LEBAK – Produksi beras yang dikembangkan kelompok tani di Kabupaten Lebak, Banten, ditampung Toko Tani Indonesia (TTI) untuk dijual ke wilayah Tangerang dan Jakarta.
“Kami berharap produksi beras itu dapat mendongkrak pendapatan ekonomi petani,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak, Kosim Ansori, saat menggelar pertemuan dengan gabungan kelompok tani (gapoktan) di Lebak, Selasa (1/8/2017).
Selama ini, produksi beras di Kabupaten Lebak mengalami surplus sehingga bisa memenuhi permintaan pasar luar daerah. Produksi beras itu menjalin kerjasama dengan 18 gapoktan dengan TTI yang ditargetkan mampu menampung 50 ton per gapoktan.
Dari 18 gapoktan itu, bisa memasok beras medium ke TTI sebanyak 9.000 ton per tahun dengan harga Rp7.700 per kilogram. “Kami yakin produksi beras itu bisa meningkatkan kehidupan petani menjadi lebih baik,” katanya.
Menurut Kosim, petani sangat diuntungkan dengan kehadiran TTI, karena bisa memutuskan mata rantai pendistribusian harga hasil pertanian. Saat ini, produksi beras petani tidak dijual lagi ke tengkulak maupun penampung. Petani lebih memilih menjual ke TTI, karena margin atau keuntungan cukup dirasakan oleh petani.
“Kami berharap gapoktan terus meningkatkan produksi beras untuk kesejahteraan,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Dede Supriatna, mengatakan saat ini harga beras yang ditampung TTI sebesar Rp7.700 per kilogram. Keberadaan TTI di Kabupaten Lebak berkembang di tujuh kecamatan, antara lain Rangkasbitung, Bayah, Warunggunung, Banjarsari, Cibadak dan Gunungkencana.
Produk komoditas pertanian itu adalah menyediakan beras, sayur-sayuran dan buah-buahan, termasuk pepaya california. Selain itu, juga produksi pertanian lokal ditampung oleh Asosiasi Pasar Tani (Aspartani) dan dijual ke Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang.
“Kami berharap TTI dan Aspartani itu dapat memutuskan tata niaga harga pertanian yang bisa menguntungkan petani, sebab saat ini harga produk pertanian sangat sedikit meraup keuntungan bagi petani dibandingkan pedagang,” ujar dia.
Ia juga mengatakan, bahwa pihaknya secara rutin menggelar dagangan hasil produk pertanian dengan mendirikan tenda pada kegiatan car free day atau hari bebas kendaraan yang dilaksanakan setiap akhir pekan.
Kegiatan itu, kata dia, mengundang pengunjung untuk membeli kebutuhan beras, sayur-sayuran, ubi, dan cabai. Saat ini, kata dia, produk komoditas pertanian jenis sayur-sayuran, palawija, dan beras hingga menembus wilayah Jabotabek. “Kami memberikan apresiasi kepada gapoktan yang mampu memproduksi komoditas pertanian dan bisa menjadikan pendapatan tetap,” ujarnya.
Ketua Aspartani Kabupaten Lebak, Arsad, mengatakan, bahwa pihaknya selama ini menjalin kerjasama dengan Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang, untuk menampung produk pertanian lokal. Kerjasama ini tentu menguntungkan petani, karena mereka menjual komoditas pertanian tidak kepada tengkulak.
“Kami merasa terbantu melalui kerjasama itu, karena bisa meningkatkan pendapatan ekonomi petani,” katanya. (Ant)