Antar Arwah ke Nirwana, Puncak Ritual Pati Ea Long Sope di Boru Kedang Flotim
LARANTUKA — Puncak dari seluruh kegiatan ritual Pati Ea dalam sepekan di desa Boru Kedang Kecamatan Wulanggitang Kabupaten Flores Timur, Jumat (8/9/2017) diakhiri dengan mengantar arwah yang telah meninggal dunia ke rumah adat sekaligus syukuran atas panen yang berlimpah oleh masyarakat Boru Kedang khususnya suku Boruk.
Darius Don Boruk, yang juga empunya hajatan ini, sekaligus sebagai kepala desa Boru Kedang, yang ditemui media di sela-sela kegiatan menuturkan, ritual Pati Ea Long Sope untuk kali ini memiliki delapan Ramut atau jiwa jiwa yang akan diselamatkan, dimana setiap Ramut wajib memiliki satu hewan korban (babi).
masyarakat meyakini bahwa, setelah kematian arwahnya masih berada di sekitar keluarganya dan diyakini pula arwah belum bisa tenang layaknya di Nirwana, karena nya wajib melakukan ritus Pati Ea Long Sope.
“Dalam ritual ini yang duduk dalam area Nogar atau tempat ritual Pati Ea adalah tetua adat yang menjadi penanggung jawab dengan tidak memakan singkong, daun singkong, bahkan telur ayam selama masa hidupnya karena merakalah yang memegang roh anak suku yang masih hidup,” terangnya.
Sambil melakukan doa, Lire Wua atau makan sirih pinang, jelas Darius, tetua adat menyanyikan Bleka, untuk memanggil arwah leluhurnya dimana nyanyian Nleka adalah sebuah nyanyian yang tak bisa ditiru oleh siapapun walaupun orang terebut tahu menyanyikan karena belum dinobatkan sebagai tua adat.
Setelah ritus dilaksanakan, beber Darius, kehadiran arwah yang telah meninggal disimbolkan dengan sebuah cincin yang disimpan dalam Sope atau wadah yang terbuat darai anyaman Rotan atau Bambu yang telah tercampur dengan darah hewan korban.
Anton Gege Hadjon, Bupati Flores Timur yang juga ikut hadir dalam ritual tersebut menuturkan bangga dan senang bahwa ritual semacam ini masih terus dipelihara dan dilaksanakan oleh komunitas adat, khususnya di Boru Kedang yang berbatasan dengan kabupaten Sikka di ujung barat, sebab ritual ini merupakan salah satu ciri khas orang Lamaholot.
“Boru Kedang merupakan perpaduan dua budaya yang sangat berbeda antara Krowin, Sikka dan Lamaholot dan Boru Kedang selain memiliki budaya yang unik tapi juga memiliki destinasi wisata yang lain seperti air terjun “Wai Poar” yang kini dilirik wisatawan baik lokal maupun manca negara,” pungkas Anton.

Ritual Pati Ea berlangsung selama seminggu sejak tanggal 3 sampai 8 September 2017 dimana melibatkan suku Boruk baik dari lecamatan Wulanggutan dan lainnya di Flores Timur serta suku Boruk di kabupaten Sikka yang juga memiliki ritual serupa.