Diburu Kolektor Bonsai, Warga Bakauheni Lindungi Kayu Sentigi, Pencegah Abrasi

LAMPUNG – Permintaan akan kayu Sentigi atau disebut Santigi sebagai bahan pembuatan tanaman hias jenis bonsai atau tanaman hias taman cukup meningkat akhir-akhir ini.

Berimbas beberapa pemburu tanaman kayu tersebut melakukan proses perburuan hingga ke Pulau Kandang Lunik, Pulau Sekepol, dan Pulau Sindu yang berada di wilayah perairan Bakauheni. Perburuan juga dilakukan di beberapa wilayah pantai yang masih memiliki cukup banyak tanaman Sentigi salah satunya di Penobakan, Pegantungan hingga ke Dusun Sukarame Kecamatan Bakauheni.

Bambang Nuraini Salam (37), warga Dusun Sukarame sekaligus pengelola dan penanggung jawab destinasi wisata Tanjung Tua Pasir Putih menyebut, para pemburu kayu Sentigi bahkan membawa peralatan lengkap di antaranya sekop, cangkul, golok dan gergaji dengan kendaraan pengangkut. Pada awalnya, warga tidak berdaya melarang proses pencarian tanaman kayu Sentigi yang banyak tumbuh di areal batu karang berpasir di tepi pantai hingga akhirnya wilayah tersebut mulai meranggas.

“Awalnya kami tidak bisa mencegah namun karena tanaman Sentigi semakin langka dan imbas pencarian besar-besaran tanaman tersebut sebagai bonsai, pantai di dusun kami pun rusak sehingga kami sepakat melindungi pohon tersebut. Caranya mengelola menjadi kawasan wisata,” terang Bambang Nuraini Salam, warga Dusun Sukarame, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, yang juga pengelola dan penanggung jawab Pantai Tanjung Tuha Pasir Putih saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (28/8/2017).

Harga yang menggiurkan bakalan bonsai dari kayu Sentigi hingga mencapai ratusan ribu per batang bahkan bisa jutaan jika sudah dalam kondisi menjadi bonsai, serta beberapa manfaat kesehatan dan magis yang dipercaya masyarakat, membuat kayu tersebut diburu tanpa memperhatikan dampak kerusakan lingkungan pantai. Bambang menyebut, vegetasi tanaman pantai yang banyak tumbuh bersama kayu Sentigi di antaranya kayu Bakau atau mangrove, kayu api-api, kemiri laut dan tanaman lain juga ikut rusak saat proses pencarian tanaman tersebut dilakukan.

Beberapa titik di pantai Tanjung Tuha Pasir Putih masih menyisakan bekas sisa proses pencarian kayu Sentigi yang dipangkas, digali, sebagian ditebang hanya untuk memperoleh bagian unik dari akar serta batang untuk berbagai keperluan. Utamanya sebagai bahan pembuatan bonsai. Sejak tahun 2013, Bambang menyebut, dampak kerusakan tersebut mulai diminimalisir akibat kerusakan yang terjadi di sekitar pantai. Di antaranya abrasi yang semakin besar akibat pencarian kayu Sentigi.

Upaya konservasi wilayah pantai pun terus dilakukan seiring dengan adanya Kelompok Sadar Wisata Tanjung Tuha dengan Kelompok Kerja Tanjung Tuha Pasir Putih yang melakukan proses pelarangan perburuan pohon Sentigi atau dikenal juga dengan nama ilmiah Pemphis Acidula. Termasuk jenis-jenis pohon lain yang memiliki fungsi penahan abrasi pantai dan sungai. Beberapa pohon Sentigi dan pohon bakau yang dipertahankan tidak dijamah juga mulai diberi tanda-tanda khusus berupa papan larangan untuk tidak merusak serta sanksi denda bagi yang melanggar. Apalagi sampai merusak pohon-pohon Sentigi di kawasan Pantai Tanjung Tuha Pasir Putih.

“Sebagian besar tanaman yang tersisa sudah kita rapikan dan dibentuk menjadi taman alami di pantai ini, sekaligus tanda larangan dan sanksi agar tidak dirusak. Kami juga sudah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum soal aksi perusakan alam di wilayah kami,” terang Bambang.

Kawasan pantai sekaligus sungai yang sudah ditata dan kesadaran masyarakat untuk tidak merusak tanaman mangrove di kawasan tersebut juga akhirnya membuat kawasan mangrove tidak dirusak. Sumber penghasilan warga dari sektor wisata pun mulai meningkat. Penataan bibir pantai dengan pembuatan tanggul alami dari batu karang jahe sekaligus penanaman bibit mangrove serta Sentigi diharapkan Bambang mampu mempertahankan kawasan tersebut sebagai taman alami tanaman Sentigi dan mangrove.

Johan, salah satu warga Dusun Sukarame menyebut, warga juga memiliki kesadaran tidak membuang sampah ke sungai yang bermuara ke pantai. Salah satu hasilnya, birunya laut yang mengalir hingga sungai dipadukan dengan pepohonan mangrove dan Sentigi masih cukup terlihat, menjadi daya tarik khas pantai Tanjung Tuha Pasir Putih.

“Peralihan warga yang semula merusak menjadi memelihara seiring dengan manfaat hijau dan bersihnya pantai menjadi destinasi wisata, menjadikan perburuan Sentigi tak lagi ada. Sumber pendapatan lain pun bisa diperoleh,” ungkap Johan.

Ia juga menyebut, perburuan pohon Sentigi dan pohon lain sebagai bahan bonsai telah disadari masyarakat merusak lingkungan dan hanya menguntungkan pihak lain. Sementara menjaga pepohonan di kawasan pantai justru menguntungkan warga secara berkelanjutan. Tumbuh suburnya tanaman mangrove serta tanaman Sentigi merupakan habitat alami bagi ikan-ikan yang juga masih ditangkap secara alami. Menggunakan pancing dan bubu oleh warga setempat.

Pepohonan Sentigi dan mangrove tumbuh subur di kawasan Pantai Tanjung Tuha Pasir Putih. [Foto: Henk Widi]

 

Lihat juga...