LOMBOK – Selain presean dengan mengadu ketangkasan menggunakan rotan, balapan kuda di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu pertunjukan yang banyak disukai masyarakat sebagai tontonan menarik.
Balapan kuda banyak disukai masyarakat, terutama pecinta kuda, selain menampilkan kuda pilihan yang tangkas dan memiliki kemampuan cepat, juga menghadirkan joki-joki cilik dari berbagai Kabupaten dan Kota di NTB.
Aksi heroik dan ketangkasan mereka (joki cilik) menjadi joki dari setiap kuda yang diikutkan dalam setiap arena perlombaan di lapangan pacuan kuda tidak jarang mengundang decak kagum penonton.
Seperti lomba balapan kuda di lapangan Bundar Praya, Kabupaten Lombok Tengah, hampir setiap hari Minggu selalu ramai oleh masyarakat yang datang hendak ikut lomba maupun sekedar datang ikut menonton lomba pacuan kuda.
“Kita hampir setiap hari Minggu datang ke lapangan Bundar Praya, baik sekedar latihan maupun lomba dengan pemilik kuda dari daerah lain”, kata Riki, warga Kelurahan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, di lapangan pacuan kuda Praya, Minggu (17/9/2017).
Namun, yang paling rutin dilakukan setiap hari Minggu adalah latihan, melatih kuda dan joki cilik supaya semakin terampil dan lebih cepat menjadi joki, sehingga ketika nanti ada perlombaan dalam skala besar di daerah lain maupun lapangan Bundar Peraya, sudah siap tanding.
Namun demikian, tidak jarang juga pemilik kuda dengan pemilik kuda lain melaksanakan lomba adu ketangkasan kuda masing-masing dengan main taruhan sejumlah uang. “Dipilihnya joki cilik dalam setiap kesempatan lomba, selain unik, joki cilik juga dinilai lebih tangkas menjinakkan kuda dan lebih ringan saat kuda sedang ikut dilombakan, dengan demikian lari kuda lebih cepat” katanya.
Rozikin, pemilik kuda lain, selama dirinya mengikuti jarang sekali bahkan tidak pernah ada lomba balapan kuda dengan joki orang dewasa, karena joki cilik selalu lebih menarik jadi bahan tontonan dalam setiap perlombaan.
Dalam setiap latihan atau perlombaan, baik di lapangan pacuan kuda Praya maupun daerah lain, tidak jarang terjadi transaksi jual beli kuda, antara pemilik kuda satu dengan pemilik kuda lain.
“Kalau kudanya bagus dan memiliki kecepatan lari tinggi, harga cukup mahal, mulai 200 sampai 400 juta per ekor, apalagi memang yang sudah teruji sering mendapat juara, harganya bisa lebih dari itu”, katanya.
Budi, salah satu joki asal Kota Praya, Lombok Tengah, mengaku menjadi joki bagi dirinya sudah biasa, karena di daerah asalnya sejak kecil sudah biasa bermain kuda. Meski demikian, diakuinya terkadang dirinya juga bisa merasa khawatir saat kuda berlari dalam kondisi cepat, takutnya tidak bisa dikendalikan atau takut terjatuh dari atas kuda.
“Ketika lomba saat kuda berlari kencang, kadang bisa jatuh kalau tidak berpegangan kuat, tapi lama-lama biasa juga dan tidak lagi terjatuh, apalagi kalau sudah sering diikutkan lomba dan jinak”, katanya.