Thalib Bertahan Produksi Topi Singara’ untuk Lestarikan Budaya
MAKASSAR — Thalib duduk sembari matanya tetap jeli melihat para pengunjung di depan kiosnya. Sesekali mulutnya berceloteh “mariki bu mampir (ayo bu mampir)” pada calon pembeli yang melintas. Ia menawarkan salah satu aksesoris yang dipakai mempelai pria Makassar saat duduk di pelaminan.
Meski di tengah menjamurnya busana pengantin modern, akan tetapi baju adat khas Makassar tetap menjadi daya tarik tersendiri dari masyarakat. Tidak heran jika Thalib tetap bertahan menjualnya topi singara, salah satu icon dari Sulawesi Selatan ini.
Bagi Thalib, singara tidak pernah ada matinya. Karena sudah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat setempat. Karena selalu digunakan dan dipakai saat duduk di pelaminan dan itu sudah menjadi adat bagi suku Makassar sendiri.
“Biar banyak baju pengantin modern tapi masyarakat disini juga tidak bisa meninggalkan pakaian adat mereka yang sudah ada sejak zaman dulu,” ucap Thalib pada Cendana News, Selasa (19/9/2017).
Topi singara merupakan hiasan kepala yang sering dipakai oleh pria suku makassar keturunan bangsawan berbahan baku spons, kain satin, kain tabere (kain yang hanya ada di Sulawesi Selatan), payed, serta manik-manik. Dengan niat untuk mempertahankan budaya, membuat Thalib dibantu dengan dua orang temannya membuka usaha pembuatan topi tersebut.

Di tempat yang luasnya hanya 1×2 meter yang disewa Thalib di Sentral Makassar. Selain dijadikan tempat berjualan, juga dijadikan tempat produksi. Karena keterbatasan modal, jumlah produksi topi singara hanya 10 buah saja perhari.
Bahkan karena keterbatasan modal tersebut membuat Thalib masih memproduksi topi singara dengan cara yang masih manual, dengan menggunakan tangan. Sementara untuk satu topi hasil karyanya dihargai sebesar Rp50.000 hingga Rp75.000, tergantung dari ukurannya.
“Saat ini kami hanya bisa membuat topi singara dengan tangan saja dan masih manual,” jelasnya.
Untuk pangsa pasar sendiri Thalib harus menunggu jika ada orang yang memesan. Baik itu masih di daerah Makassar maupun di luar daerah.
Kedepannya Thalib berharap agar pemerintah dapat menaruh perhatian lebih dari pemerintah pada usahanya. Tidak hanya batuan modal, tapi membantu dalam pemasaran agar lebih berkembang lagi.
Niken pemilik salon rias yang menyewakan baju pernikahan mengatakan, ia selalu membeli topi singara di pengerajin.
“Karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan toko baju pengantin. Selain itu kita bisa menawar,” sebut Niken sambil tersenyum simpul.