Oleh: Eko Ismadi
Diam-diam, seminar Pembela PKI di LBH tetap berlangsung. Kita tertipu. Padahal, acara itu telah dibubarkan oleh Polisi. Ketika mereka tetap membuat acara pembelaan terhadap PKI pasca pembubaran, apakah ini bukan perilaku culas?
Penjelasan dari juru bicara di kegiatan Seminar 65 di LBH menyatakan, ”Ini bukan kegiatan PKI dan Komunis! Ini Bukan pendirian PKI dan Komunis Indonesia! Ini juga bukan kegiatan yang membahas komunisme!” Lebih lucu lagi, ada salah satu anggota LBH yang menyatakan, ”Ini bukan kegiatan komunisme dan PKI! Tetapi Aksi Aksi Asyik Asyik dan senang!” Jika kegiatan memang aksi asyik-asyik, kenapa harus menyebutkan seminar peristiwa 1965? Kalau memang acara kesenian, kenapa ada identitas PKI dalam kegiatan tersebut? Saya yakin, siapa menabur angin, akan menuai badai.
Sepertinya, polisi dan LBH mengembangkan pemikiran multi tafsir dalam kegiatan ini. Mengingat, kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan seminar di LBH adalah, ”Membahas pelurusan sejarah dan penafsiran sejarah peristiwa 1965 menurut versi PKI.
Seringkali, PKI dan Komunisme menggunakan sarana kesenian dalam melaksanakan kegiatan politik di Indonesia. Dulu, PKI menggunakan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Melalui medium kesenian, propaganda PKI dikembangkan seperti adu domba, licik, pemikiran multitafsir, bohong, memanipulasi keterangan, serta melakukukan kamuflase.
Sesuai dengan judul dalam tulisan ini, maka, pokok bahasan saya batasi pada pemikiran PKI dan komunis dalam seminar 1965 di LBH Jakarta, dalam Bingkai NKRI, ditinjau dari sejarah Nasionlisme, TNI, dan TNI AD. Tujuan dari penulisan ini, yaitu untuk menjaga soliditas persepsi kebangsaan Indonesia, dihadapkan dengan perilaku politik PKI di masa sekarang ini.
Tidak ada maling yang mengaku maling! Prinsip maling, selama masih bisa berkelit, akan selalu berkelit dan menghindar. PKI sangat paham dengan cara ini dan mereka sangat ahli. Sehingga, apapun kejahatan yang dilakukan PKI terhadap bangsa Indonesia, tidak akan pernah diakuinya. Sudah jelas PKI yang membunuh Jenderal Angkatan Darat masih saja dia ingkar, dengan alasan itu masalah Intern Angkatan Darat, bukan urusan PKI.
Padahal, gambaran situasi TNI dan politik pada tahun 1965, tidak demikian. Pada saat itu, pemerintahan dipimpin oleh Soekarno, dengan program pengembangan pemikiran Nasakom dalam penyelenggaraan Politik. Kegiatan politik dalam kepemimpinan Soekarno didominasi oleh PKI dan komunis yang berprinsip pada kebhinekaan. Organsasi TNI diubah menjadi Departemen dan diperbolehkan menjadi anggota partai Politik.
Kondisi politik yang demikian, membuat Eks Letkol Untung (seorang Perwira Menengah Angkatan Darat), berani masuk menjadi anggota PKI dan melibatkan diri dalam kegiatan Politik di Gerakan Pengkhianatan G 30 S/PKI. Keberadaan Eks letkol Untung ini menjadi alasan DN AIDIT sebagai pemimpin PKI untuk menghindari dari tanggung jawab terhadap jatuhnya korban dari kekejaman PKI dalam G30S/PKI tersebut.
Bagi saya, pada 1965, PKI dan Soekarno telah ingkar terhadap Pancasila. Padahal, sebenarnya, Soekarno masuk dalam jebakan komunisme Internasional. Dengan mengangkat Soekarno sebagai Yang Mulia, Panglima Tinggi, dan Presiden Seumur Hidup, penetapan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 ditahun 1964, membuat Soekarno tersanjung dan meninggalkan sejarah nasionalisme Indonesia. Soekarno justru meninggalkan sejarah negara yang diproklamasikan sendiri pada 17 Agustus 1945. Bagi saya, kondisinya hampir sama dengan sikap pemerintah sekarang ini.
Padahal, kita bisa baca catatan sejarah kekejaman komunis di Indonesia maupun dunia. Bagaimana mereka memperlakukan lawan politiknya? Pada peristiwa Madiun pada tahun 1948, PKI menyiapkan lubang-lubang pembantaian. Pada 1965, banyak Kyai dan Santri dibunuh, masjid diberi kotoran manusia, dan sebagainya.
Dengan sikap PKI yang sangat kotor itu, menurut penilaian saya, bangsa Indonesia dan TNI AD di tahun 1965 masih bersikap bijak terhadap anggota PKI dan pimpinannya. Karena, sebagian besar anggota PKI hanya dipenjara di Pulau Buru dan Lembaga Pemasyarakatan (LP). Artinya, masih banyak yang dibiarkan hidup. Mungkin, memang ada PKI yang harus dihukum mati, demi kepentingan keamanan bangsa Indonesia yang terancam dibunuh oleh kebengisan PKI.
Sebagai upaya untuk menemukan persepsi yang sama, maka dengan ini, saya sampaikan batasan pemikiran yang harus dimengerti, dipahami, dan disepakati oleh kita semua, agar tercipta kesamaan pandangan, frekwensi berpikir, dan landasan pengetahuannya. Agar tulisan ini dapat dipertanggungjawakan secara akademis, fakta, dan data sejarah, dalam koridor tujuan nasional Indonesia. Agar tulisan ini tidak dikategorikan sebagai, provokator, ujaran kebencian, menghambat kebebasan berpendapat, dan intoleran. Dengan demikian, akan dapat dicapai kata sepakat.
Para peserta diskusi Seminar 65 di LBH tersebut merasa, kegiatan mereka adalah kebebasan berpendapat dalam Multi Tafsir. Yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat dalam kehidupan kebangsaan Indonesia adalah berpendapat yang sejalan dengan konteks kebangsaan Indonesia, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bukan Pancasila Konsep Soekarno yang diperingati lahirnya pada 1 Juni.
Kalau merasa bebas berpendapat, tapi menampilkan tokoh PKI serta keturunannya dalam kegiatan dan orasinya meluruskan sejarah PKI dan peristiwa 1965, berarti tidak sesuai dengan UUD 1945 dan peraturan bagi negara Indonesia. Karena PKI, komunis dan pemahamannya, adalah Ideologi terlarang di Indonesia. Kalau ini dianggap kebebasan berpendapat, berarti ini sejalan dengan kegiatan PKI dan komunis di Indonesia. Sadarkah kita?
Bagi saya, pemahaman kebebasan pendapat yang demikian, adalah pemahaman tolol. Itu sama saja dengan perkataan semacam ini, ”Itu bukan TNI, hanya orang berambut cepak, bajunya hijau berpangkat! Itu bukan Polisi, tapi hanya Brimob yang berpakaian Preman!.”
Bung Karno terkenal hebat dan cerdas berpolitik, tetapi pada 1965 tidak sadar, bahwa ia nasibnya bisa sama dengan Raja Norodhom Sihanouk, Raja Kamboja. Ketika komunis berkuasa di Kamboja, Norodhom Sihanouk langsung diungsikan oleh Partai Komunis Khmer Merah di China. Tidak menutup kemungkinan, pada tahun 1965, bila PKI berhasil dalam kudeta dan pengkhianatan dengan G30S/PKI, bisa memperlakukan hal yang sama kepada Soekarno.
Inilah yang dilakukan dalam seminar di LBH. Mereka menyebut kebebasan berpendapat dan tidak menunjukkan simbol PKI. Tetapi, pokok bahasannya tentang kegiatan PKI, kisah masa lalu PKI, peserta seminarnya anggota PKI dan keturunannya, juga disertai kesenian yang sejalan dengan kegiatan PKI. Karena itu, jangan sampai ada pemikiran tolol dalam menyikapi seminar PKI Dan Komunisme di LBH Jakarta. Apakah perlu belajar sejarah lagi?
Seperti penyakit turunan, perilaku PKI menurun kepada anak-anaknya. Antara lain adu domba, licik, lempar batu sembunyi tangan, tidak konsisten, sulit dipercaya, bohong, mengembangkan pemikran multitafsir, serta ingkar terhadap Pancasila.
Generasi Muda TNI/Polri, umat Muslim NU, nasionalis Indonesia, harus belajar sejarah. Ada lima hal yang harus dipahami dari PKI dan Komunisme. Yaitu perilaku manusianya, cara berpolitiknya, berpikir sejarahnya, cara berbicaranya, ingkar terhadap Pancasila, Agama, dan Nasionalisme Indonesia. Bila beberapa hal itu tidak dipahami, dapat dipastikan, bangsa Indonesia akan tertipu oleh perilaku PKI dan Komunis.
Dari perilakunya, banyak perilaku pembela PKI yang mirip perilaku masa lalu PKI. Semua kejadian di masa sekarang ini, sudah cukup mirip dengan kondisi bangsa Indonesia di tahun 1965 yang dipimpin Soekarno. Peserta politiknya sama, gaya kebijaksanaannya sama, partai pendukung pemerintahnya sama, dan menyebut Presiden sebagai petugas partai.
Dalam cara berpikir politiknya, perilaku pembela PKI juga melakukan adu domba, licik, dan bersembunyi di balik kekuasaan. Semua diatasnamakan kebhinekaan, intoleran, dan radikal untuk membatasi pemikiran nasionalisme kebangsaan Indonesia. Sebaliknya, kondisi saat ini malah memberi kesempatan kepada PKI dan komunis untuk bebas berpendapat sesukanya.
Dalam berpikir sejarah, pembela PKI membangun perubahan pemahaman sejarah melalui Rotasi sejarah. Selama bangsa Indonesia masih berpikir sejarah dengan nasionalismenya, selama itu pula PKI dan Komunis tidak akan berkutik. Karena itu, PKI dan Komunis dengan berbagai cara, melakukan perubahan. Dan sekarang ini, program PKI dan Komunis, dengan segala interprestasinya, gagal total.
Ketika ada yang mengatakan, jika Ahok tidak terpilih, negara Indonesia akan hancur, ternyata omong kosong. Sebaliknya, justru nasionalisme Indonesia semakin menguat dan berani memberikan perlawanan kepada PKI. Banyak orang teracuni pemahaman salah, bahwa PKI tidak bertentangan denga Alquran, Komunis merupakan bagian dari sikap muslim, dan sebagainya. Padahal, peristiwa PKI dan proses hukumnya adalah kejahatan kemanusiaan.
Pembela PKI ketika berbicara, lain perkataan lain pula perbuatan. Katanya, ”Aku Indonesia ! Aku Pancasila ! Gebuk PKI !” pada kenyataannya, kegiatan yang bernuansa PKI dan komunisme berkembang terus dan semakin marak. Mana yang digebuk? Justru sebaliknya, kegiatan yang bernuansa PKI dan komunis disebut sebagai kegiatan aksi asyik asyik dan kebebasan berpendapat. Apakah pemahaman demikian boleh saya sebut sebagai buah pemikiran tolol?
PKI dan pembelanya selalu ingkar terhadap sikap hidup Bangsa Indonesia. Lebih menyedihkan lagi, PKI dan komunisme lebih bangga dengan Negara Korea Utara dan RRC. Sekalipun bapaknya pemimpin bangsa Indonesia, karena yang diajarkan dan ditanamkan pemikiran komunis, yang dicontoh juga pemimpin PKI dan komunis. Akibatnya, sikap yang difavoritkan bukan negarawan Indonesia, melainkan tokoh komunis Vietnam Ho Chi Minh, Pol Pot Tokoh Komunis Kamboja, dan Mao Tse Tung sebagai Tokoh Komunis China.
PKI dan pembelanya selalu ingkar terhadap Pancasila, agama, dan ciri ke-Indonesiaan. Semua kegiatan yang dilakukan akan selalu bermasalah dengan Pancasila. Bagaimana bisa sejalan dengan Pancasila ? Tidak mungkin ada orang hidup dengan dua prinsip yang berbeda dan bertentangan dalam kehidupan. Itu sesuatu yang mustahil. Contohnya, ketika seseorang memahami dan mengamalkan dua agama sekaligus, misalnya Hindu dengan Kristen, Kristen dengan Islam, atau sebalinya. Sama dengan seseorang ketika mengaku beragama, sementara di sisi lain diyakini, prinsip hidup atheisme adalah kemunafikan.
Sadarkah Kalau Kita Berpikir dengan Cara PKI ?
Kebanyakan dari setiap orang yang saya temui, tidak sadar bahwa dirinya telah berpikir, berperilaku, dan berbuat seperti PKI. Namun, ketika kita sebut dia PKI, malah marah dan membentak dengan menyebut dirinya nasionalis dan Pancasilais. Bahkan, membela diri bahwa kakek neneknya pejuang, anggota veteran, pejabat, serta anggota FKPPI yang hingga sekarang konsisten menentang PKI dan Komunisme.
Mengapa tidar sadar? Mungkin didorong oleh kepentingan politik dan kelangsungan organisasi. Sehingga ada yang berpendapat, komunis itu selaras dengan Islam, komunis itu muslim, dan atheis itu tidak dilarang Alquran. Pertanyaannya sekarang, apakah yang mengatakan atheis tidak dilarang Alquran, kemudian mengijinkan anaknya jadi atheis dan tidak percaya Tuhan? Alasan berikutnya adalah keterbatasan pengetahuan sejarah yang diterima di sekolah dan di perguruan tinggi.
Bagaimana agar kita sadar ? Pelajari sejarah nasionalisme Indonesia, Perjuangan Nasionalisme Indonesia, Sejarah Perjuangan TNI, Sejarah Wawasan Nusantara, Sejarah Ideologi Pancasila, Sejarah Budaya Indonesia, dan Sejarah Keimanan di Indonesia. Bukan sejarah Kebhinekaan Indonesia, bukan sejarah Atheisme, bukan sejarah Komunis di Indonesia, bukan sejarah PKI menurut orang PKI. Mereka para pembela PKI selalu beralasan, ”bukankah tidak menampilkan Palu Arit? Bukankah tidak ada PKI? Pemikiran seperti ini sudah dapat dikategorikan sebagai bentuk dukungan terhadap PKI. Marilah sadarkan diri kita untuk berbuat yang demi bangsa dan negara dalam kehidupan yang aman, tenang, tentram, dan damai.
Sadar atau tidak, kita telah diintimidasi oleh pengetahuan dan keadaan kita sendiri. Karena bangsa Indonesia menjalani hidup hanya dengan akal pikiran. Tanpa diimbangi oleh pengetahuan dan konsistensi dari sikap hidup insan hamba Tuhan yang bertakwa. Dengan belajar sejarah, kita akan tahu manfaat dari kita memiliki agama. Dengan belajar sejarah, kita akan tahu kehebatan bangsa Indonesia, bukan kekerdilan bangsa Indonesia. Dengan belajar sejarah, kita akan yakin dengan kecerdasan sendiri, dan yakin akan nasionalisme sebagai fundamen kehidupan NKRI.
Ketika kita yakin dengan bangsa sendiri, Indonesia merdeka dengan apa? Soekarno memproklamasikan dengan apa? Bangsa Indonesia bertempur melawan Belanda dengan apa? Dan dari tahun 1971 hingga 1998 bangsa Indonesia bisa membangun dengan apa cukup dengan uang dan materi saja? Dengan kita memahami ini, tentu kita akan bisa mengatasi permasalahan bangsa dan negara kita. Dengan belajar sejarah dan keimanan kita kepada Tuhan, maka kita akan mampu berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Ketika kita yakin dengan nasionalisme, kegamangan terhadap konsep kebangsaan Indonesia sekarang ini adalah dampak dari berkembangnya reformasi. Reformasi, dalam perkembangannya, bukanlah sebuah bentuk penyelenggaraan politik yang merupakan solusi penyelesaian masalah bangsa Indonesia di akhir masa pemerintahan orde baru. Sebaliknya, reformasi justru menjadi memicu munculnya pemikiran PKI dalam kehidupan politik Indonesia. Reformasi sudah menyimpang jauh dari konsep dan tujuan awal reformasi.
Ketika berbicara Sejarah PKI, kita harus merujuk pada sejarah TNI dan TNI AD yang berorientasi pada pemahaman sejarah nasionalisme Indonesia dan Peranan TNI, berlandaskan Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI. Karena TNI dan TNI AD ada dalam peristiwa tersebut. Dengan memahami sejarah PKI dan Komunis, TNI menjadi paham akan Jatidirinya, soliditas kehidupan prajurit, kepentingan prajurit, keberadaan prajurit, peranan prajurit, dan tanggung jawab prajurit.
Kita patut bersyukur, hingga sekarang ini, TNI masih memiliki kesamaan persepsi dan pemikiran tentang sejarah PKI dan Komunisme. Terbukti, tidak ada tumbuh pemikiran egosentris satuan atau kesatuan yang ingin memunculkan tentang pertentangan sejarah PKI dan Komunisme dalam G30S/PKI. Tetapi, semua sadar akan kepentingan bangsa dan masa depan TNI dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara Indonesia.
TNI Angkatan Darat telah menjadi Korban dari pembunuhan yang dilakukan oleh anggota PKI. Sekalipun anggota PKI tersebut memiliki identitas lain sebagai Perwira Menengah Angkatan Darat. Saat itu, ada PKI yang menjabat Komandan Batalyon 401 yang sekarang menjadi Batalyon 400/Raiders. Tetapi gerakan yang dilakukannya bukan atas nama Angkatan Darat atau TNI, tetapi atas nama PKI.
Kebijaksanaan TNI di Tahun 1965, yaitu diadakan pergantian Panglima Angkatan Udara. TNI AL, TNI AU, dan Kepolisian RI, diperintahkan kembali ke kesatuan masing masing, agar melakukan konsolidasi dan pembenahan tentang spirit prajurit yang kembali ke Sapta Marga, Sumpah Prajurit, Dan 8 Wajib TNI. Angkatan Darat telah berhasil mematahkan gerakan PKI, mengeleminir gerakan dan pengaruh komunis di Angkatan Darat, serta memproses hukum bagi mereka yang terlibat dalam gerakan G 30 s/PKI.
Harapan saya, kita semua memiliki persepsi sejarah yang sama tentang kebangsaan Indonesia. Tidak lagi memiliki Ideologi Partai dan prinsip politik sendiri diluar politik kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang dasar 1945. Kita harus memiliki rasa setia kepada pemimpin bangsa dan tujuan nasionalnya. Bukan malah membangun sikap yang tidak loyal dengan pimpinan. Pimpinan sudah perintahkan Gebuk PKI, tetapi jutru menghindar untuk menggebuk dengan menciptakan dalih sebagai pemebenaran sikap politik dan profesinya. Sebaiknya, kita semua jangan ragu dalam menghadapi gerakan komunisme, karena itu sejalan dengan pemikiran Presiden Jokowi, yaitu ”GEBUK SAJA KALAU ADA PKI.”
Kata dan kalimat multitafsir baru muncul dalam istilah pengamanan setelah ujaran kebencian. Yaitu memberikan kebebasan berpendapat. Setelah ini, istilah apa lagi yang akan dimunculkan demi terlaksananya kegiatan komunisme di indonesia. Walaupun tidak seseuai dengan undang undang, tetapi kelompok masyarakat yang berkumpul di LBH telah diijinkan untuk berkumpul dan melakukan seminar untuk membela PKI. Kalau pemikiran seperti ini dikembangkan terus maka semua rakyat bisa ikut ikutan berpikir tolol.
Bagi saya, seminar di LBH Jakarta yang menghadirkan para anggota PKI dan anak tokoh PKI yang berorasi tentang pelurusan sejarah PKI adalah kegiatan bangkitnya PKI dan Komunisme Indonesia dimasa sekarang ini. Karena pesertanya berhubungan dengan PKI, memiliki identitas, yang berkaitan PKI, dan melibatkan kegiatan kesenian yang identik dengan kesenian dimasa PKI tahun 1965 sebelum G 30 S/PKI. Ini bukti bangkitnya PKI dan Komunisme dalam kegiatan tersebut,
Sebaiknya, semua generasi muda TNI dan Polisi, juga komponen bangsa lain belajar tentang sejarah. Terutama, sejarah PKI dan sejarah gerakan Pengkhianan G 30 S/PKI, agar tidak dibohongi dan ditipu oleh PKI dan Komunis, serta mereka yang mendukung dan berpikir terhadap PKI dan komunisme. Agar bangsa dan Negara Indonesia aman, tentram, tenang, damai, dan sejahtera, berdasarkan Pancasila Dan Undang Undang dasar 1945 yang diresmikan pada tanggal 18 Agustus 1945, bukan Pancasila yang lahir 1 Juni 1945 versi Soekarno.
*Eko Ismadi adalah Pemerhati Sosial Politik, Anti Komunis