Bendungan Ham Kawokan jadi Destinasi Wisata

LAMPUNG – Selain sebagai saluran irigias pertanian, Bendungan Ham Kawokan di Penengahan, Lampung Selatan, juga menjadi alternatif wisata air bagi warga sekitar.

Santi, salah satu pengunjung Ham Kawokan menikmati kesegaran air dan kesejukan udara pegunungan di lokasi tersebut. [Foto: Henk Widi]
Zainal Abidin (45), salah satu warga pemilik kebun di dekat bendungan Ham Kawokan mengatakan, lokasi tersebut kerap dikunjungi setiap hari sebagai tempat pemandian bagi warga yang jaraknya sekitar satu kilometer dari perumahan warga.

“Airnya yang sejuk menyegarkan bahkan bisa langsung diminum menjadi alasan masyarakat mengunjungi lokasi ini, dan lokasi bendungan memiliki sebanyak tiga tingkatan pada tingkat kedua dari bawah menyerupai kolam dan menjadi lokasi pemandian favorit,” terang Zainal Abidin, warga Desa Gedung Harta yang bertahun-tahun mengamati aktivitas di pemandian bendungan Ham Kawokan di Kecamatan Penengahan tersebut, Minggu (15/10/2017).

Kejernihan air dari Gunung Rajabasa tersebut tidak diragukan, sehingga pada akhir pekan banyak anak-anak muda yang sengaja datang ke lokasi tersebut dari Jalan Marga Dantaran, tepatnya di Desa Sukajaya, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua. Berjarak hanya tiga kilometer dari jalan utama membuat destinasi bendungan Ham Kawokan mudah dicapai dengan akses jalan berbatu yang melewati sepanjang saluran irigasi permanen.

Zainal mencatat, setiap hari libur serta pada saat hari besar keagamaan lokasi tersebut menjadi pilihan berlibur sembari mandi atau sekedar duduk di batu menikmati kesejukan udara dan keheningan suasana gemericik air yang mengalir di antara bebatuan sungai. Lokasi tersebut bahkan kerap menjadi titik utama aktivitas hiking para siswa sekolah yang melakukan latihan Pramuka atau kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja.

Meski bukan sebagai lokasi wisata tirta sejenis yang menyediakan wahana permainan dan fasilitas memadai, lokasi parkir yang luas di dekat pintu air membuat pengunjung tidak harus mengalami kesulitan untuk memarkir kendaraan.

Zainal Abidin, warga pemilik kebun di dekat Ham Kawokan yang kerap dijadikan destinasi wisata tirta. [Foto: Henk Widi]
Pada lokasi bawah bendungan, cekungan air yang menampung air dari sebanyak enam lubang persegi empat di bendungan tingkat kedua kedalaman air hanya berkisar satu meter, sehingga masih cukup aman digunakan untuk mandi anak-anak dengan pengawasan dari orang tua.

“Banyak keluarga yang membawa anaknya ke sini untuk mandi, biasanya membawa bekal dari rumah atau jika membawa ayam atau ikan dibakar di sini setelah mandi makan secara bancakan di atas batu batu besar”, terang Zainal.

Keberadaan Ham Kawokan yang berfungsi sebagai destinasi wisata, diakui salah satu pengunjung, Santi (30), yang baru saja pulang merantau dari Jakarta. Kerinduan akan kejernihan air Ham Kawokan memandunya untuk mengajak keluarganya mandi di bendungan tersebut.

Saat masih usia SD, ia mengaku puluhan tahun silam anak-anak di wilayah tersebut kerap mandi di Ham Kawokan sembari mencari kepah atau kerang untuk dimasak di sekitar bendungan. “Sudah puluhan tahun silam Ham Kawokan menjadi tempat pemandian, dan sejak ada media sosial tempat ini kembali dikenal bahkan banyak yang berkunjung”, terang Santi.

Wanita asli Lampung tersebut juga mengatakan, peran media sosial dalam menghidupkan kembali destinasi wisata Ham Kawokan sebagai lokasi pemandian ikut mendorong banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi, meski sebagai sebuah tempat wisata alam kondisinya tidak seperti wisata tirta  buatan.

Saat musim kemarau, lokasi tersebut bahkan setiap hari dikunjungi warga sebagai tempat rekreasi sekaligus mandi dan pulang sembari membawa air menggunakan jerigen. Pengunjung Ham Kawokan akan semakin ramai pada saat menjelang bulan suci Ramadhan dengan tradisi ‘mucuk’ atau ‘punggahan’ yang umumnya ratusan masyarakat berdatangan membawa makanan dari rumah untuk disantap bersama keluarga.

Keberadaan lokasi Ham Kawokan juga dikatakan Santi ikut mendukung kearifan lokal dan tradisi masyarakat Lampung yang membersihkan diri sebelum bulan Ramadhan dan pergantian tahun baru Islam serta tahun baru Masehi.

Menurut Santi, keunggulan lokasi tersebut dengan kesejukan dan kesegaran udara pegunungan, dengan pemandangan batu-batu alam, kerap menjadi objek foto bagi pecinta fotografi yang ingin mencari objek lain dari biasanya. Bahkan, bagi anak muda kekinian foto aktivitas mandi di Ham Kawokan kerap diunggah dan menghiasi linimasa media sosial yang semakin mengenalkan Ham Kawokan.

Keberadaan Ham Kawokan, kata Santi, bisa menjadi pilihan liburan dan rekreasi akhir pekan, karena baginya berwisata tak harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Selain bisa menikmati kesegaran oksigen alam pegunungan Rajabasa, keheningan di Ham Kawokan bisa menyegarkan pikiran setelah penat sepekan beraktivitas.

Lihat juga...