BMKG: Waspadai Potensi Kebakaran Lahan di NTT

KUPANG — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur untuk mewaspadai kebakaran lahan yang berpotensi terjadi di beberapa daerah yang terdeteksi satelit memiliki titik panas.

“Sekitar lima titik panas di wilayah Nusa Tenggara Timur yang terpantau oleh satelit Terra dan Aqua diyakini sebagai penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) seiring dengan mulai masuknya musim kemarau,” kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Bambang Setiatji di Kupang, Minggu (3/9/2017).

Ia mengatakan kemunculan titik panas dan kabut asap masih perlu diwaspadai, karena berdasarkan peta potensi kemudahan kebakaran yang ditinjau dari unsur cuaca masih menunjukkan sangat mudah terjadi kebakaran.

“Hasil sensor modis menggunakan satelit, ada lima hotspot (titik panas) di Nusa Tenggara Timur (NTT) sehingga perlu terus ditingkatkan kewaspadaan seiring dengan mulai masuknya musim kemarau,” katanya.

Apalagi dalam beberapa hari terakhir warga di wilayah Pureman Alor Nusa Tenggara Timur, Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Nggaha Ori Angu Kabupaten Sumba Timur dan Umbu Ratu Nggai Sumba Tengah serta Lebatukan Kabupaten Lembata, sempat terganggu dengan munculnya kabut asap karena kebakaran lahan.

Meki demikian, jumlah titik api itu menurut Bambang, berkurang jika dibandingkan tiga hari sebelumnya yang tercatat sekitar 15 titik panas tersebar di wilayah NTT.

Umumnya sebaran titik panas di NTT itu di Pulau Sumba, Pulau Timor dan Pulau Flores bagian Barat.

Sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan dan pihak pemda terkait antisipasi kabut asap, maka BMKG telah melakukan analisa awal terhadap perkembangan titik panas dan pergerakan kabut asap yang terdeteksi oleh Satelit cuaca seperti Terra, Aqua.

“Berdasarkan pengamatan Satelit Aqua dan Terra, jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (81-100 persen) di wilayah Propinsi Aceh yang terdeteksi selama 6 hari terakhir mengalami peningkatan dengan jumlah terbanyak pada tanggal 24 Juli 2017 dengan jumlah 7 titik panas,” katanya.

Meski demikian, kondisi cuaca tidak akan menyebabkan terjadinya kebakaran lahan/hutan, jika tidak ada faktor manusia yang melakukan pembakaran.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka BMKG menghimbau agar masyarakat tetap waspada namun tidak perlu terlalu cemas dan dihimbau untuk selalu mengikuti informasi terbaru BMKG.[Ant]

Lihat juga...