Akses Jalan Diperbaiki, Mudahkan Siswa ke Sekolah

LAMPUNG – Pembangunan infrastruktur jalan bagi masyarakat menggunakan dana desa sebagai sarana distribusi serta transportasi barang dan manusia ikut memberi dampak positif bagi aktivitas siswa sekolah. Salah satunya bagi siswa SD dan SMP di Kecamatan Penengahan.

Menurut salah satu tokoh masyarakat di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan, Suroto, akses jalan rigid beton yang dibangun beberapa pekan lalu kini mulai dilintasi oleh masyarakat serta siswa sekolah. Sebagian siswa yang sebelumnya melakukan aktivitas ke sekolah melewati jalan berlumpur saat musim hujan dan berdebu saat musim kemarau, kini sudah bisa menikmati fasilitas jalan yang lebih memadai.

Menurut Suroto, sebagian siswa sekolah bahkan mulai bisa menggunakan sepeda kayuh untuk berangkat ke sekolah dan bagi siswa yang berlangganan kendaraan antar jemput khususnya siswa SMP, kendaraan angkutan pedesaan sudah bisa mengantar jemput siswa hingga ke depan rumah. Meski demikian, ia berharap jembatan gantung yang mulai rusak sebagai akses warga bisa segera diperbaiki menjadi jembatan permanen agar bisa dilintasi masyarakat menggunakan kendaraan roda empat.

“Akses jalan desa sudah dibuat rigid beton namun terputus sebuah sungai yang dihubungkan dengan jembatan gantung terbuat dari kayu dan besi sehingga siswa sekolah harus ekstra hati-hati saat melintas,” terang Suroto, salah satu warga sekaligus tokoh masyarakat di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan saat berbincang dengan Cendana News, Kamis (24/8/2017).

Selain memudahkan para siswa untuk melakukan aktivitas ke sekolah dengan adanya perbaikan jembatan penghubung antardusun tersebut, masyarakat juga tidak perlu menggunakan akses yang lebih jauh, sekitar dua kilometer melewati akses jalan lain yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Rizal, salah satu siswa kelas enam SDN Sukabaru yang selama lima tahun sebelumnya harus berangkat ke sekolah dengan cara melepas sepatu akibat jalanan yang berlumpur saat hujan mengaku, kini dirinya tak perlu melepas sepatu dengan adanya jalan rigid pavement. Beberapa temannya bahkan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda tanpa harus khawatir baju serta perlengkapan sekolah terciprat oleh lumpur saat musim hujan.

“Sekarang kami kadang-kadang melepas sepatu saat pulang atau berangkat sekolah karena ingin merasakan berjalan di atas jalanan semen. Tapi sebelumnya melepas sepatu sebab takut kotor, baru nanti cuci kaki di sekolah,” ungkap Rizal.

Sejumlah siswa SMP yang memiliki kendaraan angkutan pedesaan antar-jemput sebelumnya hanya diantar oleh kendaraan di tepi Jalan Lintas Sumatera karena kendaraan pengantar tidak bersedia masuk ke perumahan warga. Akibat akses jalan yang rusak terutama pada musim hujan. Sebagian siswa yang berlangganan kendaraan angkutan ke sekolah bahkan harus menggunakan jasa ojek menunggu di tepi Jalan Lintas Sumatera pada jam keberangkatan yang ditentukan setiap pagi.

Berbeda dengan siswa di Sukabaru, sejumlah siswa di SMPN 1 Penengahan melakukan aktivitas ke sekolah menggunakan sepeda motor setiap hari dengan akses jalan yang sudah cukup baik di sejumlah desa. Anggi, siswa kelas VII menyebut, dirinya diizinkan orang tuanya membawa kendaraan roda dua ke sekolah karena tidak ada fasilitas ojek dan angkutan pedesaan.

Ia menyebut, saat ini pihak sekolah mengeluarkan larangan siswa memarkirkan kendaraan roda dua di lingkungan sekolah sehingga para siswa memilih memarkirkan kendaraan roda dua yang mereka miliki di sejumlah tempat penitipan kendaraan roda dua yang disediakan warga.

“Kami yang tinggal di seberang jalan tol Sumatera saat ini harus berjalan memutar sehingga solusinya kami diizinkan membawa kendaraan roda dua ke sekolah meski tidak diizinkan parkir di dalam area sekolah,” ungkap Anggi.

Kasianto, pemilik jasa penitipan kendaraan tak jauh dari SMPN 1 Penengahan mengaku, larangan siswa membawa dan memarkirkan kendaraan di sekolah tersebut sudah lama diberlakukan. Meski demikian, banyak siswa yang masih membawa kendaraan untuk aktivitas di sekolah dengan menitipkan kendaraan di lokasi penitipan milik warga berbiaya Rp2 ribu per kendaraan. Sehari di lokasi parkir sekaligus tempat penitipan kendaraan, dirinya mengaku rata-rata mendapat sebanyak 40 kendaraan roda dua. Sementara di lokasi lain bisa mencapai ratusan kendaraan.

Meski akses jalan di sejumlah pedesaan sudah cukup bagus dengan penyedia jasa ojek kendaraan roda dua yang sudah banyak, diakui Kasianto, sebagian siswa dengan seizin orang tua memang diperbolehkan membawa kendaraan roda dua untuk melakukan aktivitas ke sekolah.

Sebagian siswa SMPN 1 Penengahan yang tinggal dekat dengan sekolah memilih berjalan kaki untuk aktivitas ke sekolah. [Foto: Henk Widi]

 

 

Lihat juga...