sayuran ditanam berupa bayam, gude, sawi dan okra. Tanaman okra yang ditanamnya merupakan satu jenis tanaman yang jarang dibudidayakan petani, karena belum begitu dikenal bahkan langka di wilayah tersebut.
Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus Moench) yang merupakan tanaman tahunan yang berukuran besar seperti cabai hijau besar, berlekuk, berbulu halus dan berwarna hijau, sehingga saat dipotong terlihat banyak biji dan saat dimasak sebagai bahan kuliner akan keluar lendir dari dalamnya. Berbagai jenis sayur okra menurut Jumadi bisa diolah menjadi makanan kari, balado, campuran pembuatan karedok hingga tumis.
Selain sebagai bahan sayuran, kata Jumadi yang memiliki keluarga pernah bekerja di Arab Saudi, sayuran okra yang berharga mahal tersebut, tanaman okra juga memiliki manfaat sebagai penjaga kesehatan pencernaan serta berbagai manfaat kesehatan lain, di antaranya kesehatan mata, kulit, sistem kekebalan serta berbagai manfaat kesehatan lain. Ia bahkan mulai mengembangkan tanaman okra dua tahap dengan jumlah bibit mencapai 100 batang yang terus ditebarkan saat memiliki bibit, sehingga mulai dipanen beberapa kali.
Tanaman sayuran okra tersebut saat ini di pasaran dijual seharga Rp15.000 setengah kilogram atau Rp30.000 per kilogram, akibat belum banyak dibudidayakan dan belum dikenal masyarakat. Jumadi juga masih mengembangkan dengan menjual kepada pengepul untuk dijual ke wilayah Serang, Banten dengan harga jual bisa mencapai Rp45.000 per kilogram.
“Selagi belum banyak yang menanam, saya sengaja membudidayakan tanaman sayuran okra dan hasilnya cukup lumayan”, beber Jumadi.
Kearifan lokal masyarakat suku Lampung yang menanam berbagai jenis tanaman sekaligus memperhitungkan usia dan manfaat tanaman dengan pola tanam multy purpose tree system (MPTS) memberi dampak positif bagi warga termasuk bagi Zainal Abidin (45), yang menanam lada, kakao, cengkih, kayu medang serta tanaman lain.
Beberapa tanaman tersebut sebagian bisa dipanen mingguan, bulanan hingga tahunan, di antaranya jenis tanaman buah durian, kemiri, keluwek atau rawon dan jengkol yang memberi pemasukan ekonomi saat dijual.
Hasil ratusan ribu bahkan jutaan per pekan, diakui Zainal Abidin diperoleh dari menjual kakao, cengkih, pisang bahkan saat puncak panen sementara dari simbiosis mutualisme penanaman tanaman cabai jawa dirinya memperoleh hasil cukup melimpah.
Tanaman cabai jawa yang bisa tumbuh merambat di batang pepohonan berbagai jenis dan tidak mengganggu, katanya, telah memberi penghasilan dengan harga cabai jawa kering saat ini mencapai Rp45 ribu per kilogram dengan hasil ratusan ribu saat musim panen.
Zainal Abidin menyebut tanaman jenis Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl) yang merupakan jenis rempah dan masih berkerabat dengan lada serta termasuk suku sirih sirihan atau piperaceae dikenal juga dengan cabai jamu. Berkhasiat sebagai obat flu, demam, masuk angin, rematik, anemia dan berbagai jenis manfaat kesehatan lain.
“Sebagian sengaja dijual sebagai bahan obat yang dibeli pengepul sebagai pasokan untuk pabrik jamu dan mulai langka ditanam oleh masyarakat, sementara kebutuhan warga hanya sebagai bumbu masak,” terang Zainal Abidin.
Zainal Abidin sekaligus warga lain yang sebagian berprofesi sebagai petani dan pekebun menyebut, kreativitas dalam pola tanam ikut membantu perekonomian warga. Terlebih infrastruktur telah dibangun puluhan tahun silam semenjak pemerintahan Presiden Soeharto. Berbeda dengan wilayah lain yang harus sering kekurangan air dan menggunakan mesin pompa dan operasional yang tinggi.