Tiga Daerah di Sumbar Masih Berada pada Blank Spot Area
PADANG — Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumatera Barat (Sumbar) Yeflin Luandri mengatakan masih ada tiga daerah yang masih berada di kawasan tidak ada sinyal (blank spot area). Tiga daerah itu, Kabupaten Solok Selatan, Pasaman Barat, dan Kepulauan Mentawai.
Yeflin menyebutkan tidak disemua tempat di tiga daerah tersebut yang tidak memiliki sinyal komunikasi. Berdasarkan pendataan di lapangan, untuk daerah Kabupaten Solok Selatan ada tujuh titik yang masih blank spot area, yang berada disejumlah kecamatan. Kabupaten Pasaman Barat ada 12 titik yang juga tersebar disejumlah kecamatan dan nagari. Lalu, untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai masih cukup banyak blank spot area nya, yakni terdapat di 22 titik yang tersebar di sejumlah kecamatan dan nagari.
“Tiga daerah tersebut sebenarnya juga merupakan daerah tertinggal, terpencil, dan terluar. Sehingga permasalahan yang dihadapi tidak hanya soal komunikasi, tetapi juga terkait kebutuhan listrik, infrastruktur, dan akses kesehatannya,” ucapnya, Minggu (9/7/2017).
Menurutnya, data-data dari sejumlah titik yang masih termasuk blank spot area itu, telah diserahkan ke Kementerian Kominfo, karena nantinya akan ada upaya dari pihak Kementerian Kominfo untuk menyediakan seperti tower dan yang lainnya, sehingga akses komunikasi bisa dirasakan oleh masyarakat ditiga daerah tersebut.
Dikatakannya, ditahun 2017 ini Kementerian Kominfo akan melakukan pemasangan tower di daerah-daerah yang masih termasuk blank spot area. Karena di Indonesia ini ada Pelapa Ring Barat dan Pelapa Ring Timur
“Pelapa Ring Timur itu pada bagian Papua, Selawesi dan sejajarannya. Sementara yang Pelapa Ring Barat itu, termasuk Sumatera,” ungkapnya.
Ia menegaskan, berdasarkan target dari Kementerian Kominfo mulai 2017 hingga 2018 mendatang untuk kawasan Pelapa Ring Barat sudah bisa menikmati akses komunikasi yang bagus, dan tidak ada lagi blank spot area. Artinya, Kepulauan Mentawai akan masuk dalam target tersebut, dan satu hingga dua tahun mendatang Mentawai sudah bisa menikmati akses komunikasi yang bagus.
Yeflin juga menjelaskan, saat ini Kementerian Kominfo bersama Kementrian Desa tengah menyusun konsep untuk hotspot atau wifi di nagari. Nanti kemungkinan akan ada kebijakan, Kementerian Kominfo menyerahkan wewenang hotspot itu ke daerah yakni ke nagari-nagari.
Sehingga, dengan adanya konsep itu, mulai dari nagari atau desa, sudah bisa menikmati akses internet melalui hotspot tersebut. Tentunya, beriringan dengan itu, akan diaktifkannya kembali KIM (Kelompok Informasi Kampung).
“Bisa juga nanti ada kemungkinan, dana desa yang ada disetiap nagari itu, bisa digunakan untuk pengadaan hotspot tersebut. Mengingat dana desa itu juga bertujuan untuk memajukan desa atau nagari,” ucapnya.
Ia menilai, apabila seluruh daerah khusus di Sumbar ini telah menikmati akses komunikasi dan internet, maka juga akan turut mempermudah masyarakat di desa untuk mendapatkan informasi-informasi melalui internet. Selain itu juga bisa melakukan layanan secara internet, seperti yang pengurusan bayar pajak, KTP, KK, pendaftaran anak untuk kuliah, dan banyak hal lainnya.
“Jadi, dengan demikian tidak perlu lagi datang berdesakan untuk mengurus sesuatu hal secara manual ke suatu instansi,” tegasnya.
Yeflin juga menyebutkan jika melihat kepada masa lalu, yakni pada tahun 1976 itu hanya tiga negara di dunia ini yang bisa menikmati pantulan dari setelit itu, yakni Kanada, Amerika, dan Indonesia. Sehingga waktu itu, cukup banyak negara yang membayar ke Indonesia untuk menikmati akses komunikasi ikasi tersebut.
Sehingga di era sekarang pemerintah terus berbupaya agar Indonesia ini benar-benar tidak ada lagi daerah yang tidak memiliki sinyal komunikasi tersebut.