BEKASI – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyatakan masyarakat miskin di daerahnya hingga 2017 ini terbilang tidak stabil. “Saat ini, masyarakat miskin sudah mencapai 520.000 jiwa,” kata Kepala Dinsos Kabupaten Bekasi, Edi Rochyadi, di Bekasi, Jumat (18/8/2017).
Menurut dia, angka kemiskinan itu fluktuatif dikarenakan berbagai penyebab, salah satunya adanya pemutusan hubungan kerja pada setiap perusahaan daerah setempat. Tentunya angka tersebut tidak dapat dipakai untuk acuhan, dikarenakan setiap harinya masih mengalami peningkatan maupun penurunan.
Dalam hal ini, juga mengacu pada ketidakmampuan masyarakat untuk berusaha mandiri menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Namun, ini akan terus dilakukan pemantauan, agar data ini dapat menarik dari setiap masalah menjadikan solusi. Dan, sebagai bahan evaluasi hingga pemetaan dasar pemerintah daerah, agar pemajuan dengan meningkatkan sumber daya manusia dapat dirasakan secara merata.
Ia menambahkan, dalam hal ini juga sebagai salah bentuk upaya, agar masyarakat miskin dapat kembali bekerja, agar lebih menjamin kehidupan sehari-hari. Dalam upaya peningkatan mutu dan kreativitas mandirinya terus dilakukan sinergisitas dengan sosialisasi maupun pelatihan, guna memberikan solusi terbaik bagi masyarakat.
Upaya itu adalah salah satu program pemerintah daerah, agar pengusaha lebih mengutamakan kualitas dengan mengangkat tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Ini adalah salah satu cara, agar masyarakat dapat berjalan lebih baik dalam segi ekonomi sehari-harinya.
Edy juga menjelaskan, dalam hal ini juga melakukan pelatihan kreativitas agar masyarakat juga jauh lebih baik dan mampu bersaing dengan yang lain. Bentuk apresiasi tersebut menyediakan berbagai fasilitas, agar masyarakat dapat memanfaatkan bahan-bahan pada sekitarnya untuk dijadikan produk unggulan. “Ini tentunya perlu pengkajian bersama dalam menciptakan peluang usaha kecil dan menengah dalam menjawab pertanyaan masyarakat”, katanya. (Ant)