Mantan Danjen Kopassus: Rakyat tak Pernah Jatuh
JAKARTA – Mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI (purn), Wisnu Bawa Tenaya, menyebutkan, ada dua pedoman dalam menjaga negara, yaitu dharma agama dan dharma negara.
“Dharma negara ini tentu Pancasila sebagai fundamen dasar negara. Secara darma agama, kebetulan saya Hindu, salamnya; “Om Swastiastu”. Dan, secara nasional atau dharma negara, ini semangat kita bersama salam ‘Merdeka dan Pancasila,” kata Wisnu, pada simposium nasional kebudayaan bertajuk ‘Pembangunan Karakter Bangsa Untuk Melestarikan dan Mensejahterakan NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945’ di Jakarta, Kamis (7/8/2017).
Wisnu mengimbau, agar rakyat Indonesia mengamalkan Pancasila di dalam perbuatan, sehingga lestari dan sejahtera NKRI. Inilah yang menjadi PR. Adapun pengertian PR ini, Wisnu menyebutkan, P-nya Pemerintah atau pemimpin, dan R-nya adalah rakyat.
“Bisa juga PR ini berarti Punishment dan Reward. Ini yang amburadul, ini yang brengsek-kalau bahasa tentara atau bahasa rakyatnya,” kata Wisnu.
Dirinya menegaskan, pemimpin itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sehingga seorang pemimpin itu harus mengayomi bukan jadi penguasa. Karena rakyat itu, menurut Wisnu, tidak pernah jatuh, pemimpin yang jatuh dari jabatan yang diembannya bila tidak amanah.
“Ini penting, kenapa tadi saya katakan dharma agama dan negara. Kalau sekarang banyak yang masuk ke Sukamiskin. Ini etikad Pancasilanya yang salah atau agamanya? Maka kembali kepada individunya harus intropeksi diri,” ujarnya.
Jadi, sumber daya manusia (SDM) harus menjadi perhatian utama, maka pendidikan PAUD, TK, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi harus menjadi tolak ukur untuk wujudkan generasi muda yang cinta bangsa. “Kita tadi nyanyikan lagu Indonesia Raya, Bangun Jiwa-Bangun Raga. Raga ditempa ke atas ada rasa pancaindra. Mau nggak dia melihat dan mendengar khotbah atau nasehat orang lain?” ujarnya.
Menurutnya, dalam meraih jabatan tidak tiba-tiba jatuh dari langit. Ada tahapannya, bertingkat, berlanjut, fokus tidak terputus ada kesinambungan. Tapi, kadang-kadang dilanggar tabrak kanan-kiri tanpa perduli nasehat orang lain, bahkan orang tuanya. Padahal, sebagai anak bangsa, kata Wisnu, kita itu harus ingat sejarah dan orang tua untuk senantiasa menjaga dan menghormati serta ingat akan nasehat terbaiknya.
Terpenting lagi, kata Wisnu, adalah Dapur atau Daya Tempur. Dalam hal ini yang menjadi perhatian utama adalah kesehatan. Bagaimana mengarah ke sana agar rakyat sehat? Tentu selain lingkungan bersih, finansial juga menjadi penting, maka kita harus kerja keras.
“Ya, kerja keras, kerja cerdas. Karena kecerdasan sudah menjadi perintah konstitusi, yakni cerdaskan bangsa, cerdik, dan cendikiawan,” ujarnya.
Untuk mewujudkan itu, maka kompetensi dan konsentensinya harus ditingkatkan, maka para pemimpin bisa dicontoh. Karena, menurut Wisnu, kalau pemimpinnya brengsek, anak buahnya bubar. Jadi, lokomotif penting. Maka, para pemimpin di salam Pancasila sila pertama agama apapun itu harus percaya pada Tuhan.
Sila kedua, lanjutnya, kita harus menghargai hak asasi orang lain dalam berbangsa dan bernegara. Adapun sila keempat lebih bermakna ‘Bersatu Kita Utuh, Bercerai Kita Runtuh’. “Seperti sapu lidi membersihkan hati-hati kotor. Karena raga ke atas, ada rasa di dalamnya ada rohani,” tukas Wisnu.
Maka, kata dia, kewajiban lembaga agama harus menjadi guru yang bisa mengayomi umat, adapun guru wisesa itu pemerintah, dan percaya sama Tuhan. “Adapun sila keempat, pemimpin itu harus negarawan. Yakni pemimpin yang bisa mengayomi rakyat dan berhikmah,” ujarnya.
Sila kelima, pemerintah harus menjaga kebhinnekaan. Kalau soal hukum, harus bersikap seadil-adilnya. Demikian juga dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat harus berkeadilan dalam memanfaatkan sumber daya yang kita miliki. “Ada tenggang rasa satu sama lain, saling asah dan asih, yang ujungnya gotong royong ringan sama dijinjing, berat sama dipikul,” tegas Wisnu.
Pamungkas, tegas Wisnu, bahwa Indonesia sebagai bangsa masih berdaulat, maka harus kita jaga. Bagaimana menjaganya diaplikasikan dengan perbuatan dan mengaplikasikan sila-sila dengan meningkatkan etos kerja anak bangsa, profesi apapun.
“Kita harus membangun negeri ini dengan meningkatkan kualitas diri percaya pada Tuhan dan menjunjung tinggi HAM,” pungkas Wisnu.