Distan Sikka Dapat Bantuan Perluasan Areal Tanam Jagung dan Kedelai Seluas 1.800 Hektare

MAUMERE –– Dinas Pertanian kabupaten Sikka untuk musim tanam 2017 mendapat bantuan dari Kementrian Pertanian untuk pengembangan jagung hiibrida dengan prioritas Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) seluas 1.300 hektare dan pengembangan Kedelai seluas 500 hektare.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Hengky B. Sali melalui kepala bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Inosensius Siga kepada Cendana News, Senin (4/9/2017) siang.

Dikatakan Ino, untuk penanaman jagung hibrida, bantuan yang diebrikan berupa benih jagung hubrida sebanyak 25 kilogram per hektar serta pupuk urea sebanyak 100 kilogram per hektare sementara untuk kedelai juga diberikan benih varietas unggul dan sarana dan pra sarana pertanian.

“Bantuan dana langsung ditransfer ke rekaning kelompok. Sehingga hari ini banyak ketua dan bendahara kelompok tani yang datang ke kantor Dinas Pertanian untuk mengurus data dengan pihak bank,” ungkapnya.

Dana bantuan lanjut Ino untuk jagung hibrida bersumber dari APBN tahun 2017 sementara untuk kedelai bersumber dari APBN Perubahan sehingga kelompok tani diharapkan bisa memanfaatkan bantuan ini sebaik mungkin untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani sendiri.

Plasidia Hero Ketua Kelompok Tani Bekat Epan kelurahan Nangalimang kecamatan Alok yang ditemui Cendana News di Kantor Dinas Pertanian, Senin (4/9/2017) siang mengatakan, kelompok taninya beranggotakan 12 orang dimana 6 anggotanya adalah perempuan yang mengolah lahan seluas 2 sampai 4 hektare per orang.

Plasidia yang mengaku memiliki lahan pertanian seluas 3 hektare mengaku kelompoknya baru pertama kali mendapat bantuan kedelai, sementara untuk jagung hampir setiap tahun mendapat bantuan benih dari Dinas Pertanian sebab lahannya cocok untuk pengembangan jagung.

“Kalau kedelai kami baru mau tanam tahun ini sehingga nantinya kami akan minta pendampingan dari petugas penyuluh lapangan dimana untuk wilayah kami petugasnya sering datang dan melakukan pendampingan,” tuturnya.

Ketua kelompok tani Bekat Epan Plasidia Hero (kiri) dan bendahara kelompok Anjela Marici yang mendapat bantuan jagung hibrida dan kedelai dari Kementrian Pertanian/Foto: Ebed de Rosary

Hal senada juga disampaikan bendahara kelompok tani Bekat Epan Anjela Marisi yang memiliki lahan seluas 4 hektar yang mana lahan pertaniannya selalu ditanami jagung, tembakau, kacang tanah dan kacang hijau.

Untuk lahan seluas sehektare kata Anjela, dirinya bisa memanen jagung sebanyak 2 ton belum termasuk tembakau yang minimal dijual seharga 70 ribu rupiah untuk ukuran satu rel yang mana harga jualnya akan meningkat bila stok di pasaran menipis sehingga tembakau sering disimpan dahulu sambil menunggu harga jual naik.

“Sekali panen saja untuk jagung kami mendapat keuntungan 10 juta rupiah belum lagi termasuk tembakau dan kacang tanah serta kacang hijau yang harga jualnya pun lumayan bagus sehingga bisa menutupi biaya produksi,” ungkapnya.

Penanaman tembakau terang Anjela dilakukan saat jagung sudah mulai berbuah dengan sistem tumpang sari. Namun kelompok tani di Nangalimang selalu menghadapi kendala mahalnya biaya sewa traktor untuk membajak lahan di mana satu hektare harus membayar sebesar 1,2 juta rupiah.

“Kami selalu kesulitan uang untuk membayar biaya sewa traktor untuk membajak lahan padahal di kelurahan kami lahan pertanian luas tetapi bantuan traktor tangan selalu diberikan kepada daerah lain yang lahan pertaniannya minim,” sesalnya.

Lihat juga...