CIREBON – Lebih dari tiga bulan ini, pengusaha kerajinan rotan yang berada di Desa Tegalwangi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kesulitan bahan baku. Untuk itu, Pemerintah diharapkan bisa mengatasi permasalahan tersebut.
“Kekosongan bahan baku ini sudah tiga bulan saya rasakan, begitu juga dengan pengusaha lainnya yang merasakan hal sama,” kata seorang pengusaha rotan, Solihin, di Cirebon, Kamis (3/8/2017).
Dia mengatakan, kekosongan ini bukan berarti tidak ada sama sekali rotan, akan tetapi kekosongan ini, karena salah satu jenis rotan yang dibutuhkan itu langka. Solihin menjelaskan, kebutuhan rotan untuk pabrik yang ada di Cirebon tidak hanya satu jenis saja, namun beragam jenis dan ukuran yang dibutuhkan.
“Misalkan sekarang ini kami sedang membutuhkan rotan dengan ukuran 22-32 mili meter, namun yang ada ukuran di bawah itu, jadi kita tidak bisa memproduksi kerajinan,” tuturnya.
Dengan kondisi yang terjadi sekarang ini, membuat para pengusaha kerajinan rotan kurang berani memenuhi permintaan pasar, sehingga membuat mereka kehilangan pelanggan dan kolega.
Menurutnya, bahan baku rotan itu tidak bisa diambil di satu tempat, namun harus mengabil di beberapa pulau di luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Dan itu pun kualitas dan ukurannya berbeda-beda. Dia mencontohkan untuk yang ukuran besar para pengusaha lebih memilih rotan dari Sulawesi, sementara untuk rotan yang kecil dipilih dari Kalimantan.
“Kalau dari Sumatera ada yang besar, namun itu kualitas tinggi dan tentunya harga juga mahal, untuk menjual kembali sulit,” katanya.
Solihon menambahkan, dengan situasi yang seperti sekarang ini seharusnya pemerintah ikut campur mengenai ketersediaan bahan baku rotan. “Pemerintah harus berani mengambil langkah, agar industri kerajinan rotan menggeliat kembali, kalau dulu kami tidak pernah mengalami hal seperti ini,” kata Solihin. (Ant)