Aktivis Lingkungan Balikpapan Minta Moratorium Pembukaan Lahan Baru
BALIKPAPAN — Bencana banjir yang belakangan melanda Kota Balikpapan, membuat tidak nyaman warga sehingga keluhan pun muncul dari sejumlah warga. Kondisi yang terjadi di Balikpapan sudah jauh berbeda dengan kota 4-5 tahun lalu. Belakangan setiap hujan dengan intensitas tinggi air meluap ke jalan sehingga memasuki rumah warga. Bahkan titik banjir bertambah, dan semakin parah di mana daerah yang sebelumnya tidak banjir juga terkena dampak.
Aliansi Gerakan Tolak Banjir Balikpapan mengingatkan kepada Pemerintah Kota terhadap pengelolaan lingkungan. Karena pemerintah harus bertanggung jawab penuh terhadap persoalan banjir yang kerap terjadi di kota minyak.
“Blusukan saja tak cukup memberi solusi terhadap persoalan banjir di kota ini. Yang diperlukan aksi nyata, bagaimana cara agar tidak banjir lagi dan perbaiki lingkungan ini seperti dulu,” ungkap Koordinator Aliansi Gerakan Tolak Banjir, Yosep Wahyudi.
Ia mengusulkan akan menghentikan atau moratorium izin pembukaan lahan baru, menyusul banyak lahan baru dibuka untuk pembangunan perumahan. Karena persoalan banjir, sebagian aktifitas masyarakat lumpuh sehingga dinilai perlu melakukan moratorium izin pembukaan lahan baru.
“Seharusnya izin pembukaan lahan baru juga harus memperhatikan kondisi lingkungannya sesuai dengan aturan pemerintah seperti pembangunan bozem sebagai pengendali air hujan untuk tidak langsung ke jalan,” ucapnya Rabu, (6/9/2017).
Yosep juga meminta agar menindak tegas pengembang yang tidak ikuti aturan dan tidak memenuhi kewajibannya dalam membangun bozem. “Berikan sanksi kepada pengembang yang nakal. Kita ingin Balikpapan bebas dari banjir seiring pembangunan kota yang terus berjalan,” tegasnya.
Selain itu, untuk mewujudkan visi dan misi kota nyaman dihuni terkait bidang lingkungan agar segera merealisasikan program Ruang Terbuka Hijau (RTH). Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup RTH yang ada baru mencapai 50 an, dan ditargetkan 97 RTH.
Kabag pemerintahan Sekretariat Pemerintah Kota Balikpapan, Masrani mengatakan akan mengeluarkan moratorium pembukaan lahan baru. “Jangka pendeknya dalam penanganan banjir adalah membersihkan drainase dan mengeruk sedimen. Dan di musi hujan mengangkatan sedimen intens dilakukan,” ucapnya.
Hal yang sama juga dikatakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Balikpapan Tara Alorante, bahwa bahwa solusi banjir untuk jangka pendek adalah melakukan pengerukan sedimen di sejumlah drainase dan bendali yang agar mampu menampung air hujan yang lebih besar. Sehingga air tidak meluap ke jalan dam tidak menyebabkan banjir.
“Itu dulu sementara pengerukan sedimen di titik yang sering terkena banjir, dan fokus pengerjaan di Daerah Aliran Sungai Ampal. Pembebasan lahanpun terus dilakukan untuk normalisasi sungai Ampal,” terangnya.
Dia menambahkan anggaran pembebasan lahan sudah disiapkan untuk kawasan das sungai Ampal. Proses pembebasan lahan sudah ada di BPN dan apabila dapat diselesaikan maka perluasan segera dilaksanakan.
“Satu persatu kita selesaikan, persoalan pembebasan lahan telah berjalan satu tahun telah berjalan. Untuk tahun 2017 khusus normalisasi sungai Ampal sekitar Rp6 miliar, di mana anggaran itu untuk pembebasan lahan saja. Pengerjaan fisiknya belum, nanti kita lihat lagi DED-nya (Detail Engineering Design),” ujar Tara.
