LAMPUNG – Pembangunan di era Presiden Kedua Republik Indonesia, HM. Soeharto, di wilayah Lampung hingga kini masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama dalam penyiapan infrastruktur multifungsi, seperti bendungan serta saluran irigasi yang dibangun terpadu sebagai sumber kehidupan masyarakat serta sarana ibadah.
Berdasarkan penelusuran Cendana News di wilayah Kecamatan Kalianda dan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, jejak peninggalan Presiden Soeharto di antaranya Masjid Al-Huda di Desa Tajimalela, Kecamatan Kalianda, yang dibangun oleh Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP) pada 26 Oktober 1991, bendungan Way Asahan pada 1984, Bendungan Ham Kawoan yang dibangun sekitar 1970 serta beberapa infrastruktur irigasi rawa Sragi pada 1983 serta berbagai infrastruktur lain yang masih bertahan hingga kini.
Salah satu warga Desa Sukajaya, Kecamatan Penengahan, Saudin (68), menyebut pola pembangunan zaman Presiden Soeharto yang dikenal dengan Orde Baru dengan sistem rencana pembangunan lima tahun (Repelita) masih cukup terasa pada peletakan dasar pembangunan bidang pertanian.
Infrastruktur pertanian yang sangat vital, salah satunya bendungan, sengaja dibangun kala itu oleh Kementerian Pekerjaan Umum untuk memberikan pasokan air melalui saluran irigasi yang dibangun terpadu, termasuk fungsi sebagai sumber kebutuhan air bersih masyarakat.
“Kalau peninggalan Presiden Soeharto di wilayah Lampung Selatan, pastinya bagi saya yang lahir dan besar di sini, masih ingat Beliau membangun sarana jalan, bendungan, pelabuhan dan yang sangat vital bagi kami masyarakat petani berupa bendungan Ham Kawoan,” beber Saudin, saat ditemui Cendana News di bendungan Ham Kawoan, Sabtu (14/10/2017).
Bendungan Ham Kawoan, ham kawo’an dalam bahasa Lampung bermakna “bendungan bersama” tersebut diakui Saudin sesuai dengan namanya, karena bendungan yang mengalir dari Gunung Rajabasa dan menuju ke Way Gayam, Way Pisang tersebut digunakan secara bersama oleh ribuan masyarakat di sepanjang aliran bendungan tersebut.
Bendungan bersama sekaligus penyebutan saluran irigasi yang letaknya membelah dua desa, yakni Desa Gedung Harta di bagian Barat serta Desa Penengahan di bagian Timur, sementara airnya mengalir ke beberapa desa di sepanjang aliran sungai dan saluran irigasi permanen yang telah dibuat.
Dibangun sejak 1970-an, bendungan lengkap dengan tiga pintu air utama tersebut mengalirkan air cukup jernih ke puluhan saluran air, selanjutnya dibagi dalam pintu-pintu air khusus ke lahan pertanian dan perumahan warga. Perbaikan demi perbaikan telah dilakukan pada beberapa bendungan yang dibangun secara bertingkat, bahkan mencapai tiga tingkatan pada kisaran tahun 1994 hingga 1995.
Pada bendungan utama atau tingkatan ketiga dengan lebar lebih dari 20 meter, tiga pintu air lengkap dengan pengatur putaran pintu air dari besi masih terpasang hingga kini membagi air ke tiga pintu yang mengalir ke Desa Sukabaru, Desa Penengahan dan Desa Sukajaya, pintu kedua mengalir ke Desa Gayam dan pintu air ketiga mengalirkan air ke Desa Banjarmasin dan Desa Gedung Harta.
Air yang cukup jernih bahkan dipergunakan masyarakat sebagai sumber air bersih melalui pipanisasi komunal yang disediakan oleh pemerintah, dan sebagian masyarakat mempergunakan selang pribadi melalui sumber bendungan paling atas untuk kebutuhan air bersih.
“Saluran irigasi untuk lahan pertanian disediakan melalui irigasi permanen bisa mengaliri ribuan hektare desa di bagian bawah”, terang Saudin.
Saudin juga menyebut, dengan keberadaan bendungan pada era Presiden Soeharto, tersebut, memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat, karena kebutuhan air bersih tak harus membeli atau membuat sumur. Selain itu, pasokan air untuk pengairan lahan pertanian dan perkebunan telah memberi hasil panen yang cukup melimpah sepanjang tahun tak terpengaruh musim hujan atau kemarau.
Marsah (45), salah satu warga Desa Sukajaya yang berada satu kilometer dari aliran irigasi bendungan Ham Kawoan menyebut saluran irigasi dari bendungan tersebut dibuat sepanjang lebih dari empat kilometer pada tahap pembangunan awal dan selanjutnya diteruskan pada tahun-tahun berikutnya.
Berkat irigasi dari Ham Kawoan, ia bahkan bisa menggunakan air untuk pengairan lahan sawah dan melakukan penanaman padi satu tahun dua kali dan pengairan lahan perkebunan. “Berkat aliran air irigasi saya tidak perlu kuatir kekeringan, meski saat kemarau debit air menurun, namun kami belum pernah mengalami kekurangan air untuk pertanian dan air bersih kebutuhan sehari-hari,” ungkap Marsah.
Marsah menyebut, hasil panen perkebunan kelapa, kakao, dan durian miliknya menghasilkan buah melimpah sejak tanaman tersebut ditanam pada zaman sang ayahnya masih hidup. Warisan Presiden Soeharto dalam bentuk infrastruktur bendungan tersebut diakuinya masih sangat bermanfaat hingga beberapa generasi dengan kesadaran untuk menjaga wilayah tersebut.
Berusia puluhan tahun, bendungan Ham Kawoan yang dilengkapi dengan saluran irigasi berikut puluhan pintu air tersebut, beberapa di antaranya sudah mengalami kerusakan dan pendangkalan. Kondisi tersebut dibenarkan Zainal Abidin (45), pemilik areal perkebunan di dekat bendungan Ham Kawoan. Ia mengungkapkan, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Selatan harus memperhatikan kondisi bendungan tersebut.
“Pada semua bagian bendungan sudah mengalami pendangkalan, sehingga sehingga banyak saluran yang terhambat,” terang Zainal Abidin.
Warga Desa Gedung Harta tersebut, juga mengungkapkan, kerusakan sudah mulai terlihat lima tahun terakhir, bahkan lebih dengan adanya proses sedimentasi akibat longsoran batu serta material sampah berimbas beberapa lubang saluran pada bendungan tersumbat batu dan sampah. Dampaknya lahan perkebunan miliknya pernah diterjang banjir dan mengakibatkan gerusan air sungai yang mengakibatkan longsornya sebagian kebun miliknya.
Sebagai warisan Presiden Soeharto yang ikut memperhatikan infrastruktur bagi lahan pertanian, ia berharap pemerintah sekarang bisa menjaga dengan melakukan renovasi serta pemasangan turap atau talud serta pendalaman melalui pengerukan sungai.