Dinkes Sikka Kembali Lakukan Sosialisasi dan Pembagian Obat Cegah Penyakit Kaki Gajah

MAUMERE –– Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka kembali melakukan sosialisasi dan pemberian obat Filaria terkait penyakit Kaki Gajah atau Filariasis dengan menyasar sekolah-sekolah dan Komunitas Basis Gerejani (KBG) yang ada di Paroki-Paroki di Keuskupan Maumere hasil kerja sama dengan Pusat Pastoral (Puspas).

Demikian disampaikan dr. Harlin Hutauruk Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dinas Kesehatan kabupaten Sikka saat ditemui Cendana News, Jumat (9/9/2017) siang di kantornya.

Dikatakan Harlin, pemberian obat Filaria secara masal ini merupakan program lanjutan sejak 2015 hingga 2019, di mana pada 2017 akan dilakukan di sekolah-sekolah serta 35 Paroki yang ada di wilayah Keuskupan Maumere dengan melakukan sosialisasi yang juga diikuti para pengurus KBG.

“Untuk sekolah kami akan lakukan sosialisasi terlebih dahulu pada sekolah-sekolah yang pada 2016 lalu belumdibagikan obat karena masih belum dilakukan sosialisasi sehingga guru-gurunya belum mengerti,” terangnya.

Pemberian obat ini dilakukan untuk masyarakat yang berusia 2 hingga 70 tahun di mana untuk di gereja kami juga akan lakukan sosialisasi dan siapkan pos di sana sehingga usai misa langsung dibagikan obatnya.

“Memang masih ada masyarakat yang belum memahami tentang penyakit ini sehingga kami terus lakukan sosialisasi secara gencar termasuk dengan efek samping usai meminumnya seperti mengantuk, mual, muntah dan lainnya,” terangnya.

Kepala seksi Pencegahan dan Pengendalian penyakit Menular dinas Kesehtaan kabupaten Sikka Avelinus S.Nong Erwin yang ditemui Cendana News di kantornya menjelaskan selama 2016 presentase cakupan masih di atas target yang diberikan.

Untuk cakupan sasaran yang harus minum obat jelas Erwin, dari target 85 persen hasil yang didapat mencapai 88 persen. Sementara untuk cakupan berdasarkan jumlah penduduk dari target 65 persen hasil yang diraih sebesar 76 persen.

“Untuk puskesmas, dua puskesmas yakni di Pulau Palue dan Nanga di kecamatan Lela yang belum semua penduduknya yang dilayani minum obat Filaria sehingga kami akan fokus di dua wilayah ini,” jelasnya.

Dokter Harlin Hutauruk kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dinas Kesehatan kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

Sampai dengan2016 papar Erwin, sudah ditemukan 356 kasus kronis di mana penderitanya sudah mengakami cacat. Penderita terbanyak berasal dari Kecamatan Talibura yang melingkupi dua Puskesmas yakni Watubaing dengan 58 kasus dan Boganatar ada 8 kasus.

Sementara Puskesmas Paga bebernya, terdapat 55 penderita, Waigete 46 kasus, Tanarawa 43 kasus,Magepanda 36 orang terinfeksi,Wolofeo di Tanarawa 17 kasus sementara Puskesmas di kota Maumere seperti Wolomarang ada 3 kasus,Alok 2 , Alok Timur, Beru dan Kopetas masing-masing ditemukan 1 kasus.

“Jadi penyakit ini juga sudah ditemukan di Kota Maumere, di mana selama ini hanya ditemukan di beberapa wilayah yang ada di pelosok-pelosok desa saja sehingga semua masyarakat diminta meminum obat yang dibagikan secara gratis ini sebab penyakit ini ditularkan oleh semua jenis nyamuk,” pungkasnya.

Lihat juga...