Limbah Perkebunan Jadi Solusi Mahalnya Gas Elpiji

LAMPUNG – Luasnya lahan perkebunan di Kabupaten Lampung Selatan yang menghasilkan tanaman produktif juga menghasilkan limbah dan kerap dimusnahkan tanpa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Anton memanfaatkan limbah perkebunan sebagai bahan bakar menjerang air. [Foto: Henk Widi]
Namun, sebagian petani di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, memanfaatkan limbah perkebunan sebagai bahan bakar memasak. Selain untuk membersihkan limbah perkebunan, juga untuk menghemat penggunaan bahan bakar gas elpiji para ibu rumah tangga.

Masitoh, warga Desa Kunjir, mengaku menggunakan limbah pohon kelapa berupa blarak (daun kelapa kering), mancung (pelepah penutup bunga kelapa) dan blungkang (pelepah kelapa) serta sepet (serabut kelapa), batok kelapa yang kerap banyak berserakan di lahan perkebunan. Selain itu juga berbagai ranting dan kayu kering yang kerap terjatuh dari pohon utama selama kemarau.

Limbah perkebunan tersebut selain berpotensi menimbulkan kebakaran lahan, diakui Masitoh terbukti efektif mengurangi pengeluaran keuangan untuk membeli bahan bakar gas elpiji bersubsidi.

“Saat ini harga gas elpiji terkadang naik tiba-tiba, sehingga saya harus bisa berhemat. Salah satunya efesien menggunakan gas dan limbah perkebunan bisa dijadikan bahan bakar,” beber Masitoh, saat ditemui Cendana News tengah menjemur mancung pohon kelapa di depan rumahnya, Senin (25/9/2017).

Penggunaan limbah perkebunan yang menjadi sampah dan berpotensi mengakibatkan kebakaran saat kemarau tersebut, bukan baru-baru ini dilakukan oleh Masitoh dan warga lain di wilayah pesisir pantai Rajabasa. Namun, kini saat keberadaan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram dengan harga mencapai Rp22 ribu, sudah umum digunakan limbah perkebunan sebagai bahan bakar.

Pada saat harga gas merangkak naik, kata Masitoh, sebagian warga khususnya kaum ibu rumah tangga terpaksa membeli kayu belah sebagai kayu bakar hasil limbah sisa penggergajian kayu yang dijual dalam bentuk papan atau kusen. Sebagian membeli kayu bakar sebagai bahan bakar memasak, membuat kerajinan batu bata, genteng serta pembuatan kopi bubuk, pengasapan ikan yang masih memanfaatkan bahan bakar kayu dan serabut kelapa.

“Sebagai ibu rumah tangga. saya harus kreatif membantu suami agar pengeluaran tidak membengkak. Bahkan saya bisa berhemat karena tidak selalu mengandalkan gas elpiji”, beber Masitoh.

Gas elpiji ukuran 3 kilogram diakuinya kerap hanya digunakan untuk memasak air minum dan sayur, sementara menanak nasi menggunakan penanak nasi elektrik. Penggunaan limbah perkebunan sebagai bahan bakar, diakuinya bisa ikut menghemat pengeluaran untuk pembelian gas elpiji ukuran 3 kilogram, sehingga bisa dipergunakan selama lebih dari empat belas hari.

Warga lain yang masih memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan, adalah Anton, warga Desa Baktirasa, Kecamatan Sragi, yang masih menjerang air menggunakan bahan bakar daun kelapa dan ranting-ranting pohon dari kebun miliknya. Proses menjerang air yang kerap digunakan untuk minum dan mandi tersebut diakuinya lebih cepat matang dan menghemat penggunaan bahan bakar gas elpiji ukuran 3 kilogram.

“Kami memiliki kompor gas, namun penggunaan tungku tanah dengan bahan bakar kayu sebagai limbah perkebunan masih kami pertahankan”, beber Anton yang tengah menjerang air.

Musim kemarau yang masih melanda wilayah Lampung diakuinya ikut mendorong meningkatnya penggunaan bahan bakar limbah perkebunan akibat melimpahnya batang kayu serta beberapa hasil dari pemanenan kelapa di kebun miliknya dan kayu batang tanaman kakao dan karet yang sengaja ditebang saat kemarau.

Pemanfaatan limbah pertanian berupa serabut kelapa dan kayu tersebut bahkan diakuinya mendorong pemanfaatan tungku tanah di pedesaan. Tungku tanah yang memiliki dua lubang dan satu lubang tersebut masih umum digunakan sebagai sarana memasak, meski penggunaan alat memasak listrik dan gas elpiji juga sudah digunakan.

Lihat juga...