Daeng Ngundu Setia Bertani

MAKASSAR — Wajah Daeng Nguntu (daeng atau Dg. dalam Suku Bugis artinya Kakak), nampak serius membersihkan bedengan sawah yang ada di Perumnas Antang Blok 8, Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggala. Daeng Ngundu bersama kelima temannya mengelola 3 Hektare lahan persawahan ini. Mereka masih tetap konsisten menjadi petani yang mengolah lahan persawahan yang berada di tengah-tengah perumahan.

Daeng Ngundu dan Upi. -Foto: Nurul

Sebagian lahan pertanian di Kelurahan Manggala telah digarap untuk melebarkan perumahan yang ada di Perumnas Antang. Akibatnya, lahan pertanian di Kelurahan Manggala ini mulai menyempit, karena deretan rumah-rumah di Perumnas Antang yang baru dibangun di Kelurahan Manggala ini.

Menurut Daeng Ngundu, lahan persawahan di Perumnas ini beda dengan yang dulu. “Ini dapat kita lihat dari rumah-rumah yang baru dibangun. Lahan persawahan di Perumnas ini sudah semakin menyempit”, ungkap Daeng Ngundu, Senin(21/8/2017).

Menurut Daeng Ngundu yang sudah menggarap lahan selama 40 tahun itu, penyempitahan lahan pertanian ini sudah terjadi sejak awal 2011, akibat luas pengembangan dan perluasan bangunan di Perumnas Antang. Dulu, katanya, ada sekitar 15 orang yang mengelola lahan persawahan di Kelurahan Manggala.

Setelah perluasan bangunan perumahan oleh pihak pengemban membuat lahan pertanian semakin menyempit, sehingga petani yang dulunya banyak yang mengelola lahan persawahan ini mulai berhenti menjadi petani.

Daeng Ngundu yang berusia 65 tahun ini masih tetap konsisten bersama tiga temannya untuk tetap bertahan menjadi petani. “Saya hanya menjaga lahan milik seorang haji yang tinggal di nipa-nipa. Sekali panen saya bisa menghasilkan 50 karung beras”, jelas Daeng Ngundu.

Untuk bagi upahnya, Daeng Ngundu biasa menggunakan sistem bagi hasil. Pemilik lahan mendapat 20 karung dan Daeng Ngundu mendapat 25 karung beras dalam sekali panen.

Cerita lain datang dari Upi, yang baru setahun menjadi petani yang mengelola lahan pertanian di Kelurahan Manggala ini. Upi yang pada awalnya seorang tukang bangunan beralih menjadi petani. Hal ini karena Upi tidak mendapatkan proyek atau panggilan.

Menurut Upi, daripada harus menganggur, sedangkan kebutuhan istri dan anaknya terus berjalan, akhirnya dirinya memutuskan menjadi petani. “Sekali panen, dirinya mendapat 10 karung beras, 7 karung untuk saya dan 3 karungnya untuk sang pemilik lahan, lumayan untuk memenuhi kebutuhan”. tutup Upi.

Lihat juga...