Petani Cengkih Pesisir Rajabasa Mulai Panen

LAMPUNG — Sejumlah petani penanam komoditas bahan baku rokok serta obat-obatan berupa cengkih, di beberapa sentra budidaya cengkeh di lereng Gunung Rajabasa, mulai memasuki masa panen pada akhir bulan September, ini.

Masitoh menjemur sebagian cengkeh hasil panen di perkebunan pesisir Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Menurut Masitoh, salah satu petani di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, beberapa desa sentra budidaya cengkih umumnya berada di pesisir Kecamatan Rajabasa di antaranya Desa Tengkujuh, Pauh Tanjungiman, Kunjir, Way Muli serta lainnya.

Pada masa panen tahap pertama, Masitoh menyebut petani mulai memetik buah cengkih dengan sistem panen parsial pada buah yang tua setelah tanaman cengkih berusia 4 tahun atau masa belajar berbuah. Sebanyak 100 tanaman cengkih yang ditanam sang suami, diakuinya sebagian merupakan tanaman sulaman atau penggantian tanaman berusia tua yang sudah tidak produktif akibat sudah ditanam selama puluhan tahun silam.

“Tanaman cengkih menjadi komoditas unggulan masyarakat lereng Gunung Rajabasa yang menghadap ke Selat Sunda, karena kondisinya subur dan pasokan air cukup, meski pernah mengalami anjloknya harga cengkih, sehingga banyak petani menebang pohon cengkih yang ditanam puluhan tahun silam”, ungkap Masitoh, Minggu (24/9/2017).

Menurut Masitoh, berkurangnya tanaman cengkih milik petani di wilayah Kecamatan Rajabasa karena anjloknya harga cengkeh pada kisaran harga hanya Rp15 ribu per kilogram pada 1999 hingga 2003, sehingga sebagian petani sengaja merombak tanaman cengkih yang ditanam ditambah sebagian petani yang sengaja menebang cengkih digantikan tanaman jagung dan kakao.

Komoditas cengkih yang bisa ditanam secara tumpangsari bersama tanaman kelapa dan tanaman lain, di antaranya lada, membuat sebagian petani masih mempertahankan tanaman tersebut sebagian justru mulai melakukan penanaman kembali sejak 2009.

Kenaikan harga cengkih ditambah permintaan cengkih untuk pembuatan minyak atsiri, obat serta bahan baku pembuatan rokok membuat geliat pertanian cengkih mulai dirasakan petani pesisir Rajabasa, dan tanaman cengkih usia 4 hingga 6 tahun mulai menghasilkan.

“Pemanenan tahap pertama yang saya lakukan bersama suami memang pada pohon yang masih belajar berbuah, sehingga cepat kami petik sementara pada pohon lain menunggu dua pekan lagi siap panen”, bebernya.

Ia menyebut, dengan kondisi musim berbunga saat curah hujan rendah, ia mengaku berdampak positif bagi pertumbuhan bunga dan buah sehingga satu pohon rata-rata bisa menghasilkan sekitar 20 kilogram, dengan prediksi hasil panen keseluruhan akan mampu menghasilkan 1,5 ton cengkih. Kondisi tersebut berbeda dengan saat musim hujan berimbas pada rontoknya bunga cengkih dan menurunkan produksi buah cengkih yang dimiliki.

Harga cengkih saat ini, diakui Masitoh cenderung naik perlahan dari masa panen sebelumnya, mencapai Rp112 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp120 ribu. Selain buah cengkih, sebagian petani juga memanfaatkan gagang cengkih, daun cengkih yang digunakan untuk pembuatan minyak atsiri dan dihargai Rp5 ribu per kilogram untuk disuling. Belum adanya masyarakat yang memiliki alat penyulingan minyak daun dan cangkang cengkih membuat bagian tanaman tersebut dijual dalam bentuk bahan baku.

Membaiknya harga cengkih yang diprediksi bisa mencapai Rp150 ribu per kilogram dalam kondisi kering, juga diakui oleh Supardi, salah satu petani cengkih di Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa. Pemilik sekitar 50 batang tanaman cengkih tersebut mengaku semenjak 2013 melalui pola kemitraan petani cengkih mendapatkan bantuan dari perusahaan produsen rokok.

Kemitraan dengan pola project hub dan Clove Intensification System (CIS) yang merupakan program untuk memberdayakan petani cengkih di wilayah pesisir Rajabasa bekerjasama dengan produsen rokok. Dukungan perusahaan dilakukan dengan penyediaan bibit, pelatihan, program tanggung jawab sosial perusahaan.

“Ada satu perusahaan rokok yang bermitra dengan petani, sehingga para petani tidak kuatir saat panen, karena ada penampung sebagai bahan baku pembuatan rokok”, beber Supardi.

Selain itu, dengan adanya program CIS, beberapa lahan baru dijadikan lahan budidaya cengkih, khususnya di wilayah pesisir dan pedesaan di kaki Gunung Rajabasa yang dikenal sebagai sentra budidaya cengkih.

Supardi menyebut, berbagai kemudahan sejak penyediaan bibit dan pascapanen membuat petani cengkih lebih mudah dalam memperoleh penghasilan. Meski demikian, prospek yang bagus dari pengembangan cengkih melalui pola kemitraan tidak serta-merta diikuti oleh petani cengkih, karena menurut Supardi, masih banyak juga petani yang menanam cengkih secara mandiri sejak pembibitan hingga penjualan.

Selain bebas menjual cengkih, sebagian petani memilih mandiri akibat pola penanaman cengkih kerap ditumpangsarikan dengan tanaman lain dan tidak harus terikat dengan perusahaan mitra.

Lihat juga...